Transaksi CPO Tiga Tahun, Husin potensi rugikan Negara Rp.107 M

by -50 views

MITRAPOL.com, Medan – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan diketuai Erintuah Damanik, Kamis (8/8/2019), melanjutkan persidangan terhadap Husin (41) warga Taman Malibu Indah yang didakwa mengemplang pajak Rp 107 miliar.

JPU T Adlina dan Hendrik Sipahutar dari Kejatisu menghadirkan saksi ahli, Haris Budiman Perangin-angin dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP)

Dalam keterangannya Haris menyebutkan, PT Uni Palma (milik terdakwa) termasuk dalam pengawasan kantor Pajak. Alasannya perusahaan terdakwa terindikasi melakukan transaksi yang tidak sebenarnya, sehingga berpotensi merugikan pemasukan negara.

Diantaranya, kata Haris, perusahaan terdakwa tidak memiliki perusahaan dan karyawan yang lazim untuk melakukan transaksi mencapai miliaran rupiah.

Dengan indikasi itu, kata saksi, Direktorat Pajak menugasi Nirmansyah selaku account refresentatif( AS) melakukan pengawasan terhadap perusahaan mitra perusahaan terdakwa Husin, seperti PT Virora dan Sawitri.

Ternyata transaksi terhadap kedua perusahaan tersebut tidak benar dan pelakunya sudah ada yang dihukum di Pengadilan Negeri( PN) Jakarta tahun 2018.

Ditanya soal potensi kerugian yang ditimbulkan akibat transaksi perusahaan terdakwa, saksi ahli menyebutkan Rp 107 miliar.

Husin ( Uni Palma) melakukan transaksi berupa pembelian dan penjualan CPO dari 9 perusahaan besar di Jakarta dan Medan sejak 2011 hingga 2013.

Diduga, transaksi yang dilakukan terdakwa tidak sebenarnya, dengan cara “menukangi” faktur pajak sehingga menguntungkan pribadi terdakwa.

Menurut Haris penerbitan faktur pajak hanya berdasarkan kepercayaan kepada wajib pajak. Prakteknya, kata Haris , wangi pajak cendrung menyalahgunakan kepercayaan negara itu.

Sidang dilanjutkan Senin (12/8/2019) mendatang. Sebelum menutup persidangan, hakim ketua mengingatkan jaksa untuk mempercepat proses persidangan, sebab masa penahanan terdakwa berakhir 30 September mendatang dan tidak dapat diperpanjang lagi.

Menanggapi itu, jaksa berjanji menuntaskan perkara terdakwa Husin sebelum berakhirnya masa penahanan.

Sesuai dakwaan, Husin mendirikan perusahaan PT Uni Palma yang berkedudukan di rumah Sutarmanto di Jalan Karya Budi No 40 C Medan Johor.

Husin yang semula tidak punya pelerjaan “menyuntik” saham fiktif senilai Rp 200 juta, sedangkan Sutarmanto, Komisaris PT Uni Palma senilai Rp 50 juta.

Dua tahun berjalan PT. Uni Palma melakukan transaksi pemasukan dan pengeluaran kepada 9 perusahaan besar di Jakarta seperti PT Tangguh Jagad Nusantara, PT Bion Sejahtera

Kemudian PT. Agro Sejahtera Mandiri, PT. Bhumi Damai Sejahtera, PT. Agro Karya Gemilang, PT. Bumi Jaya Mas, PT. Graha Loka Jaya Mas, PT. Virora Cipta Indonesia , PT. Virora Cipta Indonesia dan PT. Sawitri Era Plasmasindo

Nilai transaksi, mencapai Rp 230 miliar.Tapi pemasukan ke kas negara kecil, karena terdakwa telah mengkreditkan pajak pemasukan.

Selain transaksi kepada 9 perusahaan yang diduga fiktif, terdakwa juga melakukan transaksi kepada PT Buana Raya ( Kok An Arun) dan PT Liga Sawit Indonesia.

Dalam transaksi itu, terdakwa menerbitkan faktur pajak pengeluaran dalam kurun waktu Januari 2011 sampai Juni 2013 yang dibuat seolah-olah ada penjualan CPO senilai Rp.118.652.823.272,- ,

Kemudian faktur pajak keluaran yang diterbitkan oleh PT Uni Palma, digunakan sebagai pajak masukan yang bisa dikreditkan untuk keuntungan KOK An Harun selaku direktur CV Buana Raya dan PT Liega Sawit Indonesia.

Sedangkan transaksi terdakwa kepada 9 perusahaan di Jakarta sebesar Rp. 107.914.286.966 telah digunakan terdakwa dan saksi Sutarmanto sebagai pajak masukan.

 

 

Reporter : Zul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *