Benarkah Walikota dan Wakil Belum Kunjungi Warga yang Mengungsi?

oleh
Hartini (45) salah satu pengungsi di Lapangan Watulemo, depan Kantor Wali Kota Palu

MITRAPOL, Palu – Di tempat pengungsian lapangan Watulemo, tepat di depan kantor Walikota Palu, Sulawesi Tengah, keluhan pengungsi antara Balai Kota Palu dan rumah Wakil Wali Kota Sigit Purnomo bermacam- macam, dari air mineral sampai susu anak-anak.

“Masa kalu mau ambil air mineral saja harus menyetor KTP atau kartu KK,” ujar salah satu pengungsi, Hartini (45) di Lapangan Watulemo, Rabu (10/10).

Hartini mengatakan, untuk meminta air mineral kemasan gelas dia harus dan diwajibkan menyetor Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) biar bisa dapat bantuan.

Rumah Hartini di Kampung Petobo tertelan lumpur hingga 10 meter tapi dirinya tetap diwajibkan membawa KK dan KTP untuk syarat mengambil air.

“Rumah saya di Petobo dan semua orang tahu di kampung kami terkena tsunami lumpur dan tanah, rumah kami terkubur, masa masih minta KTP,” lanjut Hartini.

Hartini dan suami, Bernat (50) bersama empat anak hanya selamatkan pakaian di badan, akibat lumpur yang tiba-tiba keluar dari dalam tanah usai gempa.
Menurut Hartini, seharusnya petugas bisa berlaku adil atau melihat kondisi ini dengan kaca mata kemanusiaan, bukan cara atau sistem birokrasi berbelit-belit.

“Kami harap pemerintahan maupun petugas melihat kami ini sebagai pengungsi bukan sebagai pengemis, kita butuh masih mau hidup pak,” Selain susahnya mendapat air mineral, para pengungsi juga berharap bantuan berupa beras, popok bayi,obat-obatan, dan pakaian setidaknya diadakan .” Kata ibu hartini kepada awak media.

Diketahui, selama para pengungsi di Lapangan Watulemo belum juga melihat wali kota, wakil walikota mengunjungi pengungsi. Kata salah satu pengungsi, setidaknya kepala daerah dan pemerintahan di Palu dan Sulteng bisa mendengarkan keluhan para pengungsi usai bencana ini.

efrizal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *