Dinilai dapat serap SDM, Aktivis SPMA Dukung Pembangunan PLTA Subulussalam

by -33 views
aktivis Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Muzir Maha

MITRAPOL.com, Subulussalam – Rencana pemerintah kota Subulussalam memberikan izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau energi terbarukan dengan pihak PT. ADE bersama Konsorsium Hyundai Enginering dan Conructions banyak yang disalah artikan oleh para pihak, sebagian tidak memahami prosedural dan langsung mengatakan menolak. Demikian disampaikan aktivis Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Muzir Maha, terkait penolakan pemberian izin PLTA di Subulussalam.

“Jika hal ini terus ditanggapi dengan sikap kontra, sungguh sangat merugikan kita dengan potensi alam yang begitu besar lalu kita sia-siakan kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat kita, mestinya dengan adanya PLTA nanti, Sumber Daya Manusia yang kita miliki dapat dimamfaatkan guna mengurangi angka pengangguran,” ucapnya kepada Mitrapol.com, Senin (1/7/2019).

Ia melanjutkan, keberadaan sarjana putra daerah kabupaten Subulussalam hanya akan sia-sia jika tidak ada peluang kerja, oleh karena itu, dia berharap rencana yang memiliki nilai positif ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Kita harus banyak membaca dan melihat informasi di luar, negara lain sudah menikmati dari dulu bagaimana Tiongkok menjadi produsen tenaga air terbesar yaitu 920 TWh atau 16, 9% dari kebutuhan listrik domestik, begitu juga di daerah lain di Indonesia sperti PLTA Kota Panjang provinsi Riau lalu kemudian di Aceh ada PLTA yang berada di Woyla kabupaten. Meulaboh dan beberapa tempat lain,” terangnya.

Dia mengajak agar para pihak dapat memilah-milah persoalan, sebab PLTA ini tidak seperti pembangkit listrik Batubara atau pembangkit berbahan bakar fosil lainnya, yang tidak dapat diperbaharui.

“Ongkos listrik tenaga air lebih rendah, dan tidak akan menghabiskan air, karena PLTA hanya mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik,” lanjutnya

Ia menambahkan, Aceh sampai saat ini masih defisit energi listrik, sudah semestinya harus diberikan ruang ketika ada investor yang ingin berinvestasi, dengan investasi sekitar Rp. 3,6 triliun dapat menghasilkan daya hingga 126 MW.

“Tentunya dengan cukupnya pasokan listrik di Aceh khususnya Subulussalam akan mendapatkan keuntungan bagi kita dengan berkembangnya industri rumahan atau industri skala kecil lainya, akibat lancar nya pasokan listrik, sehingga ekonomi masyarakat pun meningkat tajam,” sebut mahasiswa STKIP BBG Banda Aceh ini.

Menurutnya keterkaitan PLTA dengan lingkungan tidak terlalu urgent, sebab perusahaan juga memiliki aturan dan prospek kerja, mereka tentunya lebih paham akan dampak sosial dan lingkungan sekitar dan mereka pastinya memiliki keahlian di bidang itu, karena tanggungan perusahaan itu yang paling di utamakan adalah lingkungan, ekonomi dan terakhir sosial.

Ia beranggapan, alasan hutan lindung bukanlah pokok permasalahan, sehingga terhentinya proyek strategis ini, sebagai mana diatur dalam Undang-undang pemerintah Republik Indonesia nomor 24 tahun 2010 tentang penggunaan kawasan hutan. Di dalam pasal 4 poin satu dijelaskan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan diluar kegiatan kehutanan dapat dilakukan untuk kegiatan yang memiliki tujuan strategis.

“Upaya pembangunan PLTA tersebut saya kira sah-sah aja, kali ini saya mendukung pemerintah kota Subulussalam, bukan dengan adanya perusahaan tersebut pekerjaan kita lebih terjamin, ya tentu saja secara otomatis pihak perusahaan akan memakai masyarakat sekitar untuk bekerja di perusahaan tersebut sesui amanah UUD 1945,” tutupnya

 

 

Reporter    : Safdar S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *