Legenda Panglima Perang Asal Lampung, Menak Pati Prajurit

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Tubaba – Legenda tentang Panglima Perang asal Lampung, Menak Pati Prajurit, yang terkenal sampai saat ini, menjadi daya tarik tersendiri, guna menelusuri lebih jauh tentang legenda ini, Wartawan Mitrapol menyambangi rumah kepala kampung Hasanudin Ilyas di Tiyuh Pagar Dewa kabupaten Tulang bawang barat, kampung yang kecil namun penuh kisah misteri. Jum’at (26/12/2019).

Hasanudin Ilyas menyambut wartawan mitrapol dengan ciri khas logat Lampung, tidak terlalu lama berbincang Ilyas panggilan akrabnya mulai menjelaskan kisah asal-usul menak Pati Prajurit,

Cerita melegenda tentang kisah Tuan Rio Mangku Bumi, sampai juga ketelinga anaknya, Minak Kemala Bumi/Minak Pati Pejurit, yang berada di Banten. Kabar itu membuat hati sang pangeran dari kerajaan Tulangbawang itu gusar.

Cekei Dilangek yang memberikan kabar tentang kekalahan tersebut, diperintahkan untuk segera mempersiapkan penyerangan balik ke Palembang. Kondisi tersebut membuat Sultan Banten pada posisi bingung. Ratu Palembang merupakan anak angkat kesayangan, sedangkan Minak Pati Pejurit merupakan kawan seperguruan. Sultan Banten, mencari akal agar keduanya tidak bertemu dimedan laga.tuturnya

Mengulur waktu, itulah yang dapat dilakukan Sultan Banten saat itu. “Salah satunya untuk mengulur waktu itu, Sultan Banten meminta kepada para muridnya membuka sebuah sebidang tanah, yang ternyata dihuni oleh raja iblis. Semua muridnya tidak sanggup, sehingga meminta kepada Minak Pati Pejurit untuk membukanya. Ini salah satu cara Sultan mengulur waktu,” kata dia. Tepat dimalam hari Minak Pati Pejurit meminta segera melakukan pembukaan lahan tersebut.

Perlawanan terhadap Raja iblis, Ratu Pucuk Kumun, menggunakan segala tenaga dalam dan ilmu yang dimiliki Minak Pati Pejurit. Dalam perkelahian tersebut akhirnya ratu iblis terkalahkan. Ratu Pucuk Kumun, menghilang dan terbang hingga tidak kembali lagi. Namun hanya beberapa waktu saja, Minak Pati Pejurit bersabar hati. Setelah semua dianggap beres, pangeran asal kerjaan Tulangbawang itupun mempersiapkan perlawanan ke Palembang, untuk menjemput ayah tercintanya.

Saat memasuki wilayah Palembang dengan menelusuri sungai, Minak langsung berhadapan dengan tiga panglima Palembang, Si Gentar Alam, Si Lebar Daun dan Si Miring Kapal.

Dalam sebuah riwayat yang ditulis para puyang setempat, berkatalah Minak Pati Pejurit kepada tiga panglia tersebut; pantang surut langkah terlanjur, takan maju bilakan mundur, biarkan badan matu terkubur, hidup sekali selama umur. Tak usah berlagak congkak, kau bertiga kuanggap tonggak, kita bermain diatas tombak, carilah aku didalam jejak. Belum habis Minak Pati Pejurit, berkata panjang lebar, ketiga panglima tersebut langsung menyerang, terannya.

Perlawananpun terjadi, saling hantam dan saling pukul menggunakan kekuatan tidak dapat dielak lagi. Sungai Musi bagaikan bah banjir, yang terlihat melanda kemana-mana. Kendati satu lawan tiga, tetapi terlihat ketiga panglima ratu Palembang itu kewalahan. Betapapun tidak, begitu Minak Pati Pejurit, terhunus terkapar, dua puluh muncul wajah serupa, begitu seterusnya. Melihat keajaiban itu, Si Gentar Alam segera kembali keistana untuk memohon restu kepada rajanya.

Alangkah terkejutnya, semua sudut ruangan istana di cari ternyata Ratu Palembang itu sudah tidak ada lagi ditempat. Sesuai perkataan sebelumnya, Sang ratu akan meningalkan istana sebelum dipermalukan dalam kekalahan. Dengan perasaan yang tidak menentu, Si Gentar Alam segera meninggalkan istana dan kembali bergabung besama dua panglima untuk melawan Minak Pati Pejurit. Malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih, itulah yang terjadi. Ketiga panglima tersebut bertekuk lutut dan kalah. Tuan Rio Mangku Bumi dibawa kembali ke Pagar Dewa Setelah ketiga panglima itu menyerah dan pergi, Minak Pati Pejurit segera membawa pulang ayah tercintanya, Tuan Rio Mangku Bumi, yang hanya tinggal kepala saja.ungkapnya

Namun, masih dapat berbicara. “ Tuan Rio Mangku Bumi, berkata kepada Tuan Rio Mangku Bumi, untuk segera membawanya pulang ke Pagar Dewa, karena ditakutkan nyawanya putus di tanah orang (Palembang, RED). Maka segera dibawa pulang ayahnya tersebut,” kata Assa;ih Akib, sambil menghisap rokok filternya. Tuan Rio Mangku Bumi, akhirnya dibawa pulang menuju Pagar Dewa, saat sampai di ujung Kampung Pagar Dewa (sekarang) saat itu masih hutan belantara dengan nama Cekat Menasou, Tuan Rio Mangku Bumi, meminta kepada anaknya tersebut untuk menguburkan jasadnya.

Tuan Rio Mangku Bumi, tidak mau dibawa masuk kampung karena merasa malu atas kegagalannya. Pesan terakhir yang disampaikan Tuan Rio Mangku Bumi, kepada Minak Pati Pejurit, bahwa akan hilang kampung Pagar Dewa jika Minak Pati Pejurit, tidak dapat mengalahkan Raja Palembang. Disumpahkan kepada anak cucunya, turun temurun mereka untuk tidak mengadakan hubungan perkawinan dengan orang Palembang. Segala tanam tumbuh yang condong ke Palembang, harus segera ditebang. Semua anak keturuanannya juga dilarang memakai alat atau senjata yang berasal dari kota empek-empek itu.

Setelah menyemayamkan ayahandanya, Minak Pati Pejurit, kembali ke Pagar Dewa, dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Banten. Kedatangannya di Banten, disambut gembira oleh Sultan Banten. Pada saat itulah Minak Pati Pejurit, meminta restu kepada sultan untuk mengalahkan dan menghancurkan kerajaan Palembang. Sultan Banten, akan merestui Minak Pati Pejurit, dengan syarat Minak Pati Pejurit, mampu mempersunting Puteri Balau anak Ratu Balau di Lampung. “Karena untuk menghancurkan dan mengalahkan Ratu palembang itu adalah amanah ayahnya.

Tapi pembicaraan Sultan Banten, dianggap masuk akal. Karena dikhawatirkan Minak Pati Pejurit, tewas dalam pertempuran belum juga memiliki keturunan. Maka dari itu, perkataan Sultan diturutinya,” katanya. Minak Pati Pejurit ke Balau Minak Pati Pejurit, kembali ke istananya di Tulangbawang, dan kemudian menemui kedua pamanya; Tuan Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak. Seperti yang diharapkan Sultan Banten, Minak Pati Pejurit, hendka melamar Putri Balau, dan diceritakanlah maksud hatinya tersebut kepada kedua pamanya. Bersama paman dan beberapa punggawanya, Minak Pati Pejurit, melakukan perjalanan menuju Balau, melalui sungai Tulangbawang, lalu melintasi lautan jawa dan sampailah di Muara Way Lunik (Pelabuhan Panjang, Saat ini).

Tidak mudah memasuki kerjaan tersebut karena penjagaan sangat ketat. Kendati kerajaan kecil tetapi terkenal kuat dan disegani oleh kerajaan lain. Secara bersamaan dengan kedatangan Minak Pati Pejurit, ternyata Ratu Balau sedang mengundang para pangeran dari kerjaan lain. Pada malam hari ketika itu merupakan waktu adu tanding untuk memperebutkan Puteri Balau. Sebanyak 40 orang ikut dalam adu kesaktian, yang digelar Ratu Balau. Kedatangan Minak Pati Pejurit, ternyata telah diketahui oleh Ratu balau yang mendapatkan laporan dari salah seorang punggawanya. Ketakutan para prajurit yang menjaga perbatasan, karena Minak Pati Pejurit, memiliki siasat yang sangat jitu. Di perbatasan itu bersama para rombongan, Minak Pati Pejurit memanggang seekor rusa, dan menyamarkan seolah-olah mereka memanggang dan kemudian makan tubuh manusia.

Malam pada kompetisi perebutan puteri Balau tersebut, ternyata sang puteri sedang jatuh sakit. Hasil pemriksaan para nujum, puteri Balau tidaklah menderita sakit badan. Tetapi sakit karena merindukan seseorang. Berkatalah sang putri yang tiba-tiba siuman, bahwa selama dua sampai tiga malam berturut-turut telah bermimpi bertemu seorang pemuda gagah dan tampan, berasal dari utara Lampung. Pemuda tersebut ingin mempersunting sang puteri. Ternyata Puteri Balau, juga jatuh hati.

Ratu yang mendengar perkataan sang puteri, murka. Karena dianggap membuat malu. “Malam itukan sudah ada 40 pembesar yang memang diundang Ratu Balau. Kalau sampai Puteri balau memilih pergi begitu saja dengan pemuda yang diimpikannya, yang ternyata adalah Minak Pati Pejurit, maka akan membuat malu. Makanya Ratu Balau sangat marah dan kecewa. Tetapi puteri akan mengakhiri hidupnya jika ayahandanya tidak merstui keinginan puterinya tersebut,” ujarnya. Pada malam perhelatan yang melibatkan 40 pangeran dari kerajaan tersebut, tiba-tiba muncul Minak Pati Pejurit, ditengah-tengah mereka.

Kemarahan ke 40 orang segera memuncak, melihat kedatangan Minak Pati Pejurit, yang tidak diundang itu. Minak Pati Pejurit, yang merasa harus mempersunting pouteri Balau, tidak tinggal diam dan segera ditantang ke 40 pemuda tersebut. Belum sempat pertarungan terjadi, Puteri balau segera bangun dari peraduan, dan saat melihat kedatangan Minak Pati Pejurit, sang Puteri segera memeluk Minak Pati Pejurit. Lalu bersimpuh dikaki ayahandanya seraya minta restu untuk pergi bersama Minak Pati Pejurit.

Ratu Balau yang mendengar permintaan anak kesayangannya tersebut, tidak dapat mengelak. Ratu Balau segera meraih Cupu dan kemduian diberikan kepada sang puteri. “Ratu Balau meminta kepada puterinya untuk membawa Cupu tersebut, dan melarang dibuka sebelum sampai ditempat tujuan.

Berbicara masalah benda yang diberikan kepada puteri Balau itu, di Tulangbawang masih berlaku sampai saat ini. Yakni seorang gadis yang bersuami , senantiasa membawa sebuah bawaan itulah yang dinamakan sesan,” kata Assa’ih. Takut akan ancaman para pemuda pelamar sang Puteri akan menghancurkan keratuan Balau. Minak Pati Pejurit, memohon restu untuk menghabisi mereka. Minak Pati Pejurit, berlari menjauhi istana dan dikejar oleh 40 pemuda tersebut. Saat sampai di tepian Muara Way Lunik, Minak Pati Pejurit, segera melakukan perlawanan.

Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, ternyata Minak Pati Pejurit, berhasil mengalahkan ke 40 anak raja-raja tersebut. Jika dalam sebuah riwayat itu benar maka, peristiwa itu terjadi di Pulau Tuku Tiga di tempat inilah para putra raja-raja yang melamar puteri Balau itu terkubur. “Makanya tempat itu sampai saat ini terkenal angker.

Jika peristiwa itu benar maka para pengaran dari kerajaan yang kita tidak kenal itulah terkubur disana. Saat Minak Pati Pejurit yang sudah memenangkan pertempuran itu, menjemput permaisurinya. Ketika berada di Pulau tersebut, maka berkatalah dia, pulau yang telah membawa jasa tersebut tidak dapat dibalasnya, maka nama pulau itu diganti dengan nama Pulau Pejurit,” katanya. Setelah kemenangan tersebut, keratuan Balau aman, dan Minak Pati Pejurit bersama isterinya berlayar menuju Banten.

Beberapa pekan berada di Banten dan berkeliling daerah itu. Minak Pati Pejurit, melanjutkan perjalanan ke Pagar Dewa. Cupu Berisi Ikan Teri Nasi Sesampai di perbatasan Pagar Dewa, Puteri balau segera membuka cupunya, dan ternyata berisi teri nasi. Teri tersebut berlompatan ke muara. Sampai saat ini ikan teri nasi itu hidup subur, bahkan masih dijadikan Sesan di daerah Tulangbawang.

Setiap gadis yang akan berumah tangga, saat akan meninggalkan orang tuanya menuju rumah calon mertua telah disipakan bermacam-macam benda/barang serba mewah sebagai bawaan gadis, yang kemudian disebut Sesan. Ternyata sampai saat ini juga di sungai yang ada di Tulangbawang, banyak ikan-ikan teri nasi.

Hal itu menandakan adanya kelebihan tersendiri bagi orang-orang dulu. Tulisan pada rubrik Jelajah, yang kami suguhkan belum tuntas. Dan akan dikupas selanjutnya pada edisi yang akan datang, mengenai Kerjaan Tulangbawang sesudah Islam, paparnya.

 

 

Reporter : Dan

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Tlg disebutkan sumber dari ceritanya kepada Mitrapol, karena cerita anda bersumber dari buku berjudul kerajaan Tulang Bawang Lampung sebelum dan sesudah islam. Penulis Alm. Hi. Assa’ih Akip.