Tebarkan Video Hoax Pemilu dituntut 1 Tahun 6 Bulan Penjara

by -46 views
Terdakwa Andi Kusmana penyebar video hoax saatvmenjalani sidang tuntutan.

MITRAPOL.com, Medan – Andi Kusmana (25) warga Ciamis, Jawa Barat, dituntut satu tahun 6 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan dari Kejati, karena peyebaran video hoax terkait surat suara KPU Medan.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan dipimpin ketua majelis Erintuah Damanik. Selasa (9/7/2019), terdakwa terlihat serius mendengar tuntutan jaksa.

Loading...

Menurut JPU, perbuatan terdakwa melanggar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45 a Ayat 2 UU RI No. 19 tahun 2016 perubahan atas UU RI No. 11 tahun 2008 tentang ITE.

Selain tuntutan pidana penjara jaksa juga menuntut terdakwa membayar denda sebesar Rp 2 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan tambah 2 bulan masa kurungan.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Andi Kusmana selama 1 tahun dan 6 bulan penjara denda Rp 2 juta subsider 2 bulan kurungan,” ujar Randi

Selanjutnya majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan dan dibuka kembali dalam agenda peledoi.

Sementara itu, terdakwa Andi Kusmana yang ditanya wartawan luar ruang sidang menyampaikan penyesalannya dan meminta hukumannya diringankan.

” Saya tulang punggung keluarga. Tidak menyangka bisa ditahan, semoga hukuman diringankan hakim,” ujar terdakwa saat digiring keruang tahanan PN Medan.

Mengutip dakwaan JPU, terdakwa Andi Kusmana ditangkap atas informasi dari Ketua KPU Kota Medan, Agussyah Ramadani Damanik Maret 2019 lalu.

“Terdakwa mengunggah sebuah video disertai dengan caption: KPU Medan digerebek warga, saat mencoblos surat suara 01. kecurangan sudah mulai terlihat secara nyata,” papar jaksa.

Kemudian, Ketua KPU Sumut menyarankan Ketua KPU Medan melaporkan pemilik akun Facebook atas nama Kusmana ke Polda Sumut. Personil Polda Sumut pun melakukan penangkapan terdakwa Andi Kusmana.

Jaksa juga menyebutkan, video yang disebarkan terdakwa ternyata peristiwa ricuh di Pilkada KPU Tapanuli Tengah, bukan di KPU Kota Medan.

“Akibatnya, saksi korban merasa keberatan karena postingan itu mempengaruhi kepercayaan publik terhadap lembaga KPU dan mempengaruhi situasi keamanan,” pungkasnya.

 

 

Reporter : Zul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *