Upah tak wajar, kuli bongkar di Gudang PT Indomarco Lebak tercekik 

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Lebak – “Janganlah kalian membebani mereka (Budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari no. 30). Itulah salah satu hadits Nabi Muhammad SAW tentang mempekerjakan seseorang.

Dalam Etika bisnis jangan pernah abai terhadap tangung jawab atasan terhadap hak para pekerja. Kesejahteraan pekerja tidak boleh luput dari perhatian badan usaha yang memberdayakan Sumber daya manusia.

Seperti yang dialami sejumlah pekerja. buruh panggul pada sebuah perusahaan penyedia jasa Outsourcing disebuah Gudang milik PT.Indomarco yang berlokasi di Desa Cibuah, Kerta mukti, Kecamatan Warung Gunung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Siapa sangka, hadirnya Perusahaan besar PT. Indomarco di daerah yang terbilang sempit lahan pekerjaan dan sepatutnya mampu membawa dampak positif bagi warga sekitar

Fakta di lapangan ternyata berbalik, perusahaan ini belum mampu mengakomodir kesenjangan buruh didalam mitra usahanya.

Beberapa pihak menilai, dinamika itu terjadi akibat pihak PT. Indomarco salah menunjuk perusahaan Outsourcing atau Penyedia jasa yang terkesan serakah.

Sebab musababnya, peluang untuk hajat orang banyak justru dijadikan kesempatan untuk memperkaya pihak tertentu (Outsourcing).

 

Informasi yang dihimpun mitrapol.com dari sejumlah warga Desa Cibuah, Kerta mukti, Kecamatan Warunggunung Pada, Sabtu (1/2/2020).

Beberapa orang menerangkan jika para buruh kuli bongkar barang di Gudang PT. Indomarco selama ini diberi upah secara tidak wajar.

Selain itu, warga juga mengutarakan apa yang telah dirasakannya, sebagai buruh kuli bongkar barang, dirinya kerap merasa tercekik dalam kondisi terhimpit, sistem persentasi 25% dianggap tidak sebanding seperti kerja di jaman penjajahan.

Untuk diketahui, PT. Indomarco telah memberikan Surat Perjanjian Kontrak Kepada pihak Outsourcing, CV Karya Putra Lebak sebagai penyedia jasa buruh bongkar barang di Gudang PT. Indomarco.

Belum diketahui apa saja yang tertuang dalam Surat Perjanjian Kontrak (SPK) antara perusahaan PT. Indomarco dengan Outsourcing termasuk prosedur antara para buruh dengan pihak penyedia jasa CV Karya Putra Lebak

Lebih miris lagi, pembayaran upah dengan sistem persentasi yang diterapkan CV. Karya Putra Lebak dirasakan sejumlah pekerjanya sangat diluar batas kewajaran, Pasalnya, dari 100% Pendapatan dari PT. Indomarco, pekerja hanya diberi jatah 25% saja, sedangkan pihak CV Karya Putra Lebak sendiri menikmati hasil keringat pekerja dengan mengambil bagian 75%.

“Saya milih berhenti kerja karena tidak tega menjalankan aturan main Bos perusahaan dan saya sadari cukup tidak wajar,” ujar seorang mantan pekerja yang tidak mau ditulis namanya.

Berdasarkan pengalamannya, mantan pekerja ini juga memaparkan betapa kecilnya persentasi 25% untuk jumlah karyawan berjumlah hampir seratus orang dibagi kelompok dengan waktu kerja cukup panjang

“Pekerja hampir seratus orang, dari jumlah penghasilan dibagi 55% untuk Bos CV.Karya Putra Lebak, 20% Untuk mandor dan 25% lagi untuk semua para buruh kuli,” ungkapnya.

Kebijakan yang menjadi momok persoalan bagi ratusan buruh kuli bongkar di Gudang PT. Indomarco patut disikapi oleh pihak terkait karena menyangkut Keadilan Sosial.

Menurut Nunung Hidayat, Ketua Ormas Jaringan Relawan Untuk Masyrakat (Jarum)

“Perusahaan harus bijak, tanpa buruh kuli usaha mereka tidak akan jalan, Harus transparan 75% itu untuk apa saja, mengalir kemana saja?” tandasnya.

“Ada pengakuan buruh, mereka paling kebagian rata-rata cuma puluhan ribu, Sementara pihak pengusaha bisa jutaan, bahkan puluhan juta,” tukasnya.

Nunung Hidayat mengatakan, pihaknya akan mempelajari persoalan tersebut guna mencarikan solusi yang terbaik, namun jika memungkinkan pihaknya juga bakal menggugat secara perdata untuk kepentingan masyarakat Kabupaten Lebak.

 

(Reporter: Ubay pol)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *