Selamatkan Bangsa dari ancaman COVID-19, Bersama Kita Bisa

  • Whatsapp

Oleh :
Ahmad Razak
Dosen Psikologi UNM,
(Ketua Asosiasi Psikologi Islam Sul-sel)

MITRAPOL.com, Makassar – Indonesia kini sedang berada dalam masa darurat COVID-19. Data terbaru yang dirilis dari media CNN Indonesia pada tanggal 19 Maret 2019 menunjukan bahwa sudah terdapat 309 kasus Corona di Indonesia, dengan jumlah pasien yang meninggal sebanyak 25 dan 15 yang sembuh. Kejadian ini sudah dapat digolongkan dalam kejadian luar biasa. Oleh karena itu, negara terus berupaya menekan jumlah penderita dengan memberlakukan beberapa kebijakan diantaranya meliburkan institusi-institusi pendidikan dan beberapa instansi disarankan untuk melakukan aktivitas kantor dari rumah sebagai bentuk penanganan terhadap kasus Corona.
.
Ditengah gencarnya usaha pemerintah untuk menekan persebaran COVID-19, masalah lain yang timbul adalah kurangnya kesadaran sebahagian masyarakat akan pentingnya menjaga diri sendiri.

Cara berpikir yang cenderung bias juga masih terjadi pada sebahagian masyarakat. Kemungkinan berasumsi bahwa virus COVID-19 hanya akan menyerang orang lain tapi tidak diri meraka. Cara berpikir tersebut yang dalam istilah psikologis dikenal dengan optimism bias, yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa kejadian buruk kecil kemungkinan untuk dialami diri sendiri sedangkan kejadian positif lebih mungkin dialami diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. Secara sederhana, istilah optimism bias umumnya digambarkan sebagai tingkat optimisme yang tidak realistis.

Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi akan sangat memengaruhi individu dalam proses pengambilan keputusan. Individu cenderung tidak akan mempertimbangakn resiko-resiko dari tindakan yang mereka lakukan.Tindakan-tindakan beresiko tersebut yang pada akhirnya akan bisa membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.

Pada kasus penyebaran virus COVID-19 ini, individu yang mangalami optimism bias akan mengabaikan instruksi kebijakan yang disampaikan oleh pemerintah terkait social distancing dan pengurangan aktivitas luar rumah.

Fenomena ijtima’ Dunia zona Asia di Kabupaten Gowa yang diselenggarakan oleh organisasi Islam tertentu adalah menjadi satu contoh akan hal tersebut, mereka dengan sangat berani melakukan event meskipun tidak mendapatkan izin dari kapolda Sulawesi-selatan, dan pemerintah kabupaten Gowa. Kita patut bersyukur karena kesigapan, komunikasi dan kemampuan negosiasi yang sangat luar biasa pemerintah daerah, bapak kapolda Sulawesi-selatan akhirnya event tersebut berhasil diantisipasi.

Kita harus menyadari bahwa upaya pencegahan covid-19 adalah tanggung jawab kita semua, seluruh komponen bangsa mesti bersatu dan bekerjasama untuk menyelamatkan bangsa dan seluruh masyarakat dari ancaman virus yang mematikan itu. Hal sederhana yang sangat mungkin dilakukan oleh tiap individu adalah menerapkan social distancing dengan individu lain, mengurangi aktivitas di luar rumah, dan menghindari kerumunan. Hal ini akan meminimalisir kontak dengan individu lain yang pada akhirnya akan meminimalisir penyebaran virus COVID-19.

Saat ini, masing-masing dari kita memiliki peran yang sangat besar untuk mencegah penyebaran COVID-19. Cara berpikir kita yang selama ini digunakan sebaiknya diubah dan mulai mematuhi imbauan pemerintah adalah cara yang paling mungkin untuk dilakukan individu. Kecendrungan melakukan pengabaian (denial) terhadap kejadian yang yang dihadapi saat ini akan beresiko negatif. Kejadian di Italia dan beberapa negara lain cukup menjadi pelajaran bahwa denial terhadap menyebarnya wabah penyakit Corona dapat menimbulkan dampak negatif yang begitu besar. Sekarangpun sudah sangat dirasakan dampaknya, dimana harga sembako sudah mulai mahal, kurs rupiah semakin melemah, dan berbagai dampak social lainnya.

Salah satu pepatah klasik yang patut kita sadari adalah “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” Artinya bahwa jika kita semua bersatu dalam memerangi ancaman covid sesuai dengan peran kita masing-masing yakin dan percaya penyebaran covid-19 dapat kita hentikan. Hal ini sesuai juga dengan perintah al-Qur’an agar kita bersatu, seperti yang difirmankan “ dan berpegang teguhla kalian kepada tali agama Allah dan jangan bercerai berai (QS. Ali Imran: 103). Yakin dan percaya dengan segala potensi yang kita miliki dan seluruh komponen bangsa, pemerintah dan masyarakat jika bersatu dalam upaya penanganan dan pencegahan covid-19, bangsa Indonesia akan terselamatkan.

 

 

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *