Polres Pelabuhan Tanjung Priok ungkap prostitusi terselubung, seorang mucikari diamankan 

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Prostitusi di Indonesia dianggap sebagai kejahatan “terhadap kesusilaan/moral” dan melawan hukum. Modus prostitusi dilakukan dengan cara yang variatif. Ada yang melibatkan remaja usia di bawah 18 tahun hingga mahasiswi. Ada juga yang menggunakan modus bangunan komersial seperti kafe dan karaoke yang berlokasi dekat dengan objek wisata namun jauh dari pusat keramaian.

Modus lainnya dilakukan secara terselubung, seperti halnya yang dilakukan AW (35) seorang mucikari wanita yang berhasil diungkap Sat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok pada Rabu (29/01/2020) di salah satu tempat penginapan (hotel) wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kapolres Tanjung Priok mengatakan, “Jadi, jika prostitusi itu terkait dengan perbuatan zina, yang diartikan sebagai perbuatan persetubuhan di luar ikatan perkawinan, maka prostitusi itu juga bisa dianggap terkait dengan ketentuan Pasal 284 KUHP, yang juga mengatur mengenai tindakan zina,” singkatnya

Melihat adanya permasalahan tersebut dan berdasarkan informasi masyarakat terkait adanya tindak pidana Prostitusi di wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Team Opsnal Unit IV Sat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok dipimpin Kanit IV Iptu Eri Suroto, S.H., M.H., melakukan penyelidikan di wilayah tersebut.

Team memantau ada orang yang melakukan Transaksi dengan yang diduga sebagai Mucikari (Mami). Orang tersebut menyerahkan uang sejumlah Rp. 800.000,-. Setelah terjadinya Transaksi Pembayaran kemudian Team berhasil mengamankannya di depan salah satu Hotel Tanjung Priok, Jakarta Utara dan melakukan interogasi singkat.

Setelah diinterogasi yang diduga Mucikari berinisial AW tersebut mengakui dan menjelaskan telah mengantar 1 wanita (PSK) kepada pelanggan untuk melakukan hubungan intim di salah satu kamar Hotel.

Selanjutnya, team Opsnal Polres Pelabuhan Tanjung Priok memastikan bahwa benar terjadinya Praktek Prostitusi di dalam Kamar Hotel tersebut dan membawa terduga Pelaku, Saksi berikut Barang Bukti berupa 1 (satu) Buah Bra Warna Hitam, 1 (satu) Buah Celana Dalam Warna Biru, 1 (satu) Buah Kunci Hotel dengan Nomor Kamar 205, Uang Tunai Rp. 800.000,-, dan 1 (satu) Lembar Kwitansi Pemesanan Kamar Hotel Kamar 205 Seharga Rp. 314.600,- ke Mako Polres Pelabuhan Tanjung Priok guna proses lebih lanjut.

Dari hasil wawancara, Mucikari AW mengatakan telah menjalani profesinya sekitar 1 (satu) tahun, dan mengantarkan PSK kepada pelanggan sekitar 15 (lima belas) kali setiap bulannya, setiap mengantar PSK ke pelanggan untuk berhubungan intim, dia mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) sehingga keuntungan setiap bulannya sebesar Rp. 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah) dan hasil atau keuntungan uang yang didapat dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara itu, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Dr. Reynold E.P Hutagalung, S.E.,S.I.K.M.Si.,M.H. melalui Kasat Reskrim AKP David Kanitero, S.I.K., M.Si. menjelaskan kepada awak media, Kamis (30/01/2020) bahwa Prostitusi terselubung, itulah sebagian kalangan menyebutkan karena mereka adanya di jalanan. Tentu saja illegal, dan bukan tak pernah mereka diterbitkan. Prostitusi yang terjadi bukan hanya secara langsung antara penjual dan pembeli, tetapi bisa juga melalui perantara (mucikari atau germo), prostitusi dengan kedok bervariasi atau bisa juga melalui internet. Sudah rahasia umum mereka tak bekerja sendirian, Polres Pelabuhan Tanjung Priok akan terus menyelidiki termasuk risiko terkena HIV/AIDS yang sulit dikontrol,” ungkapnya.

“Dalam menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat, jika prostitusi itu telah menjadi suatu perbuatan yang meresahkan, merusak ketertiban masayarakat, sudah sebaiknya solusi yang tepat untuk menaganinya, salah satunya adalah melalui jalur hukum,” kata Kasat Reskrim AKP David Kanitero, S.I.K., M.Si.

Atas perbuatannya, Mucikari AW (35) disangkakan Dugaan Tindak Pidana barang siapa yang mata pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain Juncto Barang siapa sebagai mucikari (souteneur) mengambil keuntungan dari pelacuran perempuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 296 KUHP Jo Pasal 506 KUHP,” jelas AKP David Kanitero.(Shem)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *