Jalur listrik di kawasan tembok bolong pengasinan Muara Angke semrawut

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Jalur listrik yang ada di wilayah jalan Kali Adem Muara Angke, tembok bolong, RT 011/ 022 kelurahan Pluit, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara terlihat semrawut.

Diduga penerangan yang didapat oleh 200 kepala keluarga itu dari hasil ilegal atau tidak resmi alias colongan.

Bacaan Lainnya

Penerangan listrik yang ada diwilayah muara Angke itu didapat dari curi melalui gardu PLN , diduga pihak PLN tidak mengetahui atau tutup mata, hampir rata rata rumah yang ada tidak memiliki boks kilometer (KWH)

Listrik yang didapati warga Rt 011/022 Muara Angke, itu dikelola oleh oknum RT setempat, untuk pembayaran kutipan tagihan listrik.

Perumahan kumuh yang rentan akan musibah kebakaran, mendapatkan jalur listrik bukan dari petugas Resmi PLN dapat dilihat akses jalur listrik yang semrawut.

Sementara menurut informasi yang didapat, tiap penghuni rumah yang memberikan retribusi bervariasi mulai dari 50 ribu hingga 70 ribu per unit rumah yang ada di wilayah itu.

Saat di konfirmasi ke kepala Rukun tetangga (RT) berkelit kalau dia yang kelolah retribusi pungutan liar , yang dimana merugikan negara dengan adanya listrik curian di wilayah itu.

Saat di konfirmasi ke RT Apip membenarkan bahwa dia yang mengutip setiap bulannya namun hanya sebagai pekerja yang dimana diserahkan oleh ibu Amsiyah setelah terkumpul.

“Saya hanya digaji hanya 500 per Bulan,” katanya.

“Lagi pula bukan saya yang menagih atau meminta terhadap warga saya tidak meminta melainkan, mereka yang datang , memberikan saya saya tidak munafik kalau uang itu saya terima tiap bulan, untuk informasi Lebih jelas pengelolaan penerangan itu. Silakan ke mpok Amsiyah,” ujar RT Apip.

Terkait hal itu, Amsiyah menjelaskan, “Saya sudah tidak tau apa pun yang menyangkut retribusi listrik yang ada di kampung baru itu. Sudah delapan Bulan saya tidak tau menau soal itu,” jelas Amsiyah

Dulu memang saat alm suami saya hidup dia yang mengkoordinir setelah ia meninggal saya sudah tidak tau menau, asal muasal ada nya penerangan itu dari jasa suami saya Tanpa dia gak akan ada penerangan, tapi setelah meninggal, seolah saya di adu domba ,kalau saya yang mengkoordinir, Padahal saya sudah tidak mengetahui sejak delapan bulan terakhir. Kemana uang retribusinya.

“Padahal sejak suami meninggal dan delapan bulan terakhir saya tidak tau menau kemana arah uang kutipan Itu, padahal saya dapat informasi Juga kalau itu di pungut oleh RT 011, Apip,” ucapnya lagi.

“Saya pun sudah adukan untuk di cabut dan diresmikan jalur listrik itu agar menjadi Resmi,” katanya

Hal ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah maupun PLN karena akan mendampak besar terjadinya kebakaran dan membahayakan bagi lingkungan setempat.jika belum terealisasi listrik Resmi yang memang dari PLN,

Padahal jelas dalam Pasal 51 ayat (3) UU Ketenagalistrikansebagai berikut:

Setiap orang yang menggunakan tenaga listrik yang bukan haknya secara melawan hukum dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). (Shem)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *