Reformasi tidak berjalan, Politisasi Agama dan politik identitas menyebabkan distorsi demokrasi

by -14 views

MITRAPOL.com, Jakarta – Reformasi yang diperjuangkan oleh para aktivis 98 pada masa pergerakan reformasi 21 tahun silam belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan cita cita reformasi yang diperjuangkan.

Menurut Karyo Wibowo yang merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Public Institut, reformasi dinilai stagnan atau diam ditempat tidak berjalan efektive. Dan menurut Karyo Wibowo reformasi yang pada era sekarang ini seperti tidak terkontrol dengan baik dan berjalan sendiri alias autopilot.

Loading...

“Reformasi kita berjalan seperti autopilot, seperti pesawat tanpa awak. Bagaimana kita serahkan agenda reformasi kepada orang yang tidak punya semangat reformasi, tidak akan bisa terwujud,” ucap Karyono dalam sesi diskusi public dengan tajuk ‘Reformasi Berhasil atau Tidak’ yang digelar di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institut Karyo Wibowo

Dan menurut pandangannya aktivis 98 yang tergabung di dalam RNA’98 harus mulai merebut kekuasaan untuk dapan memenuhi cita cita reformasi yang sesungguhnya dengan cara masuk ke dalam pemerintahan dan ikut memberikan pengaruh terhadap kebijakan.

“Jadi eksponen aktivis 98 yang punya spirit dan pemahaman agenda reformasi harus memperjuangkannya. Perjuangan reformasi itu tidak hanya dari luar saja tapi juga harus dari dalam,” ungkap Karyono

Lanjut Karyono “Perlu ada paradigma baru tentang reformasi dalam pengertian bagaimana menyesuaikan agenda reformasi yang sudah dicetuskan saat 98 dalam aktualisasinya. Yakni harus ada perumusan common platform untuk mewujudkan agenda reformasi bersama,”

Dalam kesempatan itu juga dalam diskusi tersebut Savic Ali yang juga merupakan eksponen 98 menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang mendistorsikan Demokrasi di negara ini sehingga reformasi tidak berjalan dengan baik dan seperti jalan di tempat.

Menurutnya “Populisme agama, politisasi agama itu sebetulnya itu yang menyebabkan terdistorsinya sebuah demokrasi,”

Lanjutnya “Karena dari mereka tidak semua yg menganggap semua rakyat Indonesia setara, misal orang non muslim tidak sama dengan mereka. Karena ada narasi jangan mau dipimpin oleh orang Kafir, ini kan jelas distorsi yang sangat kasar dan jelas,”

Selain itu juga Savic menjelaskan bahwa oligarki kekuatan orde baru dan perilaku koruptif juga menjadi bagian yang tak kalah penting mendistorsi demokrasi.

 

 

Reporter : BS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *