Gedung Shalter Tsunami Buang Anggaran Negara

MITRAPOL.com. Pandeglang – Gedung Shelter Tsunami di Labuan, Banten, yang seharusnya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara untuk menyelamatkan warga ketika tsunami menerjang, kini terbengkalai. Saat tsunami 22 Desember lalu pun, gedung ini tak bisa digunakan. Pembangunannya yang menelan dana Rp 18 miliar mangkrak setelah dikorupsi. Negara rugi Rp 16 miliar

Sebuah bangunan tiga lantai dengan cat berwarna krem mendominasi, berdiri paling menjulang diantara gedung-gedung lainnya di Jalan Raya Jenderal Sudirman, Kecamatan Labuan, Padeglang, Banten.

Bangunan yang awalnya merupakan Terminal Labuan, kemudian berubah fungsi menjadi shelter bencana tsunami di kawasan Labuan.

Begitu sampai dibagian depan banguan, terdapat sebuah papan informasi yang bertuliskan “Tanah Ini Milik Pemda Kebupaten padeglang”, bergeser sedikit kesampingnya terdapat papan yang bertuliskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten.

Memasuki bagian dalam shelter, kita akan langsung disambut dengan area parkir kendaraan, area parkir motor dan mobil pun terpisah.

Namun di area parkir ini kini justru digunakan untuk memarkiran gerobak dagangan. Ada pula angkutan umum yang terparkir disana.

Naik ke lantai dua bangunan, kita dapat menggunakan anak tangga yang ada disisi kanan bangunan.

Sementara saat menaiki anak tangga, terbilang licin dan banyak genangan air di beberapa titik. Kondisi anak tangga yang terbuat dari keramik pun banyak ditemui dalam keadaan rusak.

Sampai di lantai dua, yang terlihat hanya ruang kosong serta coretan dari tangan jahil yang ada di mana-mana.

Di sudut ruangan, terdapat dua buah kamar mandi, pun dengan kondisi tak terawat, kotor, dan aroma bau pesing. Sampah yang berserakan memperparah kesan kotor dan tak terawat dari bangunan yang mulai dikerjakan tahun 2014 ini.

Di lantai tiga atau paling atas, terlihat ruang kosong tanpa atap.

Hanya terlihat lampu-lampu dengan sistem tenaga surya terpasang dipinggir tembok. Dilantai teratas ini pula kita dapat melihat indahnya Teluk Labuan dengan jelas.

Dedek Jainali (12) seorang anak yang biasa bermain di shelter tsunami saat ditemui mengungkapkan bila dirinya bersama teman-teman sepantarannya sering memanfaatkan gedung ini untuk bermain.

“Sering saya sering main disini, hampir tiap hari, main bola juga bisa disini luas banget,” ucap Dedek.

Tak hanya itu Dedek mengungkapkan saat tsunami menerjang pesisir pantai Banten, banyak warga sekitar Labuan yang mengungsi ke shelter tsunami ini.

 

M. shukur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.