Kabag Ops Polres Melawi akui titik-titik Karhutla sulit dijangkau

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Kalbar – Hampir seluruh kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi terjadi di titik-titik yang sulit dijangkau. Di sisi lain, cara-cara penanganan Karhutla yang bisa ditempuh masih tergolong cukup sederhana.

Lokasi yang sulit dijangkau adalah wilayah ketinggian gunung dan wilayah yang tidak bisa ditempuh oleh alat transportasi apapun. Di wilayah berkontur semacam itu memadamkan api dengan semprotan air pemadam kebakaran hampir mustahil. Cara lain, dengan semprotan dari udara dengan mengandalkan helikopter justru menuntut biaya yang tidak sedikit.

Kamis (01/8/19) pagi, Kabag Ops AKP Dedy F. Siregar saat memimpin Briefing pagi mengakui, “Selama ini penanganan kebakaran hutan dan lahan di areal yang sulit dijangkau hanya mengandalkan cara sekatan dan pemadaman dengan alat seadanya. Cara sekatan maksudnya adalah membersihkan seresah (rumput), daun, dan ilalang kering di areal yang bisa dijangkau, hingga selebar dua meter mengelilingi lokasi kebakaran. Tujuannya, kata dia, agar api tidak menjalar semakin luas.

Cara itu, kata Dedy, akan membuat api padam secara alami, Mengingat, selama ini yang menjadi sebab membesarnya kebakaran adalah seresah (rumput), daun, dan ilalang yang kering.

Namun konsekuensinya, lokasi-lokasi yang sulit dijangkau akan tetap terlahap api, karena tidak mungkin ditangani dengan cepat karena memakan jarak tempuh hingga berjam-jam lamanya dan pertimbangan keselamatan Tim Gabungan. ”Walaupun titik Hotspot sangat jauh kita usahakan untuk mendatangi TKP, jika api belum padam kita padamkan dan selalu memperhatikan keselamatan dalam menangani Karhutla, jika tidak dapat dijangkau titik api misalnya dilereng bukit terjal kita upayakan membuat sekatan dipinggir area kebakaran agar apinya tidak meluas,” jelasnya.

Namun cara seperti itu menjadi altertatif kedua jika memang lokasiknya sulit dijangkau. Ketika memungkinkan, maka tenaga pemadam (Kepolisian, Satgas Gabungan Karhutla Pemda Kabupaten Melawi, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan BPBD Kabupaten Melawi) akan bergerak lebih responsif dalam memadamkan Karhutla.

Hitung-hitungannya, butuh tenaga 20 personel guna memadamkan api yang menjalar di areal 1,5 hektare. Semakin luas areal kebakarannya, maka semakin banyak personel yang diperlukan. “Biasanya metode pemadaman kebakaran hutan dan lahan dengan cara memukul-mukul api secara manual. Biasanya menggunakan ranting pohon kecil atau daun kayu yang dibasahi. Pokoknya masih bisa dijangkau oleh personel,” tuturnya.

Kendati demikian, cara itu hanya mungkin dilakukan untuk ketinggian api di bawah 2 meter. Begitu api meninggi sampai di atas 2 meter, maka solusinya adalah disekat, kendati lokasinya masih bisa dijangkau.

Cara-cara pemadaman konvensional dengan menggunakan semprotan air, ucap Dedy, hampir tidak pernah dilakukan dalam kasus kebakaran lahan dan hutan. “Karena, metode seperti itu justru tidak efektif dan sulit dilakukan di medan hutan dan gunung,” ungkapnya.

“Titik Hotspot setiap harinya mengalami peningkatan secara signifikan merata diseluruh daerah di Kalimantan Barat ini. Oleh sebab itu, mari kita tingkatkan terus kegiatan pencegahan, sosialisasi dan himbauan. Semoga upaya Preemtif dan Preventif yang kita laksanakan dalam “Operasi Bina Karuna Kapuas 2019” ini dapat mengurangi titik-titik Hotspot di Kabupaten Melawi serta masyarakat lebih memahami lagi dampak negatif, kerugian dan sanksi hukum dari pembakaran tersebut,” pungkasnya.

Kegiatan Briefing pagi tersebut dihadiri oleh seluruh Kasatgas, Perwira serta seluruh Anggota yang tergabung dalam “Operasi Bina Karuna Kapuas 2019.”

 

 

Red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *