Proyek Rumah Dhuafa di Desa Pantee Rambong diduga tidak sesuai spek

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Aceh Timur – Proyek pembangunan fisik Rumah Dhuafa tanpa papan nama, rawan korupsi. Karenanya, diminta untuk setiap pekerjaan pembangunan di wilayah Indonesia, khususnya Kabupaten Aceh Timur yang menggunakan uang Negara harus dipasang papan nama.

Pembangunan Rumah Dhuafa di Desa Pantee Rambong kecamatan Pantee Bidari, ditemukan tidak terlihat papan plang proyek, Belum diketahui, apakah ini sengaja atau memang lupa. Padahal, berdasarkan aturan dengan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah, keberadaan papan proyek wajib dilaksanakan pelaksana kegiatan, meski kadang dipandang sebelah mata. Sabtu (19/10/2019).

Masri Aktivis Anti Korupsi mengatakan, Kewajiban memasang plang papan nama proyek tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 70 tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Perpres nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Regulasi ini mengatur setiap pekerjaan bangunan fisik yang dibiayai negara wajib memasang papan nama proyek.

Sesuai aturan, seharusnya saat mulai dikerjakan harus dipasang plang papan nama proyek. Supaya masyarakat mengetahui jumlah anggaran dan bisa ikut serta mengawasinya, ujar Masri.

Salah satu rumah Dhuafa di desa Pantee Rambong, sebut saja Imah nama samaran, pihak konsultan pengawas memerintahkan kepada tukang untuk mengaduk semen satu banding 4 dengan menggunakan kereta sorong, bukan menggunakan tong pengukur, dan apabila semenya tidak cukup penerima rumah harus membeli sendiri.

Sementara tukang yang bekerja di rumah tersebut, berhenti tidak mau melanjutkan pekerjaan rumah tersebut. Karena pengawas meminta kami untuk mengaduk semen dengan pasir 1 banding 4, kami khawatir akan ketahanan, dari pada kami yang disalahkan gara-gara adukan semen tersebut, kami akan melanjutkan pekerjaan rumah tersebut, apabila kami boleh mengaduk 1 banding 3 ucap tukang yang tidak mau lagi bekerja karena takut salah

Disaat awak media Mitrapol.com mencoba mencari tau perusahaan apa yang bekerja dan mengawasi kegiatan rumah tersebut, awak media hanya bisa menghubungi Mustafa via henphone, mustafa tidak tau perusahaan pekerjaan tersebut, dan Mustafa juga tidak pernah meminta kepada pemilik rumah untuk beli semen yang tidak cukup bantahnya.

Sambungnya lagi tolong hubungi pak Ridwan untuk lebih jelas, karena dia petugas lapangan ucap mustafa

Amatan awak media Mitrapol.com di lapangan, jelas terlihat di desa-desa lainnya, pembangunan rumah Dhuafa menggunakan besi 10 ml. dan behel 6 ml, sedangkan di desa pantee Rambong pembangunan rumah dhuafa menggunakan besi 8 ml dan behel 4 ml, banyak terjadi perbedaan dalam pembangunan rumah Dhuafa yang bersumber dari APBA provinsi,

Mirisnya pembangunan rumah Dhuafa di desa Pantee Rambong, menyisakan banyak tanda tanya, disaat awak media Mitrapol.com mencoba menghubungi pengawas yang diduga dari CV IT GROUP, seperti yang diminta oleh Mustafa, Ridwan menjawab saya tidak ada masalah sama abang, jadi gak perlu saya jelaskan, mohon maaf bang ya, jawabnya singkat.

Hingga berita ini ditayangkan media Mitrapol.com belum mendapatkan konfirmasi PPTK maupun rekanan.

 

 

Reporter : Zul Aceh

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *