Oleh: A. Rilo Budiman, S.H., M.H., CPCM
Ketua Ikatan Lawyers UNSRI
MITRAPOL.com, Palembang — Pengetahuan dan kemampuan menyampaikan pendapat merupakan hal penting dalam kehidupan sosial maupun profesional. Namun, ilmu dan kecakapan berbicara perlu disertai etika serta adab. Tanpa keduanya, pesan yang sebenarnya baik dapat menimbulkan salah persepsi, memicu perdebatan, bahkan melukai pihak lain.
Karena itu, seseorang tidak cukup hanya memahami apa yang hendak disampaikan. Ia juga perlu mengetahui bagaimana cara menyampaikannya, kepada siapa pesan tersebut ditujukan, serta kapan dan di mana waktu yang tepat untuk berbicara.
“Sebelum bicara lebih jauh tentang sesuatu hal, minimal tahu cara dan tahu tempat. Minimal itu dulu.”
Pesan tersebut mengandung pengingat sederhana, tetapi penting: kebenaran tetap membutuhkan cara penyampaian yang tepat. Niat baik akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan bahasa yang santun, sikap yang menghargai, dan situasi yang sesuai.
Ilmu Perlu Diiringi Etika
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan itu seharusnya menjadi ruang untuk berdialog, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Di sinilah adab memiliki peran penting. Ada batas yang harus dipahami antara kritik dan penghinaan, antara menyampaikan pendapat dan menghakimi, serta antara berbicara berdasarkan ilmu dan berbicara tanpa memahami persoalan secara utuh.
Seseorang yang memiliki pengetahuan seharusnya mampu menyampaikan pandangan berdasarkan fakta, argumentasi, dan pertimbangan yang matang. Sebaliknya, pendapat yang disampaikan secara terburu-buru, emosional, atau tanpa memahami konteks justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
“Kalau ingin dimengerti, belajarlah mengerti. Kalau ingin didengar, belajarlah mendengar. Bicara ilmu harus tahu cara, bicara adab jangan dibolak-balik.”
Kalimat tersebut mengingatkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang kesediaan mendengarkan. Orang yang ingin pendapatnya dihargai harus terlebih dahulu belajar menghargai pendapat orang lain.
Kritik Harus Tetap Bermartabat
Kritik merupakan bagian penting dalam proses perbaikan. Kritik dapat membantu seseorang, lembaga, maupun organisasi melihat kekurangan dan menemukan solusi. Namun, kritik akan kehilangan nilai apabila disampaikan dengan cara merendahkan, mempermalukan, atau menyerang pribadi.
Kritik yang baik semestinya berangkat dari persoalan, bukan kebencian terhadap orangnya. Kritik juga perlu disampaikan dengan argumentasi yang jelas, bahasa yang proporsional, dan tujuan untuk memperbaiki keadaan.
Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Justru melalui perbedaan yang dikelola dengan baik, seseorang dapat memperluas sudut pandang dan memahami persoalan secara lebih utuh.
Ilmu memberikan dasar bagi seseorang untuk berbicara. Adab mengajarkan bagaimana, kapan, dan di mana ilmu itu disampaikan.
Dengan demikian, ilmu dan adab tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar pengetahuan dapat memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan keresahan.
Menempatkan Perkataan Secara Bijaksana
Kemampuan seseorang tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak ilmu yang dimilikinya atau seberapa hebat ia berbicara. Kualitas seseorang juga terlihat dari cara menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu menunjukkan apa yang kita ketahui. Sementara itu, adab menunjukkan bagaimana kita menghargai apa yang kita ketahui.
Orang berilmu belum tentu beradab. Namun, orang yang memiliki ilmu sekaligus adab akan memahami kapan harus berbicara, bagaimana menyampaikan pendapat, serta kapan perlu memilih untuk menahan diri.
Menahan diri bukan berarti takut menyampaikan kebenaran. Menahan diri merupakan bentuk kebijaksanaan agar kebenaran tidak disampaikan dengan cara yang keliru atau pada tempat yang tidak semestinya.
Pada akhirnya, perkataan yang baik bukan hanya perkataan yang benar, tetapi juga perkataan yang disampaikan dengan cara yang tepat. Sebab, kualitas seseorang bukan hanya terlihat dari seberapa hebat ia berbicara, melainkan dari seberapa bijak ia menempatkan setiap perkataannya.












