Memilih Untuk Tidak Memilih

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Lampung – Bagaimana kita melihat fenomena golput dalam pemilu serentak 2019 ? Mungkin ini juga yang perlu kita diskusikan ditengah tegangan dukungan dua poros pendukung Jokowi dan Prabowo. Apalagi konstelasi politik tahun ini membuat kita tidak berpikir dan mempertanyakan trendy golput dalam pemilu serentak 2019.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana terkait trendy golput sepertinya perlu kita ajukan, apakah orang yang memilih untuk tidak memilih adalah orang bodoh ? apakah golput merupakan sikap politik ? apakah golput orang-orang yang tidak mempunyai kesadaran politik? Tentunya kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana diatas sehingga kita tidak serampangan melihat trendy golput dalam pemilu sertentak 2019.

Tidak sedikit yang memandang orang yang memilih untuk tidak memilih (golput) itu bodoh, karena bagimanapun calon sudah ada pilihan dan itulah pilihannya. Mungkin, mereka yang mengatakan memilih untuk tidak memilih itu keputusan paling bodoh. Namun menjadi pertanyaan dimanakah kebodohannya ? ataukah bodoh yang dimaksud lantaran tidak bisa memutuskan. Jadi bisa dibilang bodoh yang dimaksud adalah tidak bisa memutuskan untuk memilih.

Tapi bagaimana mungkin orang yang memutuskan memilih untuk tidak memilih karena mempunyai kesadaran dan alasan-alasan tertentu kita anggap bodoh? Atukah orang yang tidak bisa memutuskan sesuatu adalah orang bodoh?

Tuduhan memilih untuk tidak memilih (golput) adalah bodoh tentunya harus kita uji, atau bagaimana jika orang memilih untuk tidak memilih mempunyai kesadaran politik? Tentunya banyak yang beranggapan orang yang tidak memilih juga tidak mempunyai kesadaran politik. Lantas bagaimana kita mengetahui kesadaran politik ataukah kesadaran politik hanya sebatas memilih dalam pemilu.

Sementara orang yang golput tak peduli politik. Bagiamana jika mereka yang golput sebenarnya sangat sadar dengan keadaan Negara seperti kemiskinan, kebebasan, pengangguran, hak-hak asasi, dan soal-soal keadilan dinegeri ini. Dengan pertimbangan yang matang mereka sadar untuk tidak menentukan pilihan (golput ) dan itulah sikap politik. Atau satu satunya sikap politik adalah dengan mendukung salah satu calon presiden (capres) yang jela-jelas tidak mempunyai keberpihakan kepada massa rakyat?

Kesadaran politik tentunya berkorelasi dengan pemilu. Namun menjadi sempit karena kesadaran politik direduksi sebatas partisipasi dalam kotak suara dan menafikan praktek serta partisipasi rakyat dalam proses demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Ataukah kita masih mempertanyakan golput dalam pemilu tahun ini masih relevan atau tidak sebagai pilihan? Masih relevan atau tidak haruslah kita uji. Mungkin jika kita melihat golput hanya sebatas gerakan memilih untuk tidak memilih dalam pemilu saja dan tidak ada kelanjutannya.

Namun jika kita melihat golput sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada partai politik hari ini yang mencalonkan Presiden dan calon legislator tentunya ada kelanjutan. Ataukah mereka (golput) mempunyai keinginan besar untuk membentuk suatau alat politik alternatif dan nantinya bertanding dengan partai politik lain? Jika begitu bukankah mereka mempunyai kesadaran politik yang luar biasa? Ataukah kesadaran politik kita hanya di uji sebatas coba-coba untuk memilih salah satu calon?

Tidakkah kita yang sebatas coba-coba dengan sadar telah mengangnggap remeh pemilu itu sendiri.
Mungkin kita juga perlu mencari tahu bagaimana mekanisme pemilu agar tidak terlalu serampangan dan hanya terpaku oleh pilihan yang ditawarkan dan perlu mempertanyakan bagaimana mekanime pemilu di Negara ini.

Sesungguhnya penting bagi kita mengetahunya. Karena kita sama -sama sadar baik Jokowi dan Prabowo merupakan peserta pemilu di tahun 2014. Tidakkah kita sadar itu bukan hal yang kebetulan, ataukah ada mekanisme yang sengaja diciptakan?

 

Aminudin
Ketua FPII Setwil Provinsi Lampung

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *