Drama kolosal “Syahidnya Teuku Cut Ali” kisah pengkhianatan dalam perjuangan

by -189 views
Detik-detik Teuku Cut Ali di penggal Belanda dalam drama kolosal Syahidnya Teuku Cut Ali

MITRAPOL.com, Tapaktuan – Persembahan drama kolosal Syahidnya Teuku Cut Ali yang menyemarakkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 di terminal Kluet Utara pada Sabtu (17/8/2019) menyedot perhatian warga yang hadir dalam pelaksanaan upacara kebangsaan itu.

Selain peserta upacara, berbagai kalangan masyarakatpun ikut hadir dan menyaksikan drama yang mengisahkan betapa heroiknya perjuangan pahlawan Aceh Selatan itu.

Di bawah asuhan pegiat seni Aceh Selatan, Zakir, para pemeran yang terdiri dari siswa-siswi itu menampilkan tahap demi tahap hingga gugurnya kesuma bangsa di salah satu tempat persembunyian di rimba Aceh Selatan.

Nampak jelas bagaimana dengan tangan besinya perwira militer Belanda mengerahkan pasukannya untuk memporak-porandakan kekuatan pertahanan pejuang Teuku Cut Ali, namun dengan perjuangan yang gigih setiap serangan Belanda itu mempu di pukul mundur.

Zakir (topi pet) ditengah-tengah pemeran drama syahidnya Teuku Cut Ali

Akhirnya lewat sebuah pengkhianatan oleh seseorang kepercayaan Teuku Cut Ali yang memberitahukan rahasia kelemahan Teuku Cut Ali dan tempat persembunyiannya, pada suatu pagi pahlawan itu gugur ditembus timah Belanda. Sang pengkhianat ini membeberkan apa rahasia kekuatan Teuku Cut Ali serta memberikan jalan dengan memasang jejak dari ampas tebu yang dimakannya, sehingga Belanda dengan leluasa dapat menemukan persembunyian Teuku Cut Ali.

Tidak hanya menembak, setelah syahid lalu kepala Teuku Cut Ali juga dipenggal Belanda dengan tujuan agar tidak ada yang mengenal jasadnya. Kemudian kepala pahlawan itu di arak ke beberapa daerah di kawasan Kluet Aceh Selatan.

Penonton histeris melihat tahapan demi tahapan dalam drama kolosal tersebut, ada yang bahkan menitikkan air mata, mengingat begitu berat perjuangan pahlawan bangsa dalam mengusir kaum penjajah yang berhasrat menguasai Aceh. Teuku Cut Ali syahid akibat ada sosok pengkhianat didalam perjuangannya, ia boleh syahid namun perjuangan terus berkibar dalam mengusir penjajah, semangat dan heroik Teuku Cut Ali hingga kini terpatri dalam sanubari generasi penerus bangsa dalam mengelola kemerdekaan Indonesia.

Zakir, pegiat seni yang sekaligus penyusun skenario drama kolosal Teuku Cut Ali ini mengatakan penampilan drama kolosal pada perayaan 17 Agustus merupakan agenda penting guna mengingat kembali perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

“Sebenarnya tahun ini, saya sudah pernah menyampaikan agar seluruh kecamatan bisa menampilkan Drama kolosal tetang sejarah yang terdapat di Aceh Selatan kususnya Kluet Raya, agar siswa,pemuda dan masyarakat dapat mengetahui kembali tentang sejarah nya sendiri,” ucapnya saat diwawancarai Mitrapol.com di Kota Fajar Senin (19/8/2019).

Menurutnya drama Kolosal Tentang Syahidnya Teuku Cut Ali sengaja disajikan agar masyarakat tau dan mengenal kembali bagaimana heroiknya Teuku Cut Ali dan pengkhianatan yang dilakukan oknum pejuangnya.

“Drama ini sengaja kita sajikan agar siswa dan masyarakat umum dapat mengenal kembali seperti apa kehebatan Teuku Cut Ali, dan seperti apa gambaran terhadap penghianatan kepada beliau,” ujarnya.

Ia melanjutkan awalnya peserta drama dan guru di SMAN 1 Kluet Utara sempat meragukan persiapan tentang naskah prolog Teuku Cut Ali, sehingga ia melakukan wawancara untuk mengetahui bagaimana kisah syahidnya Teuku Cut Ali di masyarakat melalui petua-petua dan sumber yang beredar di internet.

“Setelah naskah prolog kita miliki, latihan terus kita kejar dikarenakan batas waktu hanya tinggal satu minggu, tapi dengan tekat dan niat saya serta kekompakan adik-adik siswa dan guri, drama dan prolog ini dapat juga kita sajikan,ya Alhamdulillah akhirnya seluruh masyarakat yang menyaksikan benar-benar puas dengan pertunjukan kami,” ucapnya.

Ia berharap kedepan semakin banyak tumbuh jiwa-jiwa yang menyukai sejarah dan budaya negeri, sehingga sejarah dan budaya serta seni di Aceh Selatan ini dan Aceh umumnya semakin dikenal dan dinikmati.

“Semakin banyak pemikir-pemikir tentang kemajuan sejarah, budaya, seni, dan adat akan semikin dekat pula kita pada kemajuan,” tutupnya.

 

 

Reporter : Safdar S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *