Tersangka Dwi Tanoyo : Maafkan Ibu, saya tak berniat membunuh bapak

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pringsewu – Tubuh Dwi Tanoyo tak berhenti bergemetar. Sepasang bola mata putra bungsu dari dua bersaudara itu berkaca-kaca. Suaranya parau. Tampak jelas pada raut wajah pemuda asal Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu itu, hatinya disesaki sesal dan rasa bersalah tak berkesudahan.

Betapa tidak, “nasi telah jadi bubur.” Alih-alih sekedar menakut-nakuti, sepasang tangan Dwi Tanoyo justru menjadi pencabut nyawa ayah kandungnya, Ahmad Kasian alias Kemat.

Dalamnya sesal dan rasa bersalah yang terus menggelayuti benaknya pun tiada guna. Kepada petugas Polsek Pagelaran Polres Tanggamus, tersangka mengaku tak menyangka sampai gelap mata menghabisi nyawa ayahnya.

Bahkan hingga di wawancarai di Mapolsek Pagelaran Jum’at (25/10/19), Dwi Tanoyo masih belum mempercayai realita di hadapan matanya.Bahwa sedari sekarang, ia akan menghadapi proses panjang palu hukum akibat perbuatannya. Kendati mulutnya tak berhenti bersumpah bahwa ia tak sengaja melakukannya.

Duduk tertunduk lesu, sepasang tangan Dwi Tanoyo terborgol di balik punggung dengan penjagaan ketat petugas berseragam. Bangku panjang kantor polisi itu, seakan menjadi saksi bisu dalamnya samudera sesal yang menghantuinya sejak peristiwa tragis malam hingga sepanjang sisa umurnya.

“Ibu, saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena ini takdir kesalahan saya [telah membunuh bapak],” ucapnya lirih.

Ia berdalih, tidak ada niatnya untuk membunuh orang tuanya, namun saat kejadian dia hanya ingin menakuti ayahnya. Bahkan ia bertanya, entah kenapa sampai gelap mata. Ia pun merasa tak habis fikir, sampai terjadi peristiwa itu.

“Tidak ada rencana [pembunuhan], dalam hati kecil sayapun tidak ada. Masalahnya hanya bapak ngomongin saya terus. Karena saya di rumah nganggur, sebelumnya saya bekerja di perantauan. Sehingga di rumah bantu orang tua ngarit,” ucapnya.

Lagi, kalimat tanya ketika ia merasa bingung mencari titik kesalahan itu, padahal sebelumnya jika ia dimarah seperti apapun ia cuma ngomel dan pergi.

“Entah, titik kesalahannya dimana, biasanya [di marah], saya cuma ngomel-ngomel sambil jalan, ngengkol motor pergi. Tidak pernah saya ngomong kasar sama orang tua. Paling pulangnya diem-dieman, nanti ngobrol kembali enggak ada rasa dendam,” jelasnya.

“saya benar-benar menyesal, saya masih butuh orang tua, sampe terjadi seperti ini. Kenapa saya melakukan hal seperti itu, mau di urus seperti apa saya terima. Mengikuti jalur hukum, karena saya bersumpah demi langit dan bumi saya khilaf,” lanjutnya.

Ia kembali menerangkan, sebelum kejadian, hal itu (pengalungan arit di leher ayahnya) di lakukan agar ayahnya tidak memarahi saat ia belum bekerja. Dan ia juga mengaku telah berusaha membantu orang tuanya.

“saya susah mencari rumput, dimana-mana kering semua, bela-belain mencari rumput ke sejumlah tempat bahkan keluar kota. Itu saya lakukan demi mengurus orang tua, karena jika dia [bapak] sakit kencingnya darah dan ibu saya kakinya pincang, tidak bisa membawa berat,” terangnya.

Diakhir kata, Dwi berjanji akan mebalas budi jika ia keluar penjara nanti dan walaupun butuh waktu lama.

“Walaupun lamanya saya di tahan, suatu hari saya akan membalas budi kepada keluarga saya dan seandainya ibu saya masih hidup bagaimanapun caranya saya akan menebus kesalahan saya,” ia kemudian menutup bibir.

Dua petugas menggiringnya ke sel tahanan, masih tampak wajah Dwi dibalik jeruji, seperti terasa kembali ingin berkata-kata.

 

 

Reporter : Deni Andestia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *