LBH Palembang soroti penanganan kasus perempuan

  • Whatsapp
Kepala Internal LBH Palembang Tamsil,

MITRAPOL.com, Sumsel – Perkara yang menjadi sorotan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Palembang adalah perkara kasus perempuan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Internal LBH Palembang, Tamsil, ditemui usai workshop Organisasi Bantuan Hukum dengan tema, “Peran Organisasi Bantuan Hukum dan Pemerintah Daerah dalam Penanganan Kasus Perempuan di Sumatera Selatan,” yang digelar di Hotel the Zuri, Senin (22/4).

“Kita menangani 62 kasus perempuan bermasalah dengan hukum, sedangkan data di WCC itu mencapai 133 kasus hukum terhadap perempuan,” katanya.

Kasus yang tidak terakomodir di Polda, sambung Tamsil, kasusnya banyak terpendam, misalnya pelecehan seksual.

“Perkara yang kami tangani yakni kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) , kekerasan pacaran, penelantaran oleh suami. Ada ditangani sampai ke kepolisian dan pengadilan. Bahkan, ada yang bercerai”, ujarnya.

Masih kata dia, akses keadilan sama bagi masyarakat. Pasalnya sudah ada bantuan hukum pemerintah.

“Semuanya tidak dipungut biaya, ditanggung Pemda. Di LBH juga melayani bantuan hukum gratis. Cukup menyertakan surat keterangan tidak mampu”, ungkapnya.

Tamsil menuturkan, pihaknya sudah lama menginisiasi jika LBH butuh payung hukum. Pasalnya, belum begitu efektif, karena persoalan anggaran tidak mencukupi terutama di daerah terpencil.

“Bantuan dana yang diberikan Pemprov, sebesar Rp 100 juta, tidak mencukupi. Pemkot juga menganggarkan lebih dari itu. Besok kita audiensi ke Pemprov, harus dihitung idealnya dalam menangani setiap perkara”, katanya.

Sementara itu, Karo Hukum dan HAM Pemprov Sumsel, Ardani, menambahkan pemberian bantuan hukum bagi perempuan cukup bagus.

“Pemprov menyiapkan APBD anggaran pemberian bantuan hukum bagi masyarakat miskin tahun ini Rp 100 juta. Harusnya buat pergub yang baru untuk mengatur tarif per perkara”, pungkasnya.

 

 

Adri

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *