2020, Kaltara dapat kuota produksi Batu Bara10,5 Juta Ton

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Kaltara – Provinsi Kaltara ditarget pemerintah memproduksi batu bara sebesar 10,5 juta ton tahun 2020 ini. Kuota produksi ini jauh meningkat dibanding kuota produksi tahun 2019, sebesar 6,2 juta ton.
Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie mengungkapkan, kenaikan kuota tersebut sepenuhnya menjadi kebijakan pemerintah. Walau sejatinya, Pemprov Kaltara sempat mengusulkan penambahan kuota produksi sebesar 13 juta ton di akhir tahun 2019 kemarin.

“Berapa pun kuota yang diberikan kita syukuri. Dalam hal ini, dari usulan, kita diberi 10,5 juta ton ada 2020. Ini sudah jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu,” ujarnya, Senin (24/2).

Kuota 10,5 juta ton tersebut, jelas Irianto yang didampingi Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltara Ferdy Manurun Tanduklangi, akan diberikan kepada 13 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang ada di Kaltara. Dengan rincian, 4 perusahaan di Bulungan, 3 perusahaan di Malinau, 4 perusahaan di Nunukan, dan 2 perusahaan di Tana Tidung. (selengkapnya lihat grafis)

Sementara itu, ditambahkan Irianto, sesuai laporan Seksi Konservasi dan Produksi Mineral Dinas ESDM Provinsi Kaltara, produksi batu bara sejak tahun 2017 sampai tahun 2019 selalu melampaui kuota atau target, yaitu di atas 10 juta ton per tahun.

“Misal, pada tahun 2019 Kaltara mendapatkan kuota 6,25 juta ton. Sedangkan produksi kita mencapai 11.494 juta ton,” tuturnya.

Gubernur pun mengingatkan 13 perusahaan yang kebagian kuota, memenuhi target yang telah ditetapkan kepadanya masing-masing. Jika tidak, maka akan diberi sanksi oleh pemprov sebagai pengawas di daerah.
Gubernur berharap kenaikan kuota batu bara tahun ini makin menggairahkan pertumbuhan ekonomi Kaltara. Sebab sektor pertambangan khususnya batu bara menjadi penyumbang terbesar dalam struktur pertumbuhan ekonomi provinsi ini. Sellain itu, kenaikan produksi tutur Gubernur berkolerasi dengan nasib karyawan, penjualan, dan sektor pendukung lainnya.

Kenaikan produksi juga diyakini Irianto bisa menjadi momentum untuk merebut kembali kepercayaan buyer di luar negeri, khususnya di negara-negara ASEAN dan ASIA Timur. “Kalau ke China, kecenderungannya akan menurun karena wabah Coronavirus,” tuturnya.

 

 

Red/Hms

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *