Jimly Asshidiqie Hadiri Tradisi Umat Khonghucu di Vihara Virti

  • Whatsapp

MITRAPOL, Jakarta – Calon Legislatif Dewan Perwakilan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Jimly Asshiddiqie bersama Daenk Jamal ketua Garda Bintang Timur beserta pasukan Garda Bintang Timur hadiri Perayaan Tahunan kebudayaan agama Konghucu di wihara Virti Villa Kapuk Mas.

Dalam sambutannya, Jimly Asshiddiqie mengucapkan selamat ulang tahun untuk 9 Raja dan ia mendukung adanya acara yang digelar tiap tahun ini.

Jimly juga berpesan kepada hadirin yang ada untuk menciptakan keharmonisan dan kekeluargaan dalam beragama dalam Bangsa ini khususnya ditempat ini.

“Semoga keharmonisan dan meragam umat beragama ini bisa terus dijaga. Janganlah kita saling provokator antar agama yang memecah tali persaudaraan antar umat beragama karena kita hidup di negara yang berasaskan kebhinneka tunggal Ika,” katanya.

Perayaan Tahunan kebudayaan agama Konghucu ini merupakan perayaan Hari Lahir 9 Raja diadakan setiap 1 tahun sekali dan selama 9 hari dan Virti 9 Raja yang selalu diadakan setiap bulan September menurut bulan Chinese diselenggarakan oleh ketua umum yayasan Wihara Virti Mr. No Stop atau Ahan.

Mr No Stop menjelaskan dan mengatakan Kegiatan terdiri dari Acara sembayang dan hiburan. Adapun yang hadir pada acara tersebut diantaranya ketua umat Budha di Kel Kapuk Muara Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara.

“Hanya beberapa wihara yang mengadakan acara tahunan seperti ini,” ucap Mr No Stop atau Ahan.

Filosofi dari pembakaran itu artinya hanya sembahyang yang turun temurun. Dilakukan oleh para penerus keluarga keturunan yang menganut ajara Konghucu.

Suryadi salah satu pengurus acara perayaan mengatakan bahwa acara ini bukan sekedar sembahyang saja, namun sudah menjadi turun temurun.

“Kita ikut di acara semua ini untuk sembayang, kita bukan kayak biksu, jadi ini hanya tradisi turun temurun saja.. Dan umat nya juga sebatas keluarga tradisi di bulan 9 ndan tradisi internasional di bukan Oktober,” jelas Surya.

Saat disinggung mengenai perayaan ini Sembahyang Leluhur Antara Tradisi Agama atau Budaya, ia menjelaskan, berkaitan dengan sembahyang sebagai tradisi agama, karena Konghucu sangat  memperhatikan kerukunan sesama penganut Baik itu untuk yang hidup ataupun sudah meninggal. Setiap upacara memakai kesusilaan, demikian pula dengan upacara kematian.

Bagi umat Konghucu, sembahyang merupakan hal pokok atau akar dari agama. Konghucu menuntun umatnya untuk senantiasa hormat dan menjalankan ibadah sebagaimana mestinya. Termasuk juga dengan penggunaan sesajen setiap sembahyang.

Menyajikan makanan, sambungnya, salah satu bentuk pernyataan kasih anak yang berduka kepada leluhur. Jika orang kurang mampu, lebih diutamakan menyajikan sesaji dengan sederhana. Bahkan dalam ajaran Konghucu, sembahyang dan sesaji lebih baik sederhana daripada mewah.

Sembahyang bukan hanya dipanjatkan kepada Tian (Yuhan) dan nabi, juga kepada arwah leluhur. Itu karena roh yang berasal dari Tuhan. Diutus ke dunia, dan kembali laggi ke alam Xian Tian. Maka sebagai keturunannya perlu memberikan sembahyang dengan mengirim doa dan makanan.

“Menjadi kewajiban keturunannya untuk sembahyang, mendoakan dan bila perlu membacakan ayat-ayat suci. Harapan agar arwahnya dapat segera tenang, mampu melepas ikatan-ikatan duniawi,” jelasnya. Senin (15/10/18)

“Jadi ini hanya lah acara tradisi turun temurun. Istilah kata sistem kekeluargaan dari teman ke teman dari saudara ke saudara.” kata Ramali ketua RT 06/03 kapuk mas,” tutupnya.

Shem

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *