Polisi, Dakwah, Agama dan Negara dalam bingkai psikologi kebangsaan

  • Whatsapp

Ahmad Razak
Dosen Psikologi UNM dan Da’i IMMIM

MITRAPOL.com, Sulsel – Indonesia adalah sebuah negara yang kaya raya, ia memiliki beraneka ragam suku, budaya, bahasa, dan agama. Jumlah penduduknya telah mencapai 265 juta jiwa terbesar keempat penduduknya di dunia setelah China, India dan Amereika Serikat. Penduduk indonesia mayoritas beragama islam sebanyak 207 juta atau sekitar 87,2%. Selebihnya penduduknya menganut agama kristen, hindu, budha dan konghucu. Meskipun demikian indonesia bukanlah negara agama (Islam), karena negara tidak diatur berdasarkan ideologi agama (Islam). Indonesia juga bukanlah negara sekuler yang memisahkan antrara agama dan negara. Kenyataannya agama-agama di Indonesia tetap diakui dan dilindungi hak-haknya.

Secara historis negara dan agama di Indonesia tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa dibenturkan, karena keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Dalam banyak hal agama Islam sebagai agama yang mayoritas di negeri ini telah banyak memberikan kontribusi terhadap penegakan bangsa. Berawal dari keterlibatan kerajaan-kerajaan Islam dan ulama islam dinusantara yang gigih melawan penjajah, seperti: sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf Al makassary, Pengeran diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cuk Nyak Din dan masih banyak lagi. Pada tahun 1912 lahir organisasi Muhammadiyyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan Sang pencerah yang berhasil membangkitkan kesadaran pendidikan dan perjuangan bangsa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi Muhammadiyah telah mendirikan lembaga pendidikan dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Muhammadiyah telah melahirkan banyak tokoh-tokoh nasional yang sangat berkualitas. Ada pula sosok Ulama Kharismatik Hadratu Syekh KH. Hasyim Ay’ari pendiri Nahdatul Ulama 1926. Nahdatul Ulama telah mendirikan banyak pesantren dan melahirkan ulama, intelektual. Tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa, beliau mengumandangkan resolusi jihad pada tanggal 22 oktober 1945 yang berhasil membangkitkan semangat juang Bung Tomo yang kemudian dikenal dengan pertempuran 10 November 1945. Lahirnya pancasila dan UUD 1945 sebagai paying bagi seluruh rakyat Indonesia yang sangat plural dan majemuk tidak terlepas dari kontribusi nyata dari para ulama seperti KHA. Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkar, dan KH. Agus Salim yang terlibat dalam tim Sembilan perumus dasar Negara tersebut.

Negara Indonesia telah mengakomodir kebutuhan warganya dalam menjalankan dan mengajarkan agamanya masing-masing kepada para pemeluknya. Bahkan setiap warga dijamin hak-haknya dalam memeluk agama dan kepercayaan yang ia yakini. Tetapi Negara juga memiliki wewenang untuk terlibat dalam menjaga keamanan beragama maupun keamanan dan kedaulatan Negara.

Islam sebagai agama mayoritas, dikenal sebagai agama dakwah yang wajib disampaikan kepada para pemeluknya terkait tentang perintah dan larangan agama dalam berbagai dimensi kehidupan. Sama halnya dengan Agama Kristen yang dikenal sebagai agama missi. Para ulama, muballigh, dai, ustad, pastor, pendeta, dan missionaris dapat menjalankan tugasnya dalam mendakwahkan agama dan memberikan pelayanan. Tetapi dakwah dan missi yang diembang sedapat mungkin dapat memelihara toleransi, dan tidak dijadikan sebagai alat provokasi untuk kepentingan kelompok ataupun golongan. Oleh karena itu disinilah letak kehadiran Negara dalam menjaga stabilitas keberagamaan.

Polisi sebagai alat Negara, memiliki kewajiban untuk menjaga stabilitas dan keamanan bangsa. Polisi juga memiliki peranan untuk melindungi aktivitas ibadah atau pelaksanaan agama bagi penganutnya. Sehingga kehadiran polisi dalam berbagai event keagamaan tidak dapat dianggap membatasi gerakan dakwah, tetapi justru kehadiran polisi menjadi suatu kebutuhan bersama dalam rangka menjaga stabilitas, keamanan, ketertiban, dan kenyamanan dalam beribadah.

Disinilah letak pentingnya membangun psikologi kebangsaan bagi seluruh elemen masyarakat, bahwa perbedaan (differences) dan kemajemukan adalah suatu sunnatullah yang harus disadari untuk membina sebuah sinergitas dan kolektivitas bangsa dengan semangat bhineka tunggal ika. Kesadaran kolektif (Collective Conciousness) menjadi kunci utama dalam mengontrol persepsi, sikap,emosi, dan perilaku dari desakan instink, ambisi dan ego masing-masing. Polisi, dakwah, agama, dan Negara adalah satu kesatuan yang harus terus bersama, seirama dalam dinamika kehidupan bangsa.

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *