Pernyataan politisi Golkar Kadir Halid soal pembangunan di Seko menuai kecaman

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Makassar – Camat Seko Luwu Utara, Akbar Ali dan Masyarakat Seko mengecam pernyataan politisi Partai Golkar Kadir Halid yang mengkomplain pembangunan di Seko oleh Gubernur Nurdin Abdullah (NA).

“Janganlah ada pihak yang mempolitisasi pembangunan di Seko. Karena sejak Indonesia merdeka 74 tahun lalu, baru kali ini di masa Gubernur NA, kami, masyarakat merasakan geliat pembangunan yang tertata,” ujar tokoh masyarakat Seko, Akbal Ali kepada awak media.

Hal itu diungkapkannya menanggapi pernyataan mantan Ketua Pansus Hak Angket DPRD Sulsel Kadir Halid yang mengkritisi pembangunan di Seko,dimana sebelumnya juga di guncang dengan Upaya pemakzulan dan beberapa tuduhan Kepada keluarga NA yang mencederai hati dan perasaan keluarga besar Prof NA pada tahun 2019 lalu yang sama sekali tidak bisa dibuktikan dan gagal.

Pada pengujung akhir tahun 2019 diterbitkan Buku Hak Angket Mengawal demokrasi jg isinya hanya kutipan perjalalan hak Angkat oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (NA).

Kadir Halid mengatakan jika anggaran untuk pembangunan Seko tidak masuk dalam RPJMD Provinsi Sulsel.

Sementara, anggaran yang digunakan dan diinvestasikan oleh Gubernur NA mencapai angka Rp60 milliar di Seko.

Pernyataan disampaikan Kadir Halid pada acara dialog peluncuran buku hak angket di Red Corner Cafe and Resto, Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Makassar, Senin (13/1/2020).

Akbal Ali yang juga Camat Seko, Kab Luwu Utara, menyatakan, masyarakat Seko baru merasakan kemerdekaan di penghujung tahun 2019 kemarin, saat Gubernur NA meresmikan pembangunan jalan tembus ke Seko. Seko selama ini, kata Akbal Ali, dikenal sebagai daerah paling terisolir di Indonesia lantaran tidak ada akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Selain infrastruktur, masyarakat Seko juga belum merasakan listrik dari PLN.

Tapi, berkat tangan dingin Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, masyarakat Seko saat ini sudah merasakan kemerdekaan dari segi infrastruktur. Bahkan, mereka merasa punya semangat hidup baru dan merasa bagian dari warga Sulsel bahkan Indonesia.

Oleh karena itu, jika ada pihak yang mempolitisasi pembangunan infrastruktur di Seko, masyarakat Seko mengaku merasa kecewa dan mengecam sikap itu.

Akbal Ali yang mewakili masyarakat Seko sangat menyayangkan jika ada pihak yang mempolitisasi pembangunan yang dilakukan oleh Gubernur NA yang selama ini sudah puluhan tahun dinantikan oleh masyarakat.

“Orang-orang (yang mengkritisi pembangunan yang dilakukan Nurdin Abdullah) sangat mencederai perasaan masyarakat Seko, Siapapun yang punya tanggapan miring sekarang harus melihat kenyataan sekarang, kenyataannya Prof Nurdin Abdullah ini yang Dikenal dengan sejuta karya dan sudah berhasil melalui kerjanya yang nyata bagi masyarakat.

Pernyataan masyarakat Seko bahwa setelah 74 tahun Indonesia merdeka masyarakat Seko baru merasakan kemerdekaan dengan adanya infrastruktur,” tegasnya seperti dilansir dari media otonominews.

Menurutnya, perhatian Bupati Luwu Utara bersama Gubernur Sulsel yang memperhatikan masyarakat terpencil patut diacungi jempol bukan malah dipolitisasi dengan hal-hal lain.

“Kami bersyukur sekali dengan adanya ini jalan. Baru terjadi di Seko yang namanya macet, selama ini kami tidak tahu bagaimana itu macet pada saat kunjungan Gubernur dan malam tahun baru bersama puluhan ribu masyarakat, itu berkat pak Prof,” tambah Akbal Ali.

Oleh karena itu, jika ada yang mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur di Seko itu tidak masuk dalam RPJMD dan ada maksud di balik pembangunan itu. Akbar Ali bersama masyarakat mengaku sangat menyayangkan hal tersebut.

“Saya bisa counter pernyataan itu. Kenyataannya kami sudah bisa naik motor dan naik mobil sekarang ke Seko. Sekarang saya lebih nyaman kalau naik motor ke Seko. Jadi kami sangat menyayangkan kalau ada pernyataan yang mengkritisi pak Prof. Karena kami sudah merasa bahagia dengan adanya pembukaan jalan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Gubernur Sulawesi Selatan, HM Nurdin Abdullah memprogramkan, daerah Seko, Luwu Utara menjadi kota mandiri dan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Sulsel. Konsep tersebut digulirkan berdasarkan dukungan dan potensi alam dengan wilayah yang luas serta posisi Seko yang strategis.

Seko ini merupakan kawasan segi tiga emas (golden triangle location) yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Barat melalui Mamuju dan Sulawesi Tengah melalui Sigi, Palu.

Untuk merealisasikan program tersebut, Pemprov Sulsel kini membangun akses jalan Sambang-Seko sepanjang 130 km.

Progres terakhir jalan tersebut sebagian sudah diaspal dan selebihnya sudah dilakukan pemadatan, sebagian pembukaan sehingga akses ke Seko saat ini sudah bisa ditempuh tiga jam sebelumnya jarak tempuh selama tiga hari dengan kendaraan roda empat yang sebelumnya hanya dapat ditempuh dengan motor.

 

Reporter: Muh Ali (Mp) Ikhsan (Otn)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *