BBKSDA Wilayah III Padangsidempuan Sumut buru Harimau pemangsa warga Siraisan

  • Whatsapp
Ketua tim pencari Harimau dari BBKSDA wilayah III Padangsidimpuan Hardi Hutabarat (pakai topi), didampingi kepala desa (Kades) Siraisan Sangkot Hasibuan, saat berbincang dengan sejumlah wartawan di kediaman kades, Senin (20/5).

MITRAPOL.com, Padang Lawas – Pasca terjadinya serangan Harimau kepada salah seorang warga Desa Siraisan, Kecamatan Ulu Barumun Kabupaten Padang Lawas (Palas) atas nama almarhum Abu Salih Hasibuan (ASH) yang ditemukan tewas dengan kepala terpisah beberapa waktu yang lalu.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) wilayah III (tiga) Padangsidempuan, Sumatera Utara (Sumut), melakukan pemburuan (pencarian) terhadap harimau liar tersebut, di sekitar Hutan wilayah desa Siraisan.

Pencarian harimau liar yang diduga sebagai pemangsa korban ASH ini, sudah dimulai sejak hari Jumat kemarin (17/5), sekitar 17.00 WIB sore, dihari yang sama pasca ditemukannya mayat korban tersebut sekitar jam 02.00 WIB dini hari.

“Pencarian harimau itu, kita lakukan sejak hari jumat kemarin sore sekitar lima jam usai menerima informasi kejadian naas tersebut dari pihak pak Kades,” kata Hardi Hutabarat ketua tim pencari harimau liar tersebut, dari pihak BBKSDA wilayah III Padangsidempuan Sumut, saat berbincang dengan sejumlah wartawan, termasuk wartawan media Mitrapol ini, di rumah kediaman Kepala Desa Siraisan Sangkot Hasibuan, Senin (20/5).

Meski belum menemukan jejak pasti atau pertanda keberadaan Harimau liar, pencarian yang sudah berlangsung sekitar tiga hari di sekitar hutan dan perkebunan masyarakat di desa itu, lanjut Hardi, pihaknya akan terus berupaya melakukan pencarian harimau tersebut, untuk mengantisipasi kehawatiran dan ketakutan warga akan terjadi kejadian yang sama.

“Jejak keberadaan Harimau itu di sekitar hutan dan desa ini belum bisa kita temukan 100 persen, pasca kejadian itu. Dan pertanda alam pun kita tidak temukan, seperti suara burung sunyi, kera serta binatang lainnya, tidak berkeliaran di hutan,” lanjutnya.

“Kita baru menemukan bukti bekas kaki di tanah, itupun tidak bisa kita pastikan 100 persen bekas injakan kaki Harimau, hanya 97 persen. Namun kita tetap lanjutkan pencarian ini, sekaligus rencanya akan memasang perangkap dan cctv pemantau Harimau itu,” sambung Hardi.

Disampaikan Hardi, dalam kegiatan pencarian harimau yang diduga sebagai pemangsa korban almarhum ASH itu, pihaknya dibantu sejumlah personel TNI dan Polri, dari Makoramil 08 Barumun, Mapolsek Barumun dan lainnya, serta masyarakat Desa tersebut.

Sedangkan Kepala Desa Sirairan Sangkot Hasibuan, atas nama keluarga korban almarhum ASH dan seluruh masyarakat desa itu, disaat yang sama mengucapkan terimakasih kepada pihak BBKSDA wilayah III Padangsidempuan Sumut, khususnya kepada sejumlah personel dibawah ketua tim Hardi Hutabarat yang telah membantu pihaknya, melakukan pencarian harimau liar yang di duga sebagai pemangsa almarhum ARH tersebut. Juga kepada seluruh anggota TNI dan Polri yang turut dalam pencarian harimau itu.

Kepada masyarakat luas, dia meminta sekaligus berharap, supaya turut mendoakan bersama-sama, agar kajadian yang sama, tidak ada lagi di Desannya ataupun di Desa tetangga lainnya.

“Kepada masyarakat luas, tolong bersama-sama mendoakan keselamatan dan kenyamanan bagi kami di Desa ini, supaya terhindar dari kejadian-kejadian naas seperti yang baru-baru ini terjadi, kepada warga kami”.pintanya.

Selain meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga korban almarhum ASH, kejadian naas itu, di ungkapkan Sangkot, juga berdampak bagi masyarakat luas, kususnya desa itu dan di tiga desa tetangga lainnya, antara lain Desa Tanjung, Desa Pagaranbira dan Desa Pagaranbira Julu. Sebab sebagain besar masyarakat di sejumlah desa tersebut, saat ini, dikatakan Sangkot, masih takut malakukan aktipitas sehari-hari masing – masing. Baik berkebun, menderes, bertani padi dan lainnya, di sekitar lokasi sejumlah Desa itu.

“Masyarakat saat ini, kebanyakan masih takut melakukan aktifitas masing-masing, khususnya para ibu rumah tangga. Kalau bapak-bapak dan anak laki-laki, usia remaja dan dewasa apabila tidak sekolah dan ikut tim pencarian mereka lebih memilih berdiam diri, di rumah masing-masing,” kata Sangkot.

 

 

Reporter : MS. Hasibuan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *