Jangan coba-coba palsukan akta nikah, ini akibatnya!

  • Whatsapp

MITRAPOL.com Jakarta – Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah mengamankan 3 (tiga) tersangka yang diduga melakukan pemalsuan dokumen akte pernikahan, berinisial MHH, ABB dan seorang wanita berinisial J alias V.

Ketiga tersangka tersebut melakukan tindakan pemalsuan dokumen akta nikah ialah untuk menguasai sertifikat tanah milik almarhum Basri Sudibyo yang merupakan pasien dari pada tersangka J.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, awal terjadinya kasus ini bermula adanya laporan dari anak almarhum Basri, yang mana melaporkan J karena mengaku sebagai istri sah ayahnya yang dibuktikan dengan adanya akte pernikahan. Padahal menurut pelapor ayahnya hingga wafat masih merupakan suami sah dari Ibu pelapor.

“Berdasarkan adanya pelaporan tindakan pemalsuan dokomen, maka kemudian Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya melakukan penyidikan terhadap dokumen yang merupakan dokumen akte pernikahan yang otentik. Dimana kemudian diketahui MHH yang menandatangaani surat akta perkawinan palsu pada April 2019, dan dibuat seolah-olah akta tersebut dikeluarkan pada 11 Februari 2017,” ujar Yusri di Mapolda Metro Jaya, Selasa (28/01/2020).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus saat konferensi pers.

Yusri menjelaskan peran dari pada tersangka ABB, tersangka ABB bertugas membantu J untuk membuat akta pernikahan palsu. Bahkan ia juga mengedit foto, dengan cara mengcrop foto tersangka J dan kemudian disatukan dengan foto almarhum Basri Sudibyo yang seolah-olah almarhum Basri dan tersangka J pernah melakukan pernikahan resmi dan tercatat disalah satu Gereja di wilayah bogor.

“J ini kemudian menggunakan dokumen akte perkawinan tersebut untuk membuat dokumen ahli waris. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan atau menguasai sertifikat sebidang tanah milik almarhum Basri Sudibyo yang dititipkan kepadanya,” jelas Yusri.

Hal itu bertujuan untuk menguasai sertifikat sebidang tanah oleh tersangka J yang terletak di daerah Bintaro Tangerang Selatan yang dititipkan oleh almarhum Basri Sudibyo kepadanya sebelum Basri meninggal.

Sementara itu, Kasubdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kompol Ghafur Siregar menegaskan, sebelum meninggal Basri Sudibyo memiliki hubungan dengan J sebagai terapis dengan pasiennya. Dimana sebelum meninggal, Basri sempat menitipkan sertifikat tanah tersebut kepada J.

“Ternyata ada niat J untuk mempertahankan sertifikat tersebut. Sertifikat tersebut merupakan bukti sah aset tanah senilai Rp 42 miliar di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan,” kata Ghafur.

Menurut Ghafur, pihaknya telah mendalami kasus ini sejak Desember 2019. Tersangka MHH juga mengaku sebagai Pendeta dan telah menikahkan keduanya di sebuah Gereja Protestan di kawasan Bogor, Jawa Barat.

“Setelah kita tanyakan ke Gereja tersebut, ternyata MHH menggunakan kop sebuah Gereja di Bogor. Namun ternyata yang bersangkutan juga tak terdaftar sebagai Pendeta di sana,” ujar Ghafur.

Karena perbuatannya, para tersangka akan dijerat dengan Pasal 263, 264, 266, dan Pasal 242 KUHP dengan ancaman maksimal di atas 5 tahun penjara.

(BS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *