Keberagaman dan saling menghormati perbedaan jadi kekuatan ekonomi bangsa di Era Global

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Jakarta – Generasi milenial Indonesia mempunyai gaya tersendiri dalam memandang arti keberagaman, contohnya dengan apa yang dilakukan oleh generasi milenial dalam melakukan perayaan imlek dengan “Gen Pancasila”, dimana kaum milenial atau generasi kekinian ini mengajak untuk menghilangkan stigma dan kecurigaan terhadap etnis tionghoa, mengajak semua generasi milenial untuk dapat hidup bersama dan saling menghormati perbedaan.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo menyebut, Keberagaman di Indonesia sudah mengakar sejak lama. Hal itu terbukti dari peran etnis Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia.Etnis Tionghoa bahkan sudah berperan sejak Sumpah Pemuda. Etnis Tinghoa yang ratusan tahun sudah berada di Indonesia, dimana kebudayaan mereka sudah berbaur dengan beragam suku lainnya di negeri ini. Dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia pun, etnis tionghoa sudah berperan penting sejak Sumpah Pemuda.

“Sejak awal negara kita adalah negera kebangsaan. Dalam konteks etnis Tionghoa, memiliki peran yang besar dalam sumpah pemuda dimana yang memberikan tempat, selain itu lagu indonesia raya bisa dinyanyikan juga berkat etnis tionghoa. Bagi Soekarno dan Mohammad Hatta etnis tionghoa itu juga bagian dari Indonesia,” ungkap Benny, dalam acara perayaan Imlek yang digelar oleh Forum Bantara Pancasila di Cilandak Town Square, Jakarta. Sabtu (01/02/2020).

Gen Pancasila adalah gerakan bersama untuk menyuarakan semangat Pancasila bagi generasi kiwar, atau generasi kekinian. Jika selama ini kita mengenal ada pembagaan generasi X, Y, dan Z, generasi Pancasila adalah bagian dari generasi yang diharap bisa mengamalkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa saat ini. Nila- nilai itu antara lain tercermin melalui sikap yang toleran terhadap perbedaan dan menghargai keberagaman sebagai fakta sosial yang ada di masyarakat indonesia

“Anak millennial itu sebenarnya lebih pancasilais, karena mereka sudah tidak lagi hidup dalam sekat kesukuan kayak bisa jadi kalau politisasi agama sara, jadi anak millennial itu kan anak yang cerdas selektif, dan mereka sudah belajar berkaca dari pengalaman DKI Jakarta waktu itu, bagaimana ketika pemimpin hanya menjual isu-isu agama,” kata Benny.

Benny menjelaskan, era sekarang itu merupakan era atau zamannya anak milenial, mereka lebih menghargai perbedaan dan keragaman.masa depan bangsa ada pada mereka bahkan ditangan mereka dapat menguasai dunia.

“Sekarang ini kan merupakan zamannya anak-anak millenial yang mana klo kita ketahui mereka berjumlah kurang lebih seratus dua puluh enam juta dan kalau generasi milenial itu insklusif memiliki daya saing serta berprestasi, tidak lagi mempermasalahkan masalah perbedaan ataupun sara sehingga Indonesia menuju pada masa negara yang dapat bersaing di era global, maka inilah saatnya indonesia mau menunjukkan kepada dunia bahawa gen pancasila itu dapat meningkatkan prestasi dan keunggulan yang kompetitif, seperti dikatakan pak jokowi. sekarang adalah era orang kecepatan, siape yang cepat dia yang dapat maka siape yang menguasai teknologi informasi komunikasi dia yang akan menguasai dunia,” jelas Benny.

Benny juga mengungkapkan bagaimana potensi perbedaan keragaman kemajemukan menjadi modal aset kita, di dalam perbedaan dan keragaman memiliki potensi yang sangat luar biasa jika dikemas dengan baik akan menjadikan kekuatan.

“Potensi keberagaman, itulah potensi ekonomi dan kalau kita kemas dengan baik itu menjadi kekuatan bangsa, misalnya festival budaya akan mendatangkan turis kemudian akan menjadi kekuatan ekonomi ke depan, akhirnya tidak lagi tergantung kepada daya alam tapi kualitas sumber daya manusia yang inklusif yang terbuka yang kreatif dan inovatif,” ungkap Benny

 

 

Reporter : BS

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *