Miris, Obyek Wisata Pantai Lampu Satu Merauke Tercemar Sampah

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Merauke – Menanggapi Postingan Sekar Krisna, Wartawan Mitrapol turun langsung melihat kondisi pantai Pantai Lampu Satu, Merauke, Papua. Rabu (28/11/18).

Benar sesuai yang ditulis Sekar Krisna pada akun Facebooknya, di Pantai Lampu Satu, Merauke sampah berserakan dimana-mana, sebagai warga net Sekar Krisna meminta pemerintah dan masyarakat untuk memperhatikan lingkungan.

Sebagi anak kelahiran Merauke dia cukup sensitif serta memiliki pemikiran yang kritis akan dampak perbuatan manuasi atas lingkungannya, dalam cuitannya dikatakan, kita sebagia manusia tidak pernah akan tau kapan alam akan marah terhadap segala tindakan kita.

Meninggalkan cuitan Sekar Krisna, pedagang yang menjual makanan yang dipenuhi pembeli merupakan salah satu penyebab banyaknya sampah plastik dari sisah makan, seharusnya kesadaran dari pengunjung perlu dibangkitkan dengan himbawan atau ajakan-ajakan jangan membuang sampah sembarangan, buang pada tempatnya melalui iklan, atau baliho, benner yang di pasang pada are pantai.

Salah Satu pengunjung Pantai, Puji mengatakan, saya tertarik datang kepantai Lampu Satu ini bukan saja ingin melihat senja di sore hari, akan tetapi banyak hal yang saya temui disini, melihat pembutan kapal kayu dari ukuran kecil hingga yang sangat besar, melihat remaja-remaja Pecinta Frre Staile melakukan aktrasi bersama motor mereka, dan juga mereka pecinta fotografi yang sedang melakukan pemotretan. hal-hal itu cukup menghibur, namun sayang mata ini tidak sanggup melihat begitu banyak sampah mulai dari botol minuman beralkohol juga sampah sisa jajanan pengunjung.

Lanjut puji, jika pantai ini dikelola secara baik oleh Pemerintah Daerah cukup bagus untuk potensi wisata Pantai Air Kabur, daya tariknya adalah aktifitas anak Merauke serta alam disini, hutan Bakau juga ini hal yang menarik menurut saya.

Pemda tinggal memoles beberapa hal misalnya, ada pagelaran tarian daerah setiap minggu sore, dan panggung band dari beberpa aliran, rock, pop, jas, dan rege secara bergatian tiap Minggu, ya kalau untuk pengujung di patok lima ribu rupia untuk motor dan dua puluh ribu rupia untuk mobil, itu cukup ekonomis, saya rasa kalau ada hal begitu otomatis akan banyak warung tenda disini.

Kalau pejabat pemerintah cerdas pasti potesi sekecil apapun bisa dimanfaatkan menjadi potensi wisata buatan yang menarik, tempat wisata itu ada dua jenis yakni wisata buatan dan wisata alam. Tutup Puji.

 

 

Yanes

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *