Tragis, begini akhir pelarian pentolan KKB Aceh Timur

  • Whatsapp

MITRAPOL.com,  Bandar Aceh – Nasir Agung atau NA, disinyalir sebagai pentolan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) oleh kepolisian daerah Aceh pasca kontak tembak yang menewaskannya Rabu (24/4/2019) lalu.

Saat ini Polisi masih memburu satu anggota KKB lainnya yang berhasil melarikan diri saat kontak tembak tersebut, namun polisi sudah mengantongi identitasnya.

Bacaan Lainnya

Seantero Aceh geger dengan peristiwa ini, pembicaraan dari mulut ke mulut terus menggema, ada yang menanyakan siapa mereka, apa tujuannya dan dari mana senjata itu didapatkan. Namun masyarakat diharap bersabar hingga polisi selesai menuntaskan kasus kriminal ini.

Sementara itu, Mitrapol terus mencoba menggali informasi untuk disampaikan kepada masyarakat sehingga tidak muncul kecemasan dan ketakutan di tengah komunitas masyarakat.

Salah seorang sumber yang diwawancarai Mitrapol bersedia membuka bagaimana sepak terjang almarhum NA sebelum dia tewas tertembak timah panas polisi.

Kepada media ini, sumber yang tidak ingin namanya dituliskan ini membeberkan bahwa pada tahun 1998 NA bergabung dengan pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) hingga terjadinya kesepakatan perjanjian damai antara pemerintah Republik Indonesia dengan GAM yang termaktub dalam MOU Helsinki.

“Nasir Agung kembali mengangkat Senjata bergabung dengan Thaliban Aceh di Aceh Besar hingga terjadi baku tembak antara personil polisi dengan orang yang diduga jaringan teroris thaliban Aceh yang terjadi di depan Mapolsek Leupung, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Jumat(12/3/2010) dan akhirnya Nasir agung ditangkap dan dibawa ke Jakarta,” bebernya di Banda Aceh Jumat (26/4/2019).

Namun tambahnya, setelah menjalani hukuman kurungan, dia kembali ke kampung halamannya di Aceh Timur dan sempat menjadi pengusaha galian c di kabupaten tersebut.

“Ketika kelompok Din Minimi muncul di Aceh, dia kembali mengangkat senjata bersama – bergerilya di hutan, tapi akhirnya Tim resmob Polres Aceh Utara menangkapnya dan dipenjarakan di LP Lhok Sukon,” tambahnya.

Dari dalam LP dia kenal dengan seseorang bernama Abu Radak yang mengaku sebagai pimpinan Teutra Mujahidin Aceh, sehingga Nasir Agung berhasil lolos dari LP Lhok Sukon bersama Abu Radak, mereka bersembunyi di kampung halaman NA, tidak hanya itu mereka juga mempersenjatai diri dengan senjata api dan mengdeklarasikan dirinya bergabung dengan Mujahidin Aceh.

“Dalam penggerebekan Rabu malam, ia tewas ditembak disaat sedang shalat isya di Perlak, Aceh Timur, bagi kami jejaknya dalam mengangkat senjata sudah sangat lama, namun setelah beberapa kali di tangkap dan dibina ternyata belum juga dapat berubah,” sesalnya. (Safdar S) 

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *