Luput dari perhatian pemerintah, Sarniah hidup tanpa jari tangan dan kaki

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang – Sarniah (50) warga Kp. Pasir Makmur Desa Pasir Kadu, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang Banten, salah satu potret warga miskin di Provinsi Banten yang sama sekali tidak tersentuh perhatian pemerintah.

Tinggal bersama keponakannya yang masih berusia kurang lebih lima tahun, Sarniah hidup di bawah garis kemiskinan dan dengan keadaan kondisi tangan tanpa jari dan kaki tanpa jari tetap harus mencari nafkah buat kehidupannya.

Tidak terbayang, dengan kondisi tangan dan kaki yang cacat harus mencari nafkahnya sehari-hari, harus banting tulang untuk mencukupi kehidupannya.

Rumah yang ditinggalinya pun tak layak disebut rumah, lebih pas sebagai kandang Kambing, dengan ukuran kuran lebih 2X5 meter rumah berdinding anyaman bambu dan hampir roboh ini telah lebih 50 tahun ia tempati.

Sarniah mengaku, selama ini dirinya tidak pernah mengenal apa yang namanya bantuan pemerintah baik beras pra sejahtera (Rastra) atau Raskin belum pernah dia nikmati, apalagi jenis bantuan pemerintah lainnya, seperti PKH, BLSM atau jenis bantuan lainnya tidak pernah dia dapatkan.

“Orang miskin seperti saya ini tidak ada yang membutuhkan, saat ini memang masih punya tenaga, tetapi kalau sudah sakit-sakitan, saya takut tidak ada orang yang mau mengurus, namun saya pasrahkan saja pada Tuhan YME,” ujar Sarniah. Rabu (8/4).

Saat hingar bingar pesta demokrasi yang lalu, Sarniah bahkan sama sekali tak pernah dilirik oleh Partai Politik manapun atau Caleg apalagi Capres yang sibuk mencari suara, terangnya

Tambah Sarniah, Politik tidak ada pengaruh bagi kehidupannya, yang dia takutkan saat ini adalah usianya yang semakin senja dan jatuh sakit, tentunya dia tidak bisa mengais rezeki lagi dan ditakutkan tidak ada orang peduli untuk merawatnya.

Diakuinya bahwa yang dia harapkan dan selalu dia minta saat berdoa adalah agar selalu diberi kesehatan, atau pun apabila Tuhan akan mencabut nyawanya, janganlah diberi sakit terlebih dahulu agar tidak ada orang yang ikut susah dengan kondisinya.

“Saya sudah terbiasa seperti ini, harapan untuk memperbaiki kehidupan sudah punah, apalagi harus minta-minta bantuan dari pemerintah, kalaupun ada perhatian dari pemerintah, kenapa tidak diberikan sejak dari dulu. Hanya satu permintaan saya kepada Tuhan adalah kesehatan dan tidak ingin menyusahkan orang lain, biarlah miskin dan menanggung beban hidup seorang diri,” pungkasnya dengan tatapan mata yang kosong.

 

 

Reporter : R. Siregar

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *