Bisnis kopi berujung pidana, saksi ahli berdebat dengan hakim dan pengacara

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Sidang perkara penggelapan penipuan atas nama terdakwa Dr Benny Hermanto  di PN Medan, kembali digelar dengan agenda mendengar keterangan saksi ahli hukum pidana Prof. Edi Warman, Selasa (18/2/2020).

Saksi Edi Warman, selaku ahli hukum pidana mendapat pertanyaan cukup gencar dari Majelis Hakim diketuai Tengku Oyong dan tim Penasihat Hukum (PH) terdakwa,  Muara Karta Simatupang dan Hotmanrudur Siringoringo.

Persidangan yang digelar di ruang Cakra-7 itu, sempat sedikit memanas, sebab keterangan yang disampaikan ahli yang dihadirkan JPU Joice V Sinaga dan Martha Sihombing ini, kurang sependapat dengan majelis hakim dan tim pengacara.

Silang pendapat seputar utang piutang yang menjadi perkara pidana. Saksi ahli menilai bisa saja utang piutang menjadi perkara pidana, apabila sengaja melakukan kebohongan dan tak membayar.

Sedikit berbeda dengan pendapat tim PH terdakwa yang masuk ke pokok perkara. Kuasa hukum menilai perkara kliennya adalah perdata. Sebab sudah dibayar sebagian dan sebagian lagi dipending pembayarannya.

Usai persidangan, penasihat hukum terdakwa, Muara Karta Simatupang juga sempat menjelaskan jika perkara yang menjerat kliennya adalah perkara perdata, bukan pidana, sebab terkait utang piutang dalam kerjasama bisnis kopi.

“Perkara ini jelas ranah perdata utang piutang. Tadi ahli tidak mampu mejelaskan. Dari 7 PO dan 15 faktur pengiriman kopi, dua diantaranya sudah dibayar. Sedangkan lainnya masih dipending. Ini jelas ranah perdata,” jelasnya kepada sejumlah wartawan, usai sidang.

Sesuai dakwaan, saksi korban Suryo Pranoto dan terdakwa Benny Hermanto sudah lama menjalin kerjasama bisnis. Terakhir bisnis jualbeli kopi dimulai tahun 2016.

Setiap perusahaan terdakwa PT SON memesan kopi, langsung diantar oleh perusahaan saksi korban PT OCI. sedangkan pembayarannya dalam waktu 60 hari. Namun belakangan, meski sudah enam bulan belum.juga bayar, terdawa hanya menggunakan Purchase Order (PO).

Kacaunya, belakangan terdakwa tidak juga melunasi utangnya. Akibatnya, saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp. 356.939.000.

Dalam perkara ini terdakwa diancam dengan pasal 372 dan 378 KUHpidana. (ZH)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *