Soal kasus pencurian aset gereja IRC, Pdt. Asaf: Mohon penegakan hukum dan keadilan

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Pdt. Asaf Tunggul Marpaung  memohon kepada Kapolda Sumut dan Kapolresta Medan untuk menuntaskan kasus pencurian aset gereja IRC jalan Setia Budi Medan, yang menjadikan dirinya sebagai terlapor/terperiksa sejak tahun 2018.

Permohonan disampaikan oleh tim pengacaranya Low Office Targetz,  Tribrata Hutauruk, Hasanuddin Batubara dan Ganis Wiriatno melalui surat nomor 06/LP/LT/II/2020, tertanggal 24 Pebruari 2020, yang ditujukan kepada Kapolresta Medan Up. Kasat Reskrim.

Hal yang dimohonkan, Penghentian Penyidikan (SP3) atas nama terlapor/ terperiksa Pdt. Asaf Tunggul Marpaung, terkait pencurian dan pengrusakan terhadap aset Gereja IRC jalan Setia Budi Medan.

Munculnya perkara ini, berdasar pada laporan No. LP/771/K/IV/2018/SPKT Restabes Medan, tanggal 19 April 2018, dengan pelapor atas nama Guntur Togap H. Marbun SE, Msi.

Disebutkan, penghentian penyidikan perkara ini, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan prinsip penyelidikan/penyidikan yaitu profesional, prosedural, transparan, akuntabel, efisien demi kepastian hukum untuk terlapor.

Selain itu, tim pengacara juga melayangkan tiga surat kepada Kapolda Sumut, Up. Direktur Reskrimum, terkait laporan Pdt. Asaf Tunggul Marpaung tentang pencemaran nama baik, pengrusakan dan penggelapan dalam jabatan.

“Surat pertama ke Polesta Medan, memohon SP3 atasnama terlapor Pdt. Asaf Tunggul Marpaung. Tiga surat lagi meminta Kapolda Sumut untuk menindaklanjuti laporan Pdt. Asaf Tunggul Marpaung terkait perkara pencemaran nama baik, pengrusakan dan penggelapan dalam jabatan,” ungkap Tribrata.

Sementara Pdt. Asaf Tunggul Marpaung menjelaskan, dirinya telah diperiksa penyidik Polresta Medan, dan telah memperlihatkan alat-alat bukti dan telah membawa saksi saat penyidikan.

“Hasil pemeriksaan itu, tidak ditemukan fakta-fakta pidana pencurian, seperti yang dilaporkan pelapor,” ujar Marpaung.

Lebih lanjut dikatakan, pihaknya menduga munculnya perkara laporan ini, terkait dengan sengketa perdata  kepemilikan sebagian tanah gereja dan perkara itu diproses tingkat kasasi.

“Sengketa itu udah tingkat kasasi. Seharusnya ditunggu saja putusan MA,” jelas Pdt. Marpaung kepada awak media di Medan, Senin (24/2/2020).

Ditambahkan, Pelapor termasuk bukan jemaat gereja sejak 2015. Belakangan tahun 2018, dia melaporkan Pdt. Marpaung ke polisian.

“Istrinya yang aktif sebagai bendahara pembangunan gereja, sedang pelapor sudah tidak aktif,” ujar Marpaung.

(ZH)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *