Mudik Natal, KMP Muyu Raup Keuntungan

MITRAPOL.com, Mappi – Harga tiket pesawat yang melambung tinggi saat arus mudik Natal dan Tahun Baru memaksa masyarakat ekonomi terbatas mencari alternatif lain seperti trasportasi sungai dan darat.

Ratusan calon penumpang menunggu di Dermaga Moor untuk mudik ke kampung halamannya. Mereka para calon penumpang sedang menungggu KMP Muyu, kapal yang berkapasitas 140 orang melayani penumpang dengan tujuan dari Merauke-Atsy-Agats hingga Sawaerma Kabupaten Asmat.

mitrapol.com mencoba menyelusuri informasi dari masyarakat tentang pelayanan trasportasi ini dengan mengikuti perjalanan angkutan sungai KMP Muyu. pada Kamis (20/12/2018).

Penelusuran yang dilakukan berdasarkan informasi masyarakat tetang tindakan petugas pelayaran yang tidak memperhatikan keselamatan penumpang, walau ini hanya angkutan sungai, tetapi masalah keselamatan penumpang penting untuk diperhatikan.

Lebar sungai Digul dan Mappi yang mencapai sekitar setangah Kilometer cukup berbahaya.

Kapal yang seharusnya memuat penumpang dengan kapasitas 140 orang dan kendaraan roda enam, empat dan dua itu, begitu sesak dipenuhi para penumpang tujuan Bade juga Asiki.

Padatnya penumpang, membuat banyak kendaraan roda dua dan empat tidak dapat diangkut, penyesalan pun dilontarkan beberapa pemilik kendaraan.

Salah seorang calon penumpang kapal mengatakan, “Kapal ini lebih mementingkan barang jualan yang dibawa oleh para OPSI, kita menyesal sudah urus surat jalan kendaraan pada Polsek Moor, kita bayar administrasinya, eh kendaraan kita tidak dinaikan benar-benar kecewa akan sikap para petugas,” ujarnya.

Sekitar pukul 09:30 KMP Muyu meninggalkan Dermaga Moor menuju Pelabuhan Bade. Dalam perjalanan diperkirakan tepat pukul 01:00 petugas penjual tiket kapal yang menjual tiketnya diatas kapal, diketahui tiket tujuan Bade di jual Rp.15.000-, dan tiket tujuan Asiki Rp. 52.000-, ironisnya tiket tujuan Asiki bertuliskan Getentir – Bade Rp. 37.250-, diduga petugas atau ABK mengambil keuntungan dari hasil penjualan tiket tersebut.

Petugas tiket menjelaskan, harga tiket bisa seharga begitu karena dihitung dari Moor ke Bade lalu Bade – Asiki sebagai tiket lanjutan, jadi sebagai penumpang harus membeli dua tiket, dan mengapa tiket yang diberi cuman satu, karena tiket satunya kami ambil, yang di ambil adalah tiket Moor – Bade. Papar petugas KMP Muyu.

Penjelasan petugas tersebut diduga hanya untuk mengelabui saja. Sudah seringkali mitrapol.com melakukan perjalanan menggunakan kapal, baru kali ini didapati hal demikian, yang ironisnya lagi penumpang dari Dermaga Bade menuju Asiki, diminta membeli tiket, setelah dibayar, tiket tak kunjung diberikan petugas KMP Muyu. Seharusnya tiket yang sudah di beli harus dikasih, dan tiket yang sudah dikasih jangan diambil kembali lagi tetapi harus disobek separuhnya dipegang oleh pemilik tiket.

Boy salah satu penumpang mengatakan kepada mitrapol.com, wah seharusnya saya dikasih tiket, apa bila terjadi sesuatu saya ada bukti, apa lagi nama saya tidak dimasukan dalam manives, sama sekali tidak dicatat petugas, mereka pikir kita orang bodoh apa, saya ini naik kapal dari Bade tujuan Asiki disuruh bayar tiket, saya kasih uang Seratus Ribu kembali Enampuluh Satu Ribu, harga tiket sebenarnya berapa?, parah sekali saya bayar tiket mengapa saya tidak diberi tiket sama petugas, ini persis preman nagih uang keamanan saja, singkatnya.

Melihat hal tersebut salah seorang penumpang lagi-lagi berkata, luar biasa keuntungan yang didapat dari ratusan penumpang ini, ujarnyanya.

Mereka berharap kepada kepala ASDP di Merauke agar ada kepastian terkait harga tiket, kami masyarakat kecil mana berani, kalau ngoceh ya bisa, tapi kalau urusan lebih lanjut, kita takut. singkat lelaki berdara Kei itu.

Tiba di Asiki Jumat (21/12/2018) antrian ratusan penumpang tujuan Bade dan Moor sudah menanti, peminat tranportasi sungai ini begitu banyak saat mudik Natal, seharusnya pemerintah daerah dan dinas perhubungan mempersiapkan armada bantuan, meski “masyarakat jelata berekonomi terbatas” mereka juga punya hak mendapat pelayanan yang baik, bisa di bilang hal ini merupakan diskriminasi sosial.

 

 

Yanes on

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.