Hadiri deklarasian hutan Adat Delong Senenggan, ini arahan Wabup Aceh Selatan

by -129 views

MITRAPOL.com, Tapaktuan – Wakil bupati Aceh Selatan, Teungku Amran bersama Forkopimda dan kepala SKPK Aceh Selatan menghadiri acara peningkatan kapasitas masyarakat dan penetapan serta deklarasi hutan adat Delong Senenggan di dusun Tanah Munggu gampong Durian Kawan Kecamatan Kluet Timur, Rabu (11/9/2019).

Program ini dideklarasikan untuk mendokumentasikan hutan adat di kecamatan Kluet Timur serta pengelolaan sumber daya alam atau pemeliharaan hutan dan air, program tersebut difasilitasi oleh Project Biodiversity Conservation and Climate Protection In The Gunung Leuser Ecosysyem ( BCCPGLE ).

Panitia pelaksana program, Hamka kepada Mitrapol.com mengatakan dalam rangkaian acara tersebut juga sekaligus penandatanganan surat keputusan tentang penunjukan hutan adat seluas 290 hektar.

“Lembaga desa atau gampong telah mengusulkan kepada BCCPGLE hutan desa terluas yang berada di sekitar Suaq Belimbing atau di belakang gunung yang luas 700 hektar,ini merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintahan daerah terhadap keberadaan hutan, kami berharap para pihak untuk mendorong percepatan keluarnya izin hutan desa atau gampong serta adanya kepastian dan legalitas hukum bagi masyarakat untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan di sekitar kawasan hutan,” urainya.

Sementara itu Wakil bupati Aceh Selatan Tengku Amran dalam arahannya menyampaikan bahwa kontribusi untuk konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan iklim di ekosistem Gunung Leuser dan juga untuk stabilitas keanekaragaman hayati serta mengurangi emisi CO2 di Indonesia.

“Secara signifikan titik tujuan proyek BCCPGLE -KFW adalah untuk mendukung pengelolaan konservasi berkelanjutan di ekosistem Gunung Leuser dengan fokus khusus pada hotspot konservasi di Aceh Selatan, Subulussalam dan Singkil, kami berharap melalui kegiatan ini dapat dihasilkan model konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan iklim di ekosistem Gunung Leuser secara menyeluruh dan terencana,” ucapnya.

Menurutnya guna mencapai harapan itu maka diperlukan koordinasi antar para pihak terkait yang berkepentingan mulai dari tahap perencanaan pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan yang memadai sehingga proyek dapat dilaksanakan sesuai dokumen proyek yang telah disepakati oleh dan kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Salah satu bentuk kegiatan itu untuk mendukung partisipasi masyarakat tersebut adalah kesepakatan konservasi misalnya kesepakatan konservasi gampong Durian Kawan yang telah tertuang dalam kanun gampong Durian Kawan nomor 5 tahun 2018 tentang pengelolaan sumber daya alam (adat pemeliharaan hutan dan air ) salah satu amanat kanun tersebut adalah penetapan kawasan hutan adat yang berada di Dusun tanah Munggu Desa durian kawan,” urainya.

Pada kesempatan itu juga bapak wakil bupati Tengku Amran mengatakan bahwa proyek BCCPGLE akan memfasilitasi penyelenggaraan “peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan kelembagaan IPHD serta peluncuran izin perhutanan sosial di proyek BCCPGLE KFW

Hal senada disampaikan NPM Project BCCPGLE-KFW Ir. M.Khairul Rizal menyampaikan perjuangan mereka untuk masuk ke desa dan mensosialisasikan kegaiatan tersebut, sempat mendapat penolakan dari warga, namun akhirnya setelah adanya inisiatif aparatur desa dan pendekatan ke warga akhirnya program ini dapat terlaksana.

“Awalnya masyarakat menolak kehadiran kita setelah ada inisiatif aparatur desa dan kita juga terus-menerus masuk dengan berbagai macam cara sehingga project ini bisa masuk di desa yang kita cintai ini,” bebernya.

Ia menambahkan dalam project tersebut 4 masukan atau 4 capaian yang sangat besar yaitu adalah penanaman sekitar 4000 hektar yang harus dipenuhi dalam 5 tahun jadi dari tahun 2015-2020.

“Nanti 4000 hektar itu harus ditanami oleh kita bersama, baik itu di desa durian kawan maupun di desa yang lain, jadi project ini ada di 3 kabupaten kota yaitu Aceh Selatan Subulussalam dan Aceh Singkil, Insya Allah ini sangat saya apresiasi sangat saya banggakan sebenarnya masyarakat sudah mengusulkan untuk pembuatan hutan adat yang ada di desa,” lanjutnya.

Ia juga mengapresiasi dan berterima kasih untuk perangkat dan aparatur desa dan masyarakat di desa, masih katanya, bahwa kabupaten Aceh Selatan memiliki hutan yang sangat luas yang dapat dilihat dari topografi Aceh Selatan inilah yang sangat kompleks dengan kawasan yang fungsinya berbeda-beda.

 

 

Reporter : Safdar S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *