Akibat banjir satu meninggal di Cengkareng, Camat lambat dalam menyikapi

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta Cengkareng – Camat cengkareng A FaQih dinilai lalai dan kurang tanggap atas bencana banjir yang menelan korban jiwa di RT 11/01 Kelurahan Cengkareng Barat.

Jaenal Abidin, Pemerhati tata kota dan kebijakan pemerintahan kepada wartawan menuturkan bencana banjir yang menelan korban jiwa adalah tamparan keras bagi aparatur kecamatan cengkareng dinilai bekerja hanya sebatas menggugurkan kewajiban.

“Buat apa ada posko kalau cuma dijadikan pusat Selfi bagi para aparatur setempat,” kata Jaenal kepada Wartawan Sabtu (4/1/2020).

Ia merinci berdasarkan penelurusan dan data yang berhasil dihimpun terdapat 7 titik banjir dikecamatan cengkareng dan hampir keseluruhannya terdapat posko bantuan.

Namun sayangnya warga yang Terdampak langsung dari bencana tersebut justru luput dari perhatian jajaran kecamatan cengkareng.

“Seharusnya mereka memiliki data yang akurat sehingga pemetaan yang dilakukan tidak salah arah,” tuturnya.

Atas kondisi tersebut ia menilai data yang dimiliki kecamatan cengkareng yang digunakan sebagai dasar untuk mendirikan tenda tenda darurat sia sia dan tidak berfungsi dengan maksimal.

“Data yang digunakan untuk melakukan pemetaan oleh aparatur kecamatan cengkareng salah total, dan berakibat fatal,” jelasnya.

Ia berharap kedepan aparatur kecamatan Cengkareng dapat meminimalisir kesalahan pengolahan data dan pemetaan yang dilakukan sehingga tidak lagi ada korban jiwa.

“Berdasarkan data itu bisa dilakukan tindakan tindakan preventif, misalnya lokasi jumlah penduduk yang terkena dampak, kontur lingkungan dan usia rentan, jangan asal bangun dan yang penting atasan lurah camat senang,” pintanya.

Sementara itu, Camat Cengkareng A Faqih saat dihubungi wartawan via selulernya berkilah pada saat kejadian bencana pihaknya telah melakukan prediksi sebelumnya, namun curah hujan yang tinggi diluar dugaan.

“Kita sudah membuat SOP tanggap bencana, kita prediksi hujan ditahun ini akan sama seperti ditahun kemarin perkiraannya hanya sekitar 100mm perjam ternyata kejadiannya itu sampai 375 mm per jam,” kata Camat dihubungi Via selulernya.

Saat disinggung terkait gagalnya penanganan bencana yang menelan korban jiwa pada bencana banjir tersebut dirinya berkilah yang bisa menilai gagal tidaknya penetapan tanggap bencana adalah kewenangan gubernur provinsi DKI Jakarta.

“Silahkan anda tanyakan itu kepada gubernur, kita melayani masyarakat bagaimana melakukan pertolongan,”singkatnya.

Untuk diketahui, Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Suhanda, Korban yang diduga meninggal lantaran kelelahan saat bencana banjir melanda kawasan ibu kota dan sekitarnya.

Suhanda diketahui meninggal disalahsatu mushola yang dijadikan warga RT 011/01 Kelurahan Cengkareng barat Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat sebagai tempat pengungsian lantaran minimnya bantuan dari pemerintah setempat.

M Yunus salah seorang anak korban kepada wartawan menuturkan, sebelum meninggal korban sempat mengeluhkan dingin disekujur badannya lantaran nihilnya bantuan dari pemerintah setempat kendati posko bencana tidak jauh dari tempatnya berada.

“Boro boro ada bantuan dari pemerintah, melongok kamipun tidak,”.kata Yunus kepada wartawan sabtu (4/1/2020).

Ia menilai, minimnya perhatian dari pemerintah kelurahan dan kecamatan Cengkareng tersebut disinyalir lantaran kurang sigapnya para petugas yang bersiaga disekitaran posko bencana yang tidak jauh dari posisi tempat meninggalnya almarhum.

“Saya tidak habis fikir, kenapa orangtua saya dan warga sekitar kami bisa diabaikan dan seolah diterlantarkan padahal posko siaga bencana tidak jauh dari tempat kami,”jelasnya.

Menurut dia, kejadian tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini aparatur kecamatan cengkareng agar kedepannya tidak lagi ada korban jiwa saat bencana kembali melanda ibu kota.

“Ngapain buat posko kalau cuma buat foto foto doang terus dikirim ke pimpinan mereka, sedangkan masyarakat disekitar posko itu tidak secuilpun merasakan manfaat dari didirikannya posko tersebut,” keluhnya.

 

 

Reporter : Shem

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *