Proyek rehabilitasi mangrove di Pulau Sebatik berjalan sesuai target

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Sebatik – Abrasi pantai yang terjadi di sejumlah titik di Pulau Sebatik, utamanya di Desa Tanjung Aru dan beberapa desa lainnya membuat resah masyarakat di sekitar pantai. Terlebih persoalan abrasi ini sudah berkali kali disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Bahkan pada tahun 2018 masyarakat menyurati dan juga disampaikan secara langsung kepada Bapak Gubernur Kalimantan Utara dan Gubernur Menindak lanjuti melalui Dinas Kehutanan provinsi Kaltara.

Akhinya tahun 2019 diprogramkan Rehabilitasi Mangrove seluas 35 Hektar di dua desa Sei Nyamuk dan desa Tanjung Harapan.

Setelah dilakukan pelelangan akhirnya CV. Tengkawan Sari dinyatakan sebagai pemenang Proyek tersebut.

Terkait perkembangan proyek tersebut, Mitrapol melakukan investigasi secara langsung di lapangan dan mencoba mendapatkan informasi yang akurat dari beberapa narasumber yang layak dan berkaitan dengan Kegiatan Rehabilitasi mangrove.

Nustam selaku petugas PPTK proyek rehabilitasi mangrove tersebut saat ditemui Mitrapol mengatakan, dirinya bertugas mengendalikan pelaksanaan kegiatan dan melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan yang sudah dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung mulai dari kegiatan Persemaian/pembibitan, persiapan penanaman, hingga penilaian hasil penanaman.

“Penanaman dilokasi dimulai akhir oktober hingga 10 Desemher 2019. Dan tim monitoring dari kehutanan melakukan pemeriksaan dilapangan tanggal 15-17/12/2019 Penanamanya sudah dilakukan 100% sesuai plot peta Rantek. Kemudian dilakukan penghitungan Presentase pertumbuhan tanaman dan hasilnya bibit yg hidup sebesar 82.50%,” ujar Nustam.

Nustam menjelaskan, bahwa total bibit yang harus ditanam sebanyak 115.500 batang dan jumlah Bibit Sulaman yang disiapkan oleh CV. Tengkawang Sari selaku kontraktor Pelaksana sebanyak 11.550 Batang Mangrove Jenis Api Api, karena jenis ini cocok untuk pesisir pantai pulau sebatik.

Sedangkan untuk pemeliharaan dilakukan sampai akhir bulan Februari 2020. “Semua telah diatur sesuai dokumen Kontrak,” jelasnya.

Sementara itu Camat Sebatik Timur, Wahyudi mengtakan pihaknya sangat mendukung program Rehabilitasi penanaman mangrove di wilayahnya.

“Sebelum program ini dilaksanakan terlebih dahulu menyurati camat rencana kegiatan itu dan pihak kecamatan mendukung sekali program tersebut,” ujar Wahyudi.

Menurutnya, selama ini beberapa kali dilakukan penanaman baik itu dilaksanakan oleh pihak angkatan laut maupun dilaksanakan oleh TNI AL, cuma tidak seluas yang ditanam kontraktor seperti saat ini.

“Mangrove ini banyak manfaatnya bisa mengatasi Abrasi pantai juga tempat wisata yang dapat mendatangkan PAD kalau dikelola secara profesional.

“Saya sudah mengintruksikan kepada kepala Desa Sei Nyamuk maupun desa tanjung Harapan agar dilakukan pengawasan secara Intens. Saya juga berharap agar program ini dilanjutkan oleh Pemprov Kaltara sebab anggaran APBD Nunukan sangat terbatas,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Anto selaku pengawas Lapangan menjelaskan bagaiman proses pembibitan tanaman mangrove.

“Awalnya pembibitan ini kita cari Anakan bibit. Anakan bibit kita cabut dan kita pelihara di penangkaran. Anakan bibit tersebut kita tanam di polybag. Kita pelihara dengan disiram dan kita buatkan naungan agar tidak kena panas langsung. Di penangkaran ini banyak juga bibit yang mati, tapi kita langsung ganti lagi. Untuk memenuhi target jumlah bibit yang diperlukan. Kadang kita mengganti bibit yang mati di penangkaran sampai 4x baru hidup,” papar Anto.

Lanjut dia, “Sekarang ini kita juga mencoba membuat bibit dari biji mangrove. Dan hasilnya bibit tersebut tumbuh bagus di lokasi penangkaran. Perusahaan menyuruh untuk terus membuat bibit. Karena nanti pasti akan digunakan utk Penanaman di lokasi pantai. Dan pasti akan banyak pihak yang memerlukan bibit mangrove ini.”

Anto menerangkan, bibit yang lalu ini dari bibit pemeliharaan di penangkaran sekitar 30 hari setelah bibit sehat baru kita angkat ke lokasi/Lokasi dipesisir laut dekat dengan lokasi penanaman, disitu bibit juga kita pelihara. Nanti kita pilih yang subur dan tingginya kita angkat keperahu bawa kelokasi penanaman, yang kurang sehat yang daun nya layu kita rawat kembali.

Soal teknik cara penanaman manggrove ini, lanjut Anto, dilakukan penangkaran bibit.

“Jadi kita mengadakan penangkaran ini ada beberapa tempat penangkaran. Setelah bibit di penangkaran itu sudah subur kita mobilisasi kepenampungan dipesisir pantai kasih bernaung disitu kadang sampai satu minggu baru kita angkut di kapal untuk ditanam di lokasi penanaman. Yang layu dan kurang bagus kita rawat kembali di penangkaran,” jelasnya.

Anto selaku Pengawas dari Kontraktor memaparkan bahwa, “kita memiliki beberapa kelompok masing masing ambil jatah sendiri sendiri itu yang bagian penanaman sendiri bagian langsiran sendiri2 dan sebelum ditanam dibuatkan penampungan. setelah kami Pilih bibit yang sehat dan segar baru kita turunkan kelapangan.”

“Jadi itu penanaman dilapangan ikut aturan itu 1 hektarnya kita tanami sampai 3.300 pokok perhektarnya, ukuran jarak tanamannya itu 3×1 meter jadi sudah itu kami pasang Ajir baru batang pokok bibit itu kita ikat pakai tali rafia sehingga tidak terombang ambing serta antisipasi ombak supaya selamat,” tuturnya.

Sedangkan Kepala Desa (Kades) Tanjung Harapan menilai penanaman mangrove sudah dilaksanakan di wilayahnya.

“Itu sudah memang dilakukan penanaman Mangrove saya melihat langsung saat di penangkaran sebelum ditanam bahkan saat penanaman saya melihat dan menyaksikan langsung. Salah satunya di wilayah saya Desa Tanjung Harapan,” ujar Kades.

Lanjut Kades, “Kami warga sebatik timur bangga terhadap program Gubernur adanya penanaman Mangrove sebagai solusi dan bertahap untuk mengatasi Abrasi Pantai yang mengancam Rumah warga tenggelam.”

Untuk itu ia berharap agar Program Rehabilitasi penanaman Mangrove tetap dilanjutkan. “Jangan hanya sekali kalau perlu program ini tetap berkesinambungan. Manfaatnya banyak Bisa dijadikan sebagai IKON Wisata Mangrove dan menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga dapat mengurangi panas,” pungkasnya.

Sementara itu, Rustam mandor kelompok tanam yang membawahi beberapa kelompok menjelaskan,

“Tinggi bibit yang kami tanam memang sudah disiapkan oleh pihak CV. Tengkawang Sari sebagai penyedia bibit segar, tinggi mangrove itu standar 30 cm ada juga yang lebih. Dan sudah Perifikasi dan memang bibit segar,” katanya.

Rustam menjelaskan, “Pertama sebelum Penanaman lokasi tempat penanaman bibit ditentukan dan sudah dipasang tali agar kita menanam dengan teratur dan Rapi, ukuran dan jarak saat penanaman uda disiapkan. Tehnik penanaman pertama masing masing kelompok siapkan Perahu sebagai tranportasi mengangkut bibit dan Ajir.

Rustam memgaku satu kelompok itu kadang 4-5 orang, satu hektar terkadang 3 hari baru selesai. “Kalau lebih 5 orang bisa dapat satu hektar dalam 2 hari. Penanaman mangrove ini Susah, tidak gampang semudah apa yang kita bayangkan,kadang kaki tengelam sampai paha dewasa. Caranya ada yang duluan tanam ajir tersendiri, penanam bibit sekaligus mengikat agar bibit yang ditanam tidak goyang saat terjadi gelombang,” paparnya seraya menyebut para pekerja penanam Mangrove merupakan orang setempat.

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *