Alat kesehatan dan rapid test bantuan Kemenkes tiba di di Lanud Silas Papare Sentani

  • Whatsapp

MITRAPOL.com Jayapura – Sebanyak 2,3 Ton alat kesehatan bantuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tiba di Lanud Silas Papare Sentani, yang berisi 7200 alat test cepat covid-19 (Rapid Test), masker dan Alkes lainnya, untuk penanganan kasus Covid-19.

Juru bicara Satgas Penanggulangan Covid-19 Papua, Dr. Silwanus Sumule membenarkan alat Rapid test yang di terimanya merupakan bantuan dari kementrian Kesehatan.

“Pada hari ini atas dukungan dari kementrian kesehatan kita sudah mendapatkan 7200 Rapid Test yang sudah tiba di jayapura, dan akan segera kami distribusikan kepada kabupaten/kota sesuai dengan prioritas, sementara di proses dan mudah-mudahan dalam satu dua hari kedepan sudah bisa kita distribusikan,”kata Sumule kepada Redaksi Mitrapol, Selasa, (31/03/2020)

Selain Rapid test Sumule mengaku pihaknya juga menerima bantuan Alat Kesehatan, APD dan Masker, “Ada juga tambahan masker biasa dan masker N-95, APD dan alkes lainnya,” katanya.

Akan tetapi Sumule mengungkapkan jika saat ini Alkes yang tersedia masih kurang.

“Ini belum cukup ya dan kami juga mengerti, karena memang ketersediaan di tingkat Nasional juga terbatas, Tapi kami akan terus berupaya untuk memenuhi stock kita di papua,” jelasnya.

Sebab itu Sumule terus mengimbau agar masyarakat ikut membantu pemerintah untuk memutuskan rantai penyebaran corona virus ini dengan mentaati intruksi kesehatan yang telah di sampaikan pemerintah. Seperti tinggal dirumah, rajin cuci tangan, dan tidak melakukan kontak dengan orang lain.

Sumule juga memberikan instruksi, “khususnya kepada orang tua kita, tete, nene, yang usia lanjut agar tetap mengisolasikan diri dirumah termasuk juga kepada warga yang memiliki riwayat penyakit penyerta, seperti kencing manis, paru-paru, infeksi kronis dan penyakit jantung, agar tetap di rumah, mengapa karena mereka memiliki daya tahan tubuh yang lemah dan sangat mudah terpapar oleh virus ini, lebih banyak di rumah, dan tetap minum obat,” jelasnya.

Dirinya pun menyarankan kepada mereka yang berstatus ODP agar serius mengisolasi diri selama 28 hari.

“Setelah kami diskusikan dengan teman-teman di posko kesehatan kami putuskan bahwa, secara aturan sesuai dengan literatur yang ada, pemantauan terhadap ODP ini bukan hanya 14 hari tapi 28 hari.

“Dijelaskan Dokter sumule, Dibanyak negara mereka melakukan pemantauan selama 28 hari, “jadi apabila masyarakat sudah melakukan isolasi selama 14 hari mohon jangan berpuas diri, tambah lagi 14 hari dan kalau selama masa isolasi itu ada keluhan segera menghubungi petugas kesehatan,” ucapnya

 

(Adm)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *