Mualem : Rakyat Aceh cinta damai dan pro NKRI

by -59 views

MITRAPOL.com, Banda Aceh – Beredar Rekaman Video Mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) H. Muzakir Manaf yang kini merupakan Ketua Dewan Pimpinan Adat (DPA) Partai Aceh ini tengah mengklarifikasi pernyataannya tentang referendum beberapa waktu lalu kini viral di jagad maya.

Dalam video tersebut, pria yang kerap disapa Mualem ini mengatakan bahwa apa yang diucapkannya pada acara Haul Teungku Muhammad Hasan Di Tiro itu adalah sikap spontanitasnya dan sama sekali tidak mewakili rakyat Aceh.

Selain itu, Ketua Partai Aceh ini dalam videonya yang berdurasi 1 menit 17 detik ini mengatakan bahwa dia menyadari bahwa saat ini masyarakat Aceh cinta damai dan pro NKRI, dia juga berharap agar Aceh ke depan lebih maju dalam bingkai NKRI.

Selain itu ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) ini berjanji bahwa hal lainnya yang belum sesuai pasca MOU Helsinki akan dibuat surat tersendiri guna menuntaskan butir-butir MOU Helsinki kedepannnya.

Video ini ditutup dengan ucapan selamat berlebaran dari H. Muzakir Manaf.Video ini beredar dan ramai di share pada Selasa (11/6/2019) Malam belum diketahui dimana lokasi orang nomor satu di Partai Aceh ini ketika membuat video tersebut.

Diberitakan sebelumnya, bahwa Muzakir Manaf sempat melontarkan keinginannya untuk kembali memilih jalan Referendum jika pemerintah pusat tidak berlaku adil kepada rakyat, hal ini disampaikan langsung dihadapan undangan pada haul pendiri GAM Teungku Muhammad Hasan di Tiro beberapa waktu lalu.

Gagasan Mualem yang kembali memilih jalan Referendum seperti Timor Leste ini sontak saja ditanggapi beragam oleh nitizen dan pengamat politik, baik di Aceh maupun tingkat nasional. Bahkan ide ini juga mendapatkan perhatian serius dari Menkopolhukam Wiranto, yang secara tegas mengatakan akan menuntut Mualem atas keinginannya ini secara hukum, hal serupa juga ditanggapi oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryacudu.

Perlu diketahui Aceh yang sempat berkonflik dengan pemerintah pusat selama beberapa dekade itu akhirnya sepakat berdamai pada tanggal 15 Agustus 2005 yang diprakarsai oleh Hendry Dunant Center (HDC) di Helsinki Finlandia. Nota kesepakatan damai ini ditandangani oleh kedua belah pihak yang bertikai saat itu, perjanjian tersebut belakangan dikenal dengan sebutan MOU Helsinki, sejak 2005 hingga kini, masih banyak butir-butir perdamaian tersebut yang belum dipenuhi pemerintah pusat kepada pemerintah Aceh yang hingga kini terus dituntut.

 

 

Reporter : Safdar S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *