“Pulang Ke Rumah Melewati Jalan Yang Kau Bangun Dengan Darahmu”

oleh

Perlahan-lahan
Melalui jalan yang kau bangun dengan genangan darahmu
Iring iringan kendaraan mengantar
Kau pulang ke rumah.

Ya, akhirnya kau pulang
Lebih cepat dari libur yang dijanjikan.

Diterik Matahari diatas jalan berbatu itu, kemarin,
Engkau duduk mengaso
Melepas penat membayangkan pulang ke rumah:
Lelahmu luruh mengingat bagaimana riangnya anak anakmu yang bermain di halaman, menghambur memelukmu ketika tiba nanti.
Seteguk air menjadi lebih nikmat mengingat hangat senyum ibu ketika kau bersimpuh mengurut kaki tuanya

Perihnya sepi luluh, ketika terkenang manisnya mencium kening istri tercinta.

Bagaimana kira kiranya perlahan harapan itu layu
Ketika berbaris lima lima
Digiring dengan tangan terikat
Berjalan jongkok
Di jalan yang sama yang pernah menerima peluhmu
Di atas kerikil yang mencatat harapanmu
Di kelokan yang menyimpan canda tawamu 25 orang
Bersenda membunuh penat
Membuka jalan kepada saudaramu menuju sejarah baru Papua yang lebih cemerlang

Harus kau terima hujan pelor panas
Sebagai balasannya?

Aku tidak mengenalimu saudaraku
Tetapi setiap butir kerikil Papua akan mencatatmu
Setiap yang melewati jalan yang kau bangun
Jembatan yang kau teguhkan
Harus tahu
Mereka melintasi genangan darahmu
Melintasi rindu yang tak akan pernah lagi terlunaskan

Melintasi hembus nafas terakhir
20 Pahlawan Rakyat Papua, Pahlawan bangsaku,
Yang namanya akan segera terlupakan.

Allahumaghfirlahum, warhamhum, wa’afihim, wa’fuanhum.
Innalillahi wainnailaihi rojiun.

 

Nurhira Abdul Kadir (5/12/2018)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *