Enda Putra “Berkedok” bisnis BBM, Bilyet Giro tak dapat dicairkan

by -15 views

MITRAPOL.com, Medan – Pengusaha Enda Putra (47), warga Kelurahan Helvetia Tengah Medan, diperiksa selaku terdakwa perkara penipuan dan penggelapan berkedok kerjasama di bidang penjualan bahan bakar minyak (bbm).

Saat diperiksa Majelis Hakim PN Medan, diketuai Gosen Butarbutar Selasa (10/9/2019), terdakwa banyak membatah, sehingga hakim sedikit berang dan meminta terdakwa tidak berbelit-belit.

“Saudara gak usah banyak cengkunek. Saksi-saksi menerangkan saudara seolah-olah ada mendapatkan Purchase Order (PO) dari perusahaan lain. Hasil penjualan bbm, anda bayar dengan bilyet giro, tapi tidak bisa dicairkan, karena saldo saudara tidak cukup,” sergah hakim anggota Djamaluddin.

Saksi korban M Yusuf Abdullah, selaku pimpinan PT Energi Mutu Pratama dan CV sinar Harapan Abadi menerangkan, terdakwa biasanya berurusan dengan karyawannya bernama Sri Rahayu.

Semula, terangnya, kerjasama jual beli bbm jenis solar dengan terdakwa cukup lancar. Namun, Agustus 2018 pembayaran sendat dan macet, hingga merugikan korban Rp 3,6 miliar.

Biasanya limit waktu pembayaran satu bulan, belakangan bilyet giro tidak bisa dicairkan. Saksi korban sempat menghubungi perusahaan pembeli bbm, tapi perusahaan dimaksud menyebutkan tidak ada menerima order dari perusahaan terdakwa.

“Terdakwa membuat PO fiktif. Seolah ada perusahaan mengorder bbm, pak hakim,” ujar Yusuf.

Saat dikonfrontir, terdakwa Enda membantah. Hasil penjualan bbm telah dibayarkan kepada saksi korban melalui mitra bisnisnya bernama Abdul Khalid. Pria tersebut, kata dia, sudah dilaporkan ke Poldasu Desember 2018 lalu.

Sementara, saksi Sri Rahayu, karyawan saksi korban yang dihadirkan penuntut umum Febrina Sebayang menguraikan, dirinya yang biasa berurusan dengan terdakwa. Pembayaran bilyet giro yang diterima dari terdakwa tidak bisa dicairkan di Bank Mandiri.

Klimaksnya, terdakwa tidak berkutik dengan keterangan saksi Fitri Yuliani, karyawan di perusahaan terdakwa dan saksi Rustiyanti yakni istri terdakwa. “Saya yang buat PO-nya pak hakim atas suruhan susmi,” kata Fitri

Hal senada, Istri terdakwa, Rustiyanti ketika ditanya majelis hakim juga membenarkan kalau dirinya disuruh terdakws untuk menandatangani bilyet giro tersebut.

Dengan bola mata ‘berkaca-kaca’ saksi mengakui kalau perbuatannya salah. Ketika dikonfrontir, terdakwa juga membenarkan keterangan saksi yang istrinya itu.

Sementara saksi Romi, karyawan Bank Mandiri Cabang Balaikota membenarkan sejumlah bilyet giro tidak bisa dicairkan karena saldo tidak mencukupi.

Terdakwa dianacam pidana Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP. Sidang dilanjutkan Selasa pekan depan.

Reporter : Zul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *