Mencari keadilan, yang didapat SP3 keluar tanpa alasan jelas

  • Whatsapp
Ilustrasi : matranews.com

MITRAPOL.com, Makassar – Md Binti Slg (55) seorang Ibu Rumah Tangga warga Kel. Manarang, Kec. Mattiro Bulu, Kec. Pinrang terpaksa menjalani penahanan selama 2 Bulan 15 Hari atas tuduhan telah melakukan kekerasan terhadap And (8) Putra dari IS. Md Binti Slg (55) di tahan berdasarkan Surat Dakwaan No Reg Perk PDM – 100/RP-9/Euh.2/06/2018.

Merasa dirinya tidak bersalah dan ingin mendapatkan keadilan, Md Binti Slg melaporkan kasus yang menimpanya ke Polda Sulawesi Selatan, namun bukannya mendapat keadilan, Md Binti Slg justru mendapat masalah lain, dirinya merasa seperti “Keluar dari mulut Singa masuk ke mulut Buaya”.

Dihadapan awak media, Selasa (28/1/2020) Md Binti Slg memaparkan kronologis kejadian yang menimpanya dirinya.

Kejadian berawal ketika dirinya dituduh telah melakukan kekerasan oleh IS terhadapan anaknya And sampai terluka di bagian pipinya, sementara menurut Md Binti Slg dirinya tidak pernah ketemu atau berada di tempat kejadian.

“Berdasarkan itulah Saya dilaporkan ke Polisi di Satuan Reskrim Res Pinrang pada tanggal 18 Januari 2018 lalu,” ujarnya kepada Media. Selasa (28/1).

Lanjutnya, pada tanggal, 28 Januari 2018, saya dipanggil melalui HP oleh Reskrim Pinrang tanpa surat panggilan secara resmi.

Setelah saya memberikan keterangan dan semua tuduhan yang ditujukan ke saya, saya tolak/tidak benar karena tidak ada TKP (tempat kejadian perkara), saya diancam oleh Kaharuddin Syah, S.Pd. dengan kata-kata,”Jangan kau macam-macam, Saya yang tulis saya yang baca”, setelah itu saya diizinkan untuk pulang.

Kemudian pada tanggal, 25 Juni 2018, saya dipanggil melalui HP untuk menandatangani sebuah berkas tanpa saya ketahui apa isi surat yang saya tandatangani, setelah itu saya disuruh pulang.

Pada tanggal, 26 Juni 2018, saya dipanggil lagi melalui HP oleh Kahruddin Syah, S.Pd untuk mengantar sebuah berkas bersama seorang Polwan ke Kejaksaan Pinrang, sampai di Kejaksaan, saya diminta untuk tanda tangan disebuah surat tanpa saya ketahui isinya. Setelah itu, saya langsung ditahan dan dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Pinrang.

Dalam masa penahanan, saya didatangi seorang seorang Jaksa bernama Ibu Johana untuk membujuk saya agar mengakui perbuatan yang dituduhkan ke saya, tapi saya tolak karena saya tidak pernah melakukan perbuatan tersebut.

Sepuluh hari kemudian, saya disidangkan dan divonis penjara selama 2 (dua) bulan 15 (lima belas) hari.

Merasa ada kejanggalan dalam kasus yang menimpa saya, setelah menjalani hukuman saya ke Polda Sulsel untuk mengadu terhadap apa yang saya alami, tapi saya tidak digubris dan saya

Beberapa hari kemudian, saya ke Polda Sulsel lagi untuk mengadu dan saya dimintai KTP asli dan uang Rp 2.000.000 oleh Bpk. Bur dengan tujuan pemeriksaan tanda tangan di Lab, setelah itu saya pulang.

Pada tanggal 12 Maret 2019, saya dipanggil ke Polda Sulsel oleh Bpk. Bur saya diminta untuk melapor di Pintu Satu. Tapi, setelah saya datang di Pintu Satu ternyata saya ditolak dan saya diminta untuk kembali ke Bpk. Bur membuat laporan dengan Perkara Tindak Pidana Pemalsuan Surat/Pemalsuan Tanda Tangan.

Beberapa hari kemudian, oknum Polda Sulsel (Bahar, dkk) ke rumah saya di Pinrang untuk mengambil data-data pribadi saya dan saksi sebanyak 3 (tiga) orang. Setelah itu, dia minta ongkos pulang ke Makassar sebesar Rp 5.000.000,-

Beberapa hari kemudian, saya diminta ke Polda Sulsel untuk dipertemukan dengan Kaharuddin Syah, S.Pd, dalam pertemuan itu Kaharuddin Syah, S.Pd merasa menyesal dan meminta maaf, tapi saya menolaknya.

Sekitar 1 minggu kemudian saya diminta ke Polda Sulsel untuk gelar perkara dan saya dimintai uang sebesar Rp 2.000.000,- melalui Andi Nurliah (anak angkat saya). Tambahnya

Pada tanggal. 31 Desember 2019, tiba-tiba keluar Surat Penghentian Penyidikan Nomor : S.Tap/153/XII/2019/DITRESKRIMUM tanpa saya ketahui kejelasan perkara saya, pungkasnya.

 

 

TIM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *