Rekonsiliasi perlu dan para tokoh stop provokasi

by -31 views
Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum

MITRAPOL.com, Jakarta – Pesta demokrasi di Tanah air melalui Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 telah usai dilaksanakan. Ajang tersebut telah menciptakan ruang perbedaan dan terkadang perselisihan di antara kontestan dan para pendukungnya. Ekspresi perbedaan dan perselisihan tidak hanya diwujudkan di dunia nyata, tetapi secara masif menyeruak di dunia maya dengan sengit.

“Saya kira para tokoh ini semangatnya harus bisa menciptakan rasa tentram. Para tokoh ini ketika bermain di media sosial itu juga jangan terbawa perasaan (baper) juga saat di kritik atau di bully. Jangan terlalu diambil hati atau bersikap emosional kalau ada masyarakat yang mengomentari dengan kata-kata yang agak sinis dan sebagainya akibat dari ucapannya” ujar Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum, di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

“Jadi saya kira kita di Indonesia ini sebagai negara hukum juga. Sebagai umat beragama saya ingin mengatakan bahwa taat beragama itu sama artinya dengan taat bernegara. Sama halnya taat bernegara itu sebetulnya kita sudah mengimplementasikan dari ajaran agama itu sendiri,” tuturnya .

“Termasuk dalam konteks pilpres yang sekarang ini ataupun isu-isu keagamaan yang mutakhir lah yang banyak. Itu harus dicari sumber informasi atau sumber primernya yang otoritatif . Jangan hanya mengandalkan forward misalnya dari pesan WhatsApp grup dan sebagainya,” katanya..

“Karena pada akhirnya ketika undang-undang atau hukum diterapkan melalui Undang-undang ITE pada perilaku seperti itu maka kita sendiri yang akan rugi nantinya,” kata Oman mengakhirinya.

 

Reporter  : Desi

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *