Batasi Pemanasan, APIK Indonesia  Desak Penguatan Kemitraan Global

oleh

MITRAPOL, Jakarta – Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia, mendesak Penguatan Kemitraan Global Untuk Membatasi Pemanasan Global yang Kurang dari 1.50 C. Upaya membatasi pemanasan global kurang dari 1.50 C membutuhkan perubahan nyata pada berbagai  aspek kehidupan  masyarakat, dan  tentunya  berimplikasi  pada  strategi nasional implementasi NDC Indonesia.

Batasi Pemanasan, APIK Indonesia  Desak Penguatan Kemitraan Global

Demikian disebutkan  Ketua Umum (Ketum) APIK Indonesia Network,   dalam rilisnya,  Kamis  (10/10 2018).

Dinyatakan,  bahwa berbagai perbedaan tingkat transisi hutan, karakteristik ekologis antar pulau, disparitas ekonomi antar wilayah, dan perbedaan kondisi demografi serta dampaknya pada lingkungan, seperti kebutuhan air, pangan, dan energi, perlu menjadi pertimbangan,  dalam menterjemahkan hasil  the Special  Report on Global  Warming of 1.50 C (SR15) di tingkat  nasional maupun subnasional.

Berdasarkan dokumen First Nationally Determined Contribution (NDC), pada kondisi business as usual (BAU) emisi gas rumah kaca (GRK) mencapai 2,869 giga ton CO 2e (equivalent) ditahun 2030,  atau dengan pertambahan emisi tahunan sebesar 5% untuk periode 2010-2030. Total emisi GRK diproyeksikan berkurang menjadi 2,034 giga ton CO 2e (reduksi 29% dari BAU) untuk unconditional mitigation scenario dan 1,787 giga ton CO 2e (reduksi 38% sampai dengan 41. dari BAU) dengan conditional mitigation scenario. .Dimana NDC Indonesia terdiri atas 5 NDC sektor, yaitu  energi, sampah, industrial process  and product uses (IPPU), pertanian dan kehutanan.

Total reduksi emisi yang ditargetkan pada tahun 2030 yaitu 0,834  giga ton CO 2e
(29%) untuk unconditional mitigation scenario dan 1.081 giga ton CO 2e (38% sampai dengan 41%) dengan conditional mitigation scenario .Target reduksi emisi dalam implementasi NDC pada  periode  2020-2030  memiliki  berbagai  tantangan  baik  pada  tingkat  nasional  dan subnasional.

Laporan The Third National Communication (TNC) of Republic of Indonesia mencatat bahwa total emisi CO 2e di tahun 2014 sebesar 1,844 giga ton, atau setara dengan pertambahan emisi tahunan sebesar 13%/tahun pada periode 2010-2014, lebih tinggi dari perkiraan 5%/tahun untuk kondisi business as usual .

Sebagai konsekuensinya, pada periode tahun 2015-2030, Indonesia perlu menjaga agar laju emisi GRK tahunannya berada pada tingkat 1% untuk mencapai target unconditional scenario dengan reduksi sebesar 29%. Sedangkan untuk mencapai target reduksi emisi 41% dibutuhkan laju emisi GRK sebesar -1% (minus 1%) dalam conditional scenario.

Artinya, puncak emisi GRK nasional perlu tercapai pada periode implementasi NDC di tahun 2020-2030 untuk mampu berkontribusi pada upaya membatasi pemanasan global kurang dari 1.50 C. Menggeser “beban” sektor kehutanan pada sektor energi dalam NDC Indonesia akan  menjadikan upaya yang lebih besar dalam pengendalian perubahan iklim menjadi rasional. disisi lain, restorasi ekosistem hutan jelas memberikan manfaat pada masyarakat, antara lain menjaga keanekaragaman hayati, menjaga dan memperbaiki sumber daya alam serta jasa lingkungan.

Mempertim bangkan tantangan saat ini dan yang akan datang dalam menghadapi beberapa tahun kedepan yang  sangat penting  bagi umat  manusia,  pemerintah  Indonesia bersama  seluruh pemangku kepentingan perlu membangkitkan kesadaran dan meningkatkan kapasitas nasional dan subnasional dalam menghadapi perubahan iklim.

Para ahli perubahan iklim Indonesia juga mendesak penguatan kemitraan global terutama untuk mendukung negara berkembang dalam implementasi NDC dalam konteks Paris Agreement.

Desy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *