Di tengah viralnya virus corona, Bea Cukai dan Polri tetap siaga awasi penyelundupan narkotika

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Tangerang – Dimulai sejak akhir januari tahun ini, dunia digemparkan dengan menyebarnya virus korona yang belakangan diketahui berasal dari daerah Wuhan, China. Hingga saat ini, tercatat korban meninggal akibat wabah virus corona mencapai 80 orang dengan lebih dari 2.300 orang terinfeksi.

Melesatnya penyebaran virus ini juga menjadi perhatian Indonesia untuk siaga dengan mengambil langkah-langkah preventif atas masuknya corona ke dalam negeri. Sinergi terbaik diberikan oleh seluruh instansi terkait untuk mendukung pencegahan atas corona.

Hal yang sama tentunya harus dilakukan untuk virus lain yang berbahaya dan ternyata tak lekang oleh waktu,Narkotika. Penyalahgunaan narkotika sendiri mengalami peningkatan dan memakan banyak korban,terutama anak muda sejak tahun 1970. Berawal dari masalah anak-anak muda di Amerika Serikat,kemudian mulai berpengaruh ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Bahaya ini disadari oleh pemerintah Indonesia saat itu dengan mengeluarkan Undang-undang nomor 9 tahun 1971 tentang narkotika.

Saat ini, terhitung hampir 50 tahun upaya pemberantasan penyelundupan maupun penyebaran narkotika dilakukan, namun nampaknya ada saja oknum dan modus-modus baru dengan semangat yang sama ingin menumbuh kembangkan peredaran narkotika di Indonesia.

Dibutuhkan upaya dan komitmen yang kuat serta sinergi yang terus diperketat dan terus menerus untuk dapat memberantas barang haram tersebut. Sinergi tersebut salah satunya ditunjukkan oleh Bea Cukai yang berkolaborasi dengan BARESKRIM POLRI dan POLRESTA Bandara Soekarno-Hatta yang terus menerus memperkuat kerja sama dalam menjaga perbatasan dari masuknya Narkotika, sabu, dan barang haram lainnya.

Dalam periode akhir tahun 2019 hingga akhir bulan Januari 2020, saat berita corona mulai viral, diketahui terdapat enam kasus penyelundupan Narkoba dengan modus barang penumpang dan barang kiriman dengan total barang bukti sebesar 7,5 Kg Methamphetamine/Sabu, 1,3 Kg Syntehtic Cannabinoid atau Ganja Sintetis, dan 6,3 kg

Tembakau Gorila yang berhasil ditangkap oleh bea cukai dengan sinergi tim gabungan. Total tersangka yang berhasil diamankan sebanyak 16 orang, sepuluh warga negara indonesia, tiga warga negara Nepal, satu warga negara Nigeria, dan satu warga negara Malaysia.

Dalam konferensi pers yang digelar di kantor pelayanan Utama (KPU BC) Tipe C Soekarno-Hatta pada hari Senin, (3 Februari, Finari Manan selaku Kepala KPU BC Tipe C Soekarno-Hatta menjelaskan Kronologi enam kasus penyelundupan NNP ini kepada awak media.

Penggagalan Penyelundupan NPP melalui Terminal Kargo (Gudang Impor Perusahaan Jasa Titipan) Bandara Soekarno Hatta, kasus pertama, pada hari Selasa (17/12), berdasarkan hasil Xray, petugas bea cukai mencurigai satu buah barang kiriman berasal dari Malaysia atas nama J dengan nama penerima berinisial PCH yang beralamat di Salemba, Jakarta Pusat. Barang tersebut didaati benda berupa bantal kesehatan berwarna putihyang di dalamnya disembunyikan 23 bungkus plastik berisi butiran kristal bening dengan berat total 120 gram.

Atas temuan tersebut dilakukan pengujian oleh petugas dengan menggunakan alat uji narkotika dan hasilnya positif sebagai narkotika golongan 1 jenis Methamphetamine atau sabu. Koordinasi Controlled Delivery dilakukan bekerja sama dengan pihak Direktorat Tindak Pidana Narkoba BARESKRIM POLRI serta pihak TNT area pulogadung yang berhasil mengamankan penerima barang, PHC (pria, 31 th, warga negara Malaysia).

Kemudian, pengembangan terus dilakukan dan tim berhasil mengamankan dua orang lainnya yaitu: YW (pria, 28 th) dan S (pria, 45 th) yang keduanya berkewarganegaraan Indonesia sebagai penerima paket dari PHC.

Kasus Kedua, terjadi di awal tahun 2020 yaitu pada hari Rabu (8/1), petugas bea cukai mencurigai satu buah barang kiriman yang berasal dari China atas nama JYD dengan nama penerima R yang beralamat di Kebon Kangkung, Bandung, Jawa Barat. Informasi menunjukan bahwa barang tersebut diberitahukan sebagai organic pigment.

Selanjutnya, petugas melakukan pemeriksaan mendalam terhadap barang tersebut dan didapati satu bungkus plastik yang didalamnya berisi gumpalan padat berwarna orange dengan berat bruto 959 gram. Atas temuan barang tersebut dilakukan pungujian laboratorium oleh petugas dan didapati hasilnya positif narkotika golongan 1 dari jenis 5-Fluoro-MDMB-PICA atau Ganja Sintetis.

Koordinasi Controlled Delivery dilakukan bekerja sama dengan pihak Direktorat Tindak Pidana Narkoba BARESKRIM POLRI serta pihak TNT area Bandung yang berhasilmengamankan penerima barang, RMF (pria, 20 th, warga negara Indonesia). Tim kemudian melakukan penggeledahan di tempat kediaman RMF dan berhasil menemukan kurang lebih 150 gram barang bukti tambahan yang diduga synthetic cannabinoid atau ganja sintetis.

Berdasarkan pengakuan dan penjelasan dari RMF yang menyatakan bahwa dalang dari aksi ini adalah MRF ( pria, 20 th, warga negara Indonesia), seorang narapidana di lapas, tim berhasil mengamankan pengambilan paket, SD ( pria, 18 th, warga negara Indonesia).

Pengembangan terus dilanjutkan hingga komunikasi dengan MRF pun ditempuh sehingga tim berhasil mengamankan PR (wanita, 19 th, warga negara Indonesia) yang diketahui adalah reseller tembakau gorilla dari MRF. Dari hasil wawancara dengan PR, tim yang dilakukan berhasil mendapatkan lagi barang bukti tambahan berupa 6,2 Kg tembakau gorilla siap edar dengan kemasan per 100 gr, 50 gr, 25 gr, dan 5 gr serta 172,22 gram synthetic cannabioid atau ganja sintetis siap edar.

Sedangkan penggagalan penyelundupan NPP melalui Terminal Kedatangan Internasional Bandara Soekarno Hatta, Kasus pertama dan Kedua, pada hari Selasa (17/12) di Terminal 2F Kedatangan Internasional berdasarkan hasil profiling petugas bea cukai terhadap penumpang ex pesawat Thai Lion dengan nomor penerbangan SL 118 rute Bangkok, Thailand – Jakarta, Indonesia atas dua orang penumpang warga negara Nepal berinisial PBG (pria, 39 th) dan CT (pria, 31 th) diarahkan ke jalur merah untuk dilakukan pemeriksaan.

Dari hasil wawancara keduanya mengaku akan menuju yogyakarta untuk berlibur, namun belum memiliki tiket. Akan tetapi, beberapa keterangan yang diberikan sangat meragukan sehingga petugas melakukan rontgen yang ternyata didapati oleh petugas bahwa di dalam perut masing-masing dari penumpang tersebut terdapat benda berupa kapsul-kapsul yang diduga berisi narkotika jenis Methamphetamine. Kedua penumpang tersebut mengakui bahwa ada oknum berinisial S yang berdomisili di Bangkok sebagai pengendali.

Tim gabungan kemudian memerintahkan agar kedua tersangka secara bertahap mengeluarkan kapsul-kapsul berisi narkotika tersebut dari dalam perutnya dan didapati PBG sebanyak 85 butir kapsul dan CT sebanyak 75 butir kapsul dengan total berat 1,8 kg.

Kasus ketiga terjadi berselang tiga hari setelahnya yaitu pada hari Jumat (20/12) di tempat yang samaTerminal 3 Kedatangan Internasional. Berdasarkan hasil profiling dari petugas bea cukai terhadap penumpang ex pesawat Thai Airways dengan nomor penerbangan TG 435 rute Bangkok, Thailand-Jakarta, Indonesia atas penumpang warga negara Nepal berinisial ASR (pria, 32 th) diarahkan ke jalur merah untuk dilakukan pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan terhadap bagasi, barang bawaan dan badan dari penumpang tersebut yang dilakukan oleh petugas negatif. Namun, adanya kejanggalan dari hasil wawancara dengan penumpang tersebut membuat petugas bea cukai memutuskan untuk melakuakan pemeriksaan mendalam dengan rontgen. Hasilnya menunjukkan bahwa di dalam perut dari penumpang tersebut terdapat benda berupa kapsul-kapsul yang diduga berisi narkotika.

Koordinasi Controlled Delivery dilakukan bekerja sama dengan pihak POLRESTA Bandara Soekarno Hatta. Tim gabungan memerintahkan secara bertahap agar tersangka mengeluarkan kapsul-kapsul tersebut dari dalam perutnya dengan jumlah keseluruhan sebanyak 71 butir kapsul plastik berisi kristal bening yang setelah dilakukan pengujian dengan alat uji narkotika positif Methamphetamine dengan berat total 950 gram. Dari pengakuan tersangka selanjutnya tim berhasil mengamankan DK (pria, 47 th, warga negara Indonesia) selaku penerima barang.

Kasus keempat terjadi pada hari kamis (26/12) menjelang hari tahun 2019,Berdasarkan hasil xray petugas bea cukai terhadap penumpang ex pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK 34 rute Kochi, India-Kuala Lumpur, Malaysia dan AK 380 rute Kuala Lumpur, Malaysia-Jakarta, Indonesia atas penumpang warga negara India berinisial SPD (pria, 39 th) diarahkan ke jalur merah untuk dilakukan pemeriksaan.

Dan hasil pemeriksaan di bagasi dari penumpang tersebut didapati dua kotak kaleng makanan yang masing-masing di dalamnya disembunyikan bungkusan plastik berisi kristal bening yang disamarkan dengan bumbu makanan, berupa; kaleng makanan pertama warna hijau putih bertuliskan “Butter Cracker” berisi satu bungkis kristal bening dengan berat bruto 1,6 kg dan makanan kedua warna merah bertuliskan “Love Letters” berisi dua bungkus kristal bening dengan berat bruto 953 gram dan 426 gram.

Selanjutnya, petugas melakukan pemeriksaan badan dan mendapati empat butir tablet Alprazolam (psikotropika gol IV) yang disimpan dalam dompet dari penumpang tersebut. Kemudian, petugas melakukan pengujian terhadap kristal-kristal bening tersebut drngan alat uji narkotika dan hasilnya positif narkotika golongan 1 jenis Methamphetamine dengan berat total keseluruhan sebanyak 2,9 kg. Koordinasi Controlled Delivery dilakukan bekerja sama dengan pihak POLRESTA Bandara Soekarno Hatta.

Tim berhasil mengamankan dua orang pria warga negara Indonesia yang bertindak selaku penerima barang yaitu MJI (18 th) dan MZ (19 th). Dari keterangan keduanya, diketahui bahwa mereka diperintah oleh seseorang berinisial A yang diduga berada dalam Lapas di daerah Tangerang. Tim kembali melanjutka Pengembangan dan berhasil mengamankan F yang diketahui belakangan adalah adik kandung dari A.

Kasus terakhir, terjadi pada hari Senin (27/1) bertempat di Terminal 3 Kedatangan Internasional. Berdasarkan hasil profiling petugas bea cukai terhadap penumpang ex pesawat Emirates Airlines dengan nomor penerbangan EK 786 rute Abuja, Nigeria-Dubai, UEA dan EK 358 rute Dubai, UEA-Jakarta, Indonesia, atas penumpang warga negara Nigeria dengan inisial HIO (pria, 29 th) diarahkan kejalur merah untuk dilakukan pemeriksaan.

Dari hasil wawancara awal yang dilakukan kepada penumpang tersebut, diketahui bahwa HIO datang ke Indonesia untuk berbisnis pakaian. Namun, dari hasil pencitraan Xray, petugas curiga terhadap bagasi yang dibawa oleh penumpang tersebut. Dari hasil pemeriksaan bagasi berupa koper berwarna merah, petugas mendapati dinding koper bagasi tersebut telah dimodifikasi dan di dalamnya ditemukan dua bungkus plastik berwarna hitam yang berisi serbuk kristal bening dengan berat masing-masing yaitu 793 gram dan 749 gram. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kristal-kristal bening tersebut dengan alat uji narkotika dan hasilnya positif narkotika golongan 1 jenis Methamphetamine. Koordinasi Controlled Delivery dilakukan bekerja sama dengan pihak POLRESTA Bandara Soekarno Hatta.

Dalam kesempatan ini, Finari Manan selaku Kepala KPU Bea dan Cukai Tipe C Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa berdasarkan undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, para pelaku dapat diancam dengan hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum Rp 10 Milyar ditambah 1/3 dalam hal barang bukti melebihi 1 kilogram.

Finari pun menambahkan bahwa dalam upaya pemberantasan narkotika ini bukan hanya merupakan tugas aparat hukum seperti petugas bea cukai yang siaga bekerja selama 24 jam penuh, melainkan juga dibutuhkan peran aktif masyarakat dalam membendung peredaran narkotika dan melindungi generasi penerus bangsa dari penyalahgunaan narkotika itu sendiri. (Reporter: Sagala/Vera)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *