Dua tersangka kasus penodaan agama ditahan, satu lagi masih DPO

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Timika – Kepolisian Sektor Mimika Baru, Polres Mimika, Papua, menahan dua orang penggerak kelompok yang diduga aliran sesat yang berkedok ajaran Agama Katolik di Mimika, Papua.

Kelompok aliran yang dianggap menyesatkan dan meresahkan salah satu agama di Mimika tersebut dinamakan “Doa Hati Kudus Allah Kerahiman Ilahi”

Kedua orang penggerak kelompok yang ditahan yakni DK (45) selaku pembina dan YK (65) sebagai ketua di kelompok aliran atau ajaran sesat tersebut.

Hal ini terungkap pada saat kepolisian sektor (polsek) mimika baru menggelar jumpa pers terkait kasus Penodaan Agama di Timika bertempat di Mapolsek Miru dipimpin Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto, S.Ik.,MH didampingi Kapolsek, AKP. Ida Wayramra beserta Jajaran Reskrim Polsek Mimika Baru.

 

Dalam Jumpa Pers juga dihadiri Pastor Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan, Pater Lambertus Nita, OFM

Dalam Release, selain DK (45) dan YK (65) masih ada seorang lagi yakni SK masih dalam pengejaran Polres Mimika, SK merupakan pendiri kelompok ini dan tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO) Polres Mimika.

SK saat ini diketahui sedang berada di Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara.

Didalam kelompok menyesatkan tersebut, SK bahkan menganggap dirinya setara dengan Yesus Kristus.

Kapolres Mimika, AKBP Agung Marlianto, S.Ik, MH dalam Press Release menyatakan, berdasarkan keterangan dari saksi Ahli (para tokoh Agama dan Kantor Agama), kelompok ini dinyatakan memang telah menyimpang dan menyesatkan dari ajaran Agama Katolik.

Kelompok ini hadir di Timika berawal di Kompleks Irigasi sejak tahun 2010 lalu, Awalnya ajaran dari kelompok ini belum terlalu mengkhawatirkan karena sama dengan ajaran Agama Katolik, Namun, lama kelamaan kelompok ini justru menyimpang dari ajaran Katolik dan sangat memprihatinkan” ungkap Kapolres Agung.

“Mereka mengganti lambang salib dengan lambang piramida segitiga dan dalam mengucapkan kalimat syahadat fersi katolik lain dan berdoa juga bukan dalam bentuk salib tapi segi tiga kemudian mereka meyakini bahwa SK sebagai nabi,” beber Kapolres

Kedua tersangka yang dihadirkan sama-sama mengakui kesalahan dalam penyimpangan ajaran katolik, dalam pernyatanya, keduanya dengan terbuka menyatakan, menyesali perbuatanya dan meminta maaf kepada Uskup Timika dan para Pastor.

 

“Awalnya (kami) memang dari kelompok Do’a di ajaran Agama Katolik, namun saya juga tidak tau kenapa kami bisa melenceng sejauh ini, saat ini saya menyesal dan sebagai bukti penyesalan, kami sudah buat pernyataan di Polsek Miru, dan juga permohonan maaf dan memohonan ampun juga ke Bapak Uskup dan para Pastor,” pinta YK.

Kapolres juga menambahkan, meskipun adanya penyesalan dan permintaan maaf atas kekhillafan dari tersangka namun untuk proses hukum tetap berjalan, pertimbangan untuk meringankan nanti di pengadilan.

Dalam Rilis barang bukti diantaranya, 5kain selendang warna kuning biru dan keemasan, 1 meja papan terbungkus kain warna biru, 2 tempat untuk bakar kemenyan, 1 bantal dan 1 tikar, 2 spanduk bergambar cakra bertuliskan putra api dan roh, 1 spanduk bertuliskan cakra delapan, 2 bingkai bergambar hati malaikat bumi bertuliskan putra api, dan 4 bingkai pedoman petunjuk arah hidup.

Para tersangka dikenakan Pasal 156a KUHP junto Pasal 55 ayat (1), dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun.

 

 

Reporter: AQM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *