PN Bitung Vonis Teddy 1,4 Tahun, Kuasa Hukum Sebut Jaksa Peneliti Tidak Teliti

Sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Bitung.

MITRAPOL.com, Sulut – Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bitung Muhammad Alfi Sahrin Usup SH.MH, membacakan putusan vonis 1,4 tahun penjara terhadap Teddy dan Audy Rumentor atas perkara pemalsuan surat, Senin (25/02/2019).

“Terdakwa Teddy terbukti melanggar pasal 263 KHUP ayat 2 dan 372 tentang pemalsuan surat dan penggelapan, oleh karena perbuatanya majelis hakim atas nama persidangan menghukum terdakwa Teddy 1 tahun 4 bulan ” kata Muhammad Alfi Sahrin Usup SH.MH yang juga Ketua PN Bitung.

Bacaan Lainnya

Terkait putusan tersebut, Kuasa Hukum Teddy, Robert Lengkong SH dan Refly Lombok SH sangat kecewa dan menilai majelis hakim mengabaikan fakta fakta persidangan sebelumnya.

“Pembelaan kami dalam pledoi juga tidak menjadi pertimbangan majelis hakim baik saksi dan saksi ahli yang meringankan yang kami telah hadirkan,” kata Robert Lengkong SH.

Kuasa Hukum Teddy, Robert Lengkong SH dan Refly Lombok SH

Kedua kuasa hukum terdakwa juga menyesalkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum dari Kejati Sulut yang tidak teliti, harusnya jaksa peneliti Kejati Elesius Salakori SH sebelum P21 tahap 1 atas berkas perkara yang dikirim Penyidik Polda sulut .

“Jaksa seharusnya memiliki waktu untuk meneliti berkas dakwaan dimana ada sejumlah kejanggalan dalam berkas BAP penyidik diantaranya ada saksi Yulin yang tidak di hadirkan dalam pemeriksaan tahun 2017, namun keteranganya ada dalam BAP serta di tandatangani orang lain yakni Candarawan yang adalah pelapor, bahkan ada paraf dalam berkas pemeriksaan oleh terdakwa Tedy sedangakan terdakwa tidak tidak pernah menandatanganinya” ujar Kuasa hukum Robert Lengkong SH.

Sambungnya, kejanggalan lain pada jaksa kejati sulut memaksakan penahanan klien padahal, barang alat bukti kapal tidak di serahkan saat penahanan maka P21 tahap 2 kejaksaan prematur dan tidak lengkap

Terkait itu, terdakwa Teddy menganggap tuntutan 2 tahun JPU tidak adil karena dirinya di tahan dalam pasal penggalapan kapal sementara barang bukti sama sekali tidak pernah di terima Kejaksaan Negeri Bitung ini yang menyebabkan dirinya di vonis bersalah.

“Saya merasa sejak awal Kasus ini di rekayasa seperti ada pesanan serta saya didakwa oleh BAP yang rancu, ada palsunya itu berarti dakwaanya juga terselip kepalsuan, tapi jaksa tetap melanjutkan ke persidangan,” ungkap Teddy

Kasus perkara penggelapan ini menurut terdakwa bermula bulan April 2016. Saksi Korban Candrawan yang bermitra dengan terdakwa Teddy sebagai pengusaha kapal perikanan memisahkan diri dari perusahaan milik Teddy dan memiliki perusahaan sendiri

Namun, Candrawan masih menitipkan kapal sebanyak tiga unit (2 jenis Kapal penangkap ikan dan 1 jenis kapal Light-boat 1.GT 24 No. 1817/Kkb, 2. GT 24 No 2037/Kkb, 3. J59 No.8122 kepada tersangka Teddy alias Aso selaku pemilik PT Arta Samudera Pasifik dimana tersangka Teddy Alias Aso sudah mengoperasikan kapal tersebut selama 1 (Satu) tahun 5 (Lima) bulan.

Oleh candrawan kemudian, melaporkan penggelapan kapal padahal kapal itu di titip di perusahaan PT Arta samudta pasific Milik Tedy, begitupun dengan pemalsuan surat SIPI kapal, saya di tuduh ikut serta terkibat padahal yang menyuruh tanda tangan penerbitan SIPI adalah Candrawan kepada Audi Rumentor sebagai agen kapal, dan Teddy tidak tahu sebagai direktur jika ada SIPI yang terbit karena tanda tangan dipalsukan Audi agen kapal. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.