Adian Napitupulu : Aktivis 98 harus jaga bangsa ini untuk tidak lagi kembali ke masa lalu

by -27 views

MITRAPOL.com, Jakarta – Memperingati 21 tahun Reformasi, para aktivis ’98 yang tergabung dalan RNA ’98 melakukan tabur bunga di tiga makam para pahlawan reformasi yang berada di Tanah Kusir Jakarta, ini bertujuan untuk mengenang jasa-jasa mereka yang telah gugur dalam memperjuangkan kebebasan berpendapat dan berdemokrasi di negara ini.

Adian Napitupulu yang merupakan salah satu aktivis ’98 dan juga sekaligus politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berharap agar kejadian tragedi pada 21 tahun yang lalu di Trisakti tidak kembali terulang.

Dimana pada 21 Mei 1998 merupakan kejadian titik awal yang menimbulkan ribuan korban jiwa yang mengalami luka-luka dan juga meninggal dunia.

Dalam pristiwa tersebut empat aktivis mahasiswa Trisakti tewas tertembak oleh aparat diantaranya adalah Elang Mulia, Hendriawan Sie, Hafidhin Royan, dan Hery Hartanto dimana keempat aktivis tersebut menerima Bintang Jasa Pratama dan dikenal sebagai Pejuang Reformasi oleh Presiden RI pada 9 Agustus 2005.

Untuk alasan apapun juga, bangsa Indonesia tidak boleh kembali ke masa itu, di mana masyarakat dikekang dan terbelenggu oleh kekuasaan otoriter Orde Baru sehingga memancing pergerakan elemen mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Adian menjelaskan “Untuk alasan apapun Indonesia tidak boleh ke masa lalu. Indonesia untuk alasan apapun tidak boleh balik ke zaman dimana nyawa tidak ada harganya, zaman dimana orang tidak bisa bicara, zaman kebebasan dibelenggu sedemikian rupa,” pada peringatan 21 Tahun Tragedi Trisakti, di depan makam dua aktivis yang gugur, tanah kusir Jakarta, Minggu (12/5/2019).

Menurut Adian,”saat ini ada banyak kemajuan yang dirasakan masyarakat di dalam menjalani sistem demokrasi pasca reformasi. Indonesia sedikit demi sedikit menunjukkan keseriusannya untuk menerapkan prinsip negara demokrasi.”

“Itu membuktikan meninggalnya mereka tidak sia-sia, ketika buruh berserikat, orang boleh berkumpul mengeluarkan pendapat dengan sebebas-bebasnya itu sekali lagi menunjukan meninggalnya mereka tidak sia-sia. Ketika lahir ada KPU, ada KPK, ada nya kebebasan pers dan sebagainya, sekali lagi meninggalnya mereka tidak sia-sia,” Adian menambahkan.

“Termasuk, ketika bangsa Indonesia dapat merasakan Pemilu secara langsung, merupakan buah dari para pejuang reformasi. Karena itu, dalam momen Pemilu yang baru saja digelar sekaligus untuk memastikan bahwa Indonesia tidak kembali dipimpin oleh orang-orang yang berjiwa Orde Baru.” Tutup Adian.

 

 

Reporter : BS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *