Jelang akhir tahun, Bea Cukai gagalkan 4 kasus upaya penyelundupan Narkotika

by -14 views

MITRAPOL.com, Tangerang – Momen akhir tahun dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat untuk mempersiapkan diri serta merencanakan destinasi untuk menikmati momen libur panjang.

Bea cukai sebagai institusi yang berada di garda terdepan dalam melakukan pengawasan atas lalu lintas barang tentunya harus semakin waspada menyambut kuantitas arus barang yang meningkat tersebut.

Dengan kerjasama antara Badan Narkotika Nasional (BNN), Bareskrim Polri, dan Bea Cukai serta Polresta Bandara Soekarno-Hatta, selama Bulan Oktober dan November 2019, berhasil menggagalkan empat upaya penyelundupan barang terlarang, sebanyak 1.883 gram methamphetamine, 2.035 butir pil Ekstasi, serta 965 gram Ketamine berhasil digagalkan masuk ke Indonesia.

Total kasus penyelundupan narkoba ini terdiri dari empat kasus, satu kasus dilakukan dengan modus barang kiriman, sedangkan tiga kasus dilakukan dengan modus barang penumpang dengan jumlah tersangka yang berhasil diamankan sebanyak 4 orang yang keseluruhannya merupakan Warga Negara Asing (WNA).

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor pelayanan utama (KPU BC) Tipe C Soekarno-Hatta pada hari Selasa, (19/11), Kepala KPU BC Tipe C Soekarno-Hatta Finari menjelaskan kronologis empat kasus penyelundupan narkotika ini kepada awak media.

Kasus pertama, Selasa (08/10), berdasarkan hasil Xray yang dilakukan oleh petugas, dicurigai satu paket barang kiriman dengan asal pengirim Perancis, setelah dilakukan pemeriksaan mendalam ditemukan barang berupa dua set tempat penyimpanan pakaian yang dapat dilipat dan digantung (Organized Compartment) yang didalamnya masing-masing disembunyikan papan kardus berisi pil berwarna yang bertuliskan antara lain vodafone, lebara, kapan dan EA dengan total sembilan papan kardus berisi 2.035 butir pil. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap pil tersebut dengan alat uji Narkotika dan kedapatan positif MDMA (Metilendioksimetamfetamina) atau Ekstasi.

Kasus kedua, Kamis (17/10) di Terminal 2F, berdasarkan hasil profiling dari petugas terhadap penumpang ex-pesawat Malindo Air dengan rute penerbangan Chennai-Kuala Lumpur-Jakarta dilakukan pemeriksaan atas barang penumpang berinisial CCR (62) seorang pria warga negara India, dari hasil pemeriksaan didapati enam buah kain India yang dilipat rapi yang dilipatannya disembunyikan kemasan plastik berisi kristal bening dengan berat bruto 1.056 gram.

Kasus ketiga, Selasa (29/10) di Terminal 3, berdasarkan hasil profiling dari petugas terhadap penumpang ex-pesawat Ethiopian Airline dengan rute Conakry-Abidjan-Addis Ababa-Jakarta dilakukan pemeriksaan atas barang penumpang berinisial MA (62) seorang wanita warga negara Ghana, dari hasil pemeriksaan barang kedapatan negatif, selanjutnya dilakukan pemeriksaan badan dan ditemukan 47 butir kapsul plastik berisi kristal bening yang diselipkan pada pakaian dalam dan diantara anggota badan dengan jumlah total berat bruto barang 87 gram dan dari hasil uji narkotika kristal bening didapati positif methamphetamine adapun penumpang tersebut pada saat datang, di dalam terminal dijemput oleh pihak dari PT A yang bergerak di bidang jasa travel.

Kasus terakhir terjadi, Selasa (05/11) di Terminal 2F, berdasarkan hasil Xray dilakukan oleh petugas atas barang dua orang penumpang ex-pesawat Air Asia dengan nomor rute Guangzhou-Kuala Lumpur-Jakarta dengan inisial RB (28) dan HB (25) yang keduanya berkewarganegaraan China dicurigai adanya pencitraan yang perlu untuk diteliti lebih mendalam, setelah dilakukan pemeriksaan fisik atas barang berupa tas tangan dan tas punggung didapati negatif temuan.

Kedua orang WNA tersebut selanjutnya, dilakukan pemeriksaaan atas bagasi dan didapati pakaian perempuan dan handuk berwarna putih yang dilipatannya disembunyikan serbuk kristal putih, setelah dilakukan pengujian terhadap serbuk kristal putih tersebut didapati positif Ketamine sejumlah 965 gram.

Finari Manan mengatakan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika para pelaku dapat diancam dengan hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 tahun dan pidana denda maksimal Rp.10 Milyar ditambah 1/3 dalam hal barang bukti melebihi 1 Kilogram.

Finari pun menambahkan, bahwa upaya pemberantasan Narkotika ini bukan hanya merupakan tugas aparat hukum saja, melainkan juga dibutuhkan peran aktif masyarakat dalam membendung peredaran narkotika dan melindungi generasi penerus vangsa dari penyalahgunaan narkotika itu sendiri.

 

 

Reporter : Sagala/Fera

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *