Teknologi Ozonize Hemodialisis sebagai standarisasi rehabilitasi Medis Pecandu NAPZA

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Prof Muhammad Tamim Pardede Ahli Bio Kimia mengungkapkan analisa terhadap pengaruh penggunaan narkotika, obat-obatan terlarang, serta zat adiktif lainnya dalam bentuk apapun sama-sama bisa menyebabkan perubahan kimia pada otak dalam jangka pendek ataupun panjang.

Pada riset yang dilakukan oleh National Institute on Drug Abuse di Amerika Srikat (AS), dimana dilakukan analisa kadar dua enzim yang ada di dalam sel otak atau disebut neurons. Enzim-enzim ini membantu syaraf memanfaatkan sinyal-sinyal kimia seperti sinyal yang dihasilkan oleh dopamine, senyawa pengirim pesan. Kadar kedua enzim tersebut sangat tinggi pada pengguna dan mantan pengguna. Hal tersebut memunculkan rasa nikmat ketika mengkonsumsinya dimana rasa tersebut berbanding lurus dengan emosi negatif yaitu berupa rasa tak nyaman, kecemasan, dan merasa bersalah, pada ketik kita tidak mengkonsumsinya.

Dalam keterangannya Prof. Muhammad Tamim Pardede atau sering disapa Prof. Tamim lebih jelas mengunggkapkan, secara umum zat-zat jenis NAPZA apapun akan mempengaruhi kontrol impuls syaraf yang terakumulasi lalu kemudian pengguna berusaha mencari kepuasan atau solusi yang baginya atau menurutnya adalah upaya mengobati dirinya sendiri. Hal tersebut kerap berbentuk gangguan kompulsif berupa kecemasan atau tekanan serta adanya gangguan percaya diri yang kerap menyentuh pada gangguan hubungan komunikasi sehingga mereka berusaha mengobati diri sendiri (self medication hypothesis) gangguan psikisnya dengan mengkonsumsi kembali NAPZA tersebut. Sehingga siklus gangguan kejiwaannya terangsang yang oleh karenanya terjadi tidak terkontrolnya regulasi emosional sehingga melingkar dan membelit tanpa solusi. Ledakan regulasi emosional tidak akan dapat dikelola dengan baik apabila metodologi rehabilitasi terhadap pengguna NAPZA belum terselenggara dengan apik dan baku sesuai disiplin ilmu dan teknologi tepat guna. Begitu NAPZA dikonsumsi, baik itu dihirup, ditelan, atau dihisap, disuntikkan atau apapun caranya maka tidak lama kemudian tubuh akan langsung memecahnya.

“Pada prinsip dan kenyataannya penggunaan narkotika atau penggunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif NAPZA jenis lainnya sama-sama menyebabkan perubahan kimia pada otak, baik dalam jangka waktu yang pendek ataupun jangka waktu yang panjang. Dalam beberapa riset yang dilakukan para ilmuwan sepakat bahwasanya rasa nikmat yg ditimbulkan setelah menggunakan narkoba ini adalah sinyal yang di hasilkan dopamine yaitu senyawa yg mengirim pesan kepada tubuh kita” ujar Prof. Tamim pada acara Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk “Memaksimalkan Peran Ormas dan¬†Standarisasi¬†Nasional Rehabilitasi” pada Senin (06/01/2020) bertempat di kantor JBMI, Rawamangun, Jakarta.

Prof. Tamim kembali menjelaskan, Bahwa dalam prosesnya, hasil jejak metabolisme NAPZA itu akan tinggal di dalam darah atau urine, bahkan di rambut, beberapa lama setelah dikonsumsi. Residu atau jejak tersebutlah yang memicu keinginan seseorang untuk mengkonsumsi kembali zat yang terkandung pada NAPZA tersebut.

NAPZA secara umum bereaksi dengan memacu kerja otak secara stimulan, sehingga timbul rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, hubungan dengan orang lain menjadi akrab, akan tetapi menyebabkan tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Contoh amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau.

Ada pula narkotika yang menyebabkan khayal, disebut halusinogen. Contoh LSD. Ganja menimbulkan berbagai pengaruh, seperti berubahnya persepsi waktu dan ruang, serta meningkatnya daya khayal, sehingga ganja dapat digolongkan sebagai halusinogenika. Dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia yang disebut neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan sel saraf lainnya (sinaps).

Sejumlah neurotransmitter itu mirip dengan beberapa jenis NAPZA. Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter. Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamin.

Menurut Prof. Tamim, untuk merekondisikan dopamine ini agar menjadi pulih seperti sedia kala itulah kunci daripada keberhasilan akan rehabilitasi terhadap pengguna NAPZA.

Semua jenis NAPZA memiliki kemampuan untuk berpenetrasi kuat kepada organ hati dan ginjal. Seperti yang dapat diketahui kedua organ ini berfungsi menyaring dan mengeluarkan racun-racun yang ada di dalam tubuh. Namun pada pengguna narkoba proses penetralan dan pengeluaran racun dari dalam tubuh ini menjadi terganggu karena beban berat yang harus diemban oleh ginjal saat mensekresikan racun dari zat NAPZA yang dibawa oleh darah. Sehingga kandungan jumlah oksigen yang seharusnya normal atau pada ambang keseimbangan pada darah menjadi timpang. Oksigen yang berada dalam darah si pecandu NAPZA tersebut sangat sedikit maka ginjal akan memaksa dengan mengirimkan panggilan darurat dalam bentuk eritropoietin, yaitu hormon yang merangsang sumsum tulang untuk menghasilkan lebih banyak sel darah merah pembawa oksigen. Itupun kalau sel darah merah masih mampu membawa oksigen yang tentunya tergantung pada ketersediaan oksigen pada waktu itu. Kalau jumlah ketersediaan oksigen tidak mencukupi tentu akan menjadi fatal.

Dikarenakan kadar oksigen dalam darah yang rendah biasanya disebut dengan hipoksemia. Ini akan menyebabkan kadar oksigen dalam jaringan tubuh menjadi rendah, disebut dengan hipoksia, dimana darah tidak dapat membawa cukup oksigen yang diperlukan oleh tubuh.

Dikatakan hipoksemia bila kadar oksigen dalam pembuluh darah arteri kurang dari 80 mmHg. Hipoksemia dapat mengganggu fungsi normal tubuh, termasuk fungsi otak, hati, jantung, dan organ lainnya. Dan inilah yang sebenarnya yang membuat seorang pecandu NAPZA menjadi gelisah atau kacau alam fikirnya.
Saat kadar oksigen darah mulai rendah, akan dirasakan gejala seperti: napas lebih pendek (sesak napas), sebagai respon paru-paru untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah. Detak jantung lebih cepat, sebagai respon jantung untuk membantu mengedarkan oksigen dalam darah ke seluruh tubuh. Nyeri dada, karena jantung tidak menerima cukup oksigen, sakit kepala, kelelahan, kebingungan, gelisah, serta lainnya.

Menurut Prof. Tamim, hipoksemia yang lebih parah dapat menyebabkan fungsi otak terganggu. Hal ini bisa membuat perhatian menurun dan disorientasi. Pada sistem pernapasan, ini dapat menyebabkan pernapasan tidak teratur. Pada jantung, hipoksemia berat dapat menyebabkan detak jantung dan tekanan darah menurun. Pada akhirnya, hipoksemia yang sangat parah bisa menyebabkan koma atau kematian. Inilah kondisi yang secara umum oleh pengguna NAPZA di indonesia disebut dengan istilah sakaw.

Tidak ada cara yang paling cepat mengatasi kondisi semacam hipotesis pada pecandu NAPZA ini melainkan upaya cuci darah atau biasa disebut hemodialisis dengan partikel ozone atau O3. Upaya ini merupakan prosedur medis yang bertujuan untuk menggantikan fungsi ginjal akibat kerusakan pada organ tersebut. Selama proses cuci darah, darah akan dialirkan oleh mesin dari dalam tubuh pasien melalui saluran steril dan melewati membran dialisis khusus yang padanya terdapat tabung yang mengandung ozon atau O3. Melalui membran tersebut, zat-zat sisa metabolisme tubuh yang merupakan residu dari NAPZA akan sangat lebih mudah dibuang. Agar fungsi utama ginjal untuk membuang berbagai zat beracun sisa NAPZA yang merupakan sisa metabolisme dalam tubuh melalui urine menjadi lebih mudah.

Ozon adalah pilihan pengobatan dengan tujuan menambah kadar oksigen di dalam tubuh. Upaya ini sudah digunakan selama lebih dari satu abad dan sudah dibuktikan bahwa penggunaannya relatif aman, hasilnya konsisten, disertai efek samping yang minim.

Ozon merupakan gas tidak berwarna yang terdiri dari 3 atom oksigen yang disebut O3. Ozon dapat dirasakan sebagai udara segar yang biasanya muncul setelah hujan. Pada pertengahan abad kesembilan belas saat pertama kali ditemukan, ozon dikenal sebagai molekul berupa gas berbau tajam dan mudah meledak. Para peneliti percaya bahwa ozon memiliki efek terapeutik. Studi di laboratorium menunjukkan, ozon dapat menghambat pertumbuhan virus, bakteri, protozoa, dan jamur. Selain dari itu, upaya ini dianggap dapat menstimulasi metabolisme oksigen serta mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Hal yang sangat dibutuhkan pada pecandu NAPZA.

Ada banyak metode untuk melakukan terapi ozon. Umumnya gas ozon dimasukkan ke dalam tubuh secara langsung, yaitu melalui: intramuscular (suntikan ke dalam otot), intravena (suntikan ke pembuluh darah), langsung ke jaringan tubuh yang memerlukan ozon, terapi ozon untuk pengobatan nyeri punggung bagian bawah, dll.

Suntikan gas ozon diduga bermanfaat bagi penderita nyeri punggung bagian bawah akibat saraf terjepit (HNP). Efek ini terkait dengan efek ozon yang memiliki sifat anti radang dan antioksidan yang baik.

Satu studi menunjukkan bahwa terapi ozon yang dibarengi dengan terapi fisik memberikan hasil yang cukup efektif dalam mengatasi masalah nyeri saraf pada pasien hernia saraf tulang belakang. Studi lain menunjukkan perawatan injeksi ozon yang ditambah dengan injeksi kortikosteroid juga menunjukkan efek penghilang rasa sakit yang baik dan hampir setara dengan efek berkurangnya nyeri pada pasien syaraf terjepit yang menjalani operasi tulang belakang. Hal ini sangat membantu kondisi rasa nyeri yang biasa dialami para pecandu NAPZA.

Dengan demikian sudah sewajibnya tekhnologi ozonize hemodialisis diterapkan sebagai primary medicine dalam upaya rehabilitasi ketergantungan terhadap NAPZA.

Oleh karena itu atas penjelasan Prof. Tamim kembali menekankan, “Berprasangka baik terhadap upaya-upaya dalam merehabilitasi para pengguna ataupun penikmat narkotika yang sudah kecanduan dan juga apa yang telah dilakukan selama ini di negeri ini khususnya dan di muka bumi pada umumnya, bahwa upaya-upaya yang telah mereka lakukan itu baik adanya” jelas Prof. Tamim

“Namun hal perlu digaris bawahi bahwa teknologi itu senantiasa berkembang, teknologi diciptakan untuk mempermudah kinerja manusia, waktu demi waktu berlalu teknologi menuntut adanya penyempurnaan atas capaian yang telah dilakukan pada waktu-waktu sebelumnya. Jadi tidak ada sedikit pun niatan saya untuk menyatakan upaya-upaya rehabilitasi sebelumnya adalah salah, tidak saya hanya sebentar mau menyempurnakan sesuai dengan disiplin ilmu yang saya kuasai mohon dipahami” tutup Prof. Tamim.

 

 

Reporter : BS

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *