Selain dalam sengketa, AMP PT. Vanessa Mandiri Utama diduga pakai minyak tanah bersubsidi

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Simeulue – Aspalt Mixing Plent (AMP) milik PT. Vanessa Mandiri Utama yang beroperasi sejak tahun 2018 tetap beroperasi meski dalam sitaan Polres Simeulue.

Diketahui penyitaan pengadilan Negeri Sinabang tersebut nomor : 11/ pen. Pid/ 2018/ PN. Snb, tanggal 05 Maret 2018 dan Surat perintah penyitaan Nomor: SP, Sita /14/ III/ RES/ 1.11/2018 / Reskrem, tanggal 12 Maret 2018. Dalam perkara tindak pidana penipuan dan pengelapan.

Menurut Sarwadi, Ketua Distrik GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) mengatakan, laporan dengan perihal keberatan atas pemakaian alat sitaan sudah di layangkan ke Polres Simeulue, malah sempat di Polis Line lokasi tersembut, namun pihak pengusaha pekerjaan tersebut tetap melaksanakan kegiatannya.

Selain mengelola AMP sitaan, juga diduga perusahaan yang di kelolanya, “Tidak memiliki Izin Minyak Industri,” malah memakai Minyak tanah bersubsidi dan Minyak Solar bersubsidi untuk mengoperasikan kegiatannya di lapangan.

Yang menjadi pertanyaan “Mengapa di biarkan,” Minyak tanah di kumpulkan melalui angen pengencer pengencer yang ada di seputaran Simeulue Timur dan kecamatan kecamatan lainya yang ada dikawasan kabupaten Simeulue. Padahal minyak tanah bersubsidi tersebut untuk masyarakat, bukan untuk campuran aspal, maupun kegiatan Lainnya.

Begitujuga minyak solar yang di pakai untuk AMP Desa Kuala makmur bukan minyak Solar industri tetapi minyak Solar bersubsidi, dalam hal ini masyarakat kecil sangat di rugikan oleh oknum perusahaan tersebut.

Di dalam punyalah gunaan BBM bersubsidi melanggar pasal 55 juncto pasal 56 undang undang nomor 22 tahun 2001 tentang minyak Gas dan Bumi dengan ancaman pidana maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp 60 Milyar.

Ditempat yang sama pengambilan pasir atau tambang pasir liar yang tidak memiliki izin bebas beroperasi di sungai.

Didalam hal ini ada juga pengutipan liar di lokasi Zainal Husen Rp 50,000/Satu Damtruk dan juga di dusun Sibo ada pengutipan liar juga Rp 20,000/satu mobil.

Tokoh Masyarakat Desa Kuala Makmur yang di hubungi awak media mitrapol melalui saluran telpon, yang tak mau di sebut namanya megungkapkan PT. Vanessa Mandiri Utama tampa ada basa basi ke kepala desa, maupun ke dusun dan Tokoh Masyarakat.

 

 

Reporter: Sarwadi.

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *