Program BPNT di Pandeglang, diduga memperkaya Suplier

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Pandeglang – Program Sembako merupakan pengembangan dari program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai program transformasi bantuan pangan untuk memastikan program menjadi lebih tepat sasaran, tepat jumlah, tepat waktu, tepat harga, tepat kualitas,dan tepat administrasi.

Program Sembako diharapkan dapat memberikan pilihan kepada penerima manfaat dalam memilih jenis, kualitas, harga dan tempat membeli bahan pangan.

Untuk program Sembako, pemerintah telah meningkatkan nilai bantuan dan memperluas jenis komoditas yang dapat dibeli sehingga tidak hanya berupa beras dan telur seperti pada program BPNT, namun juga komoditas lainnya yang mengandung sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati maupun vitamin dan mineral sebagai upaya dari Pemerintah untuk memberikan akses Keluarga Penerima Manfaat (KPM) terhadap bahan pokok dengan kandungan gizi lainnya.

Dari Prinsip 6T yang menjadi perhatian penuh masyarakat yaitu Tepat Harga,Tepat Sasaran dan Tepat Kualitas.Namun,sangat berbeda ketika ditemukan dilapangan bahwa yang dialami oleh para KPM dikecamatan Carita, diduga tidak tepat harga.

Hal ini diperkuat dengan apa yang diterima oleh KPM dari e-warung yang ditunjuk untuk kecamatan Carita,Kabupaten Pandeglang Banten,tidak sesuai dengan saldo yang ada dengan apa yang didapatkan.

Informasi yang dapat dihimpun oleh Mitrapol.com dari KPM wilayah Kecamatan Carita bahwa yang diterima hanya beras 10 Kg ,telor 1 Kg, ayam 1 Kg, dan tahu ataupun kadang digantikan tempe.

Kami Masyarakat (KPM) hanya sebatas mengambil ke e-warung yang ditunjuk, dan harga satuannya kami tidak pernah mengetahuinya.

Jika diperhitungkan harga pasaran untuk beras yang kami terima hanya perkilonya harga Rp.10.000 x10 Kg jumlahnya Rp.100.000 Telur 1 Kg harga pasaran Rp. 25.000, dan tahu ataupun tempe jika diharga pasar para KPM Rp.10.000,dan ayam 1 kg pasaran Rp.30.000, tegasnya

Dari jumlah penghitungan keseluruhan yang diterima oleh KPM adalah Rp.165.000, jika dicermati dengan saldo yang ada KKS jumlahnya Rp. 200.000, berarti sangat jelas bahwa jumlah uang para KPM sejumlah Rp.35.000 hilang entah kemana, tuturnya.

Menurut Iskak salah satu pemilik Agen (e-warong) di Wilayah Kecamatan Carita menjelaskan ke Mitrapol.com saat disambangi di warung tempat usahanya, bahwa ketetapan harga bahan pangan yang diterima oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) itu bukan harga dari Agen melainkan harga dari Suplier. Selasa (5/4).

“Harga tetapnya dari Supplier. Agen itu hanya sebatas dijadikan tempat penyimpanan bahan pangan saja ataupun sebagai pendistribusian. Agen hanya menerima jasa dari perusahaan sebesar 8.000 per KPM, tidak ada tambahan lain, hanya itu.

Dengan apa yang dirasakan oleh KPM dan keterangan dari e-warung sangat jelas dan patut diduga adanya monopoli yang dilakukan oleh PT. Aam Prima Artha sebagai Suplier kepada ratusan agen yang tersebar di 21 Kecamatan di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, Pasalnya MoU yang dilakukan oleh PT. Aam Prima Artha dengan Agen (e-warong) terkesan terlalu memberatkan Keluarga Penerima Manfaat program sembako.

Menurut data dalam Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dari By Name By Address (BNBA), untuk 35 Kecamatan se-Kabupaten Pandeglang penerima program Bansos Pangan (Sembako) pada tahun 2020 bulan Januari sebanyak 104.819 KPM, Februari 104.828 KPM , Maret 104.827 KPM dan April 104.678 KPM.

Diketahui pada bulan April saja berjumlah 104.678 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), bila dinominalkan dalam bentuk tunai, totalnya mencapai Rp 20.936.600.000,-.

Dari jumlah uang KPM dalam hitungan pasar yang Rp.35.000 sangat jelas adalah upaya pihak para pengusaha (Suplier) dalam meraih keuntungan tanpa melihat ketentuan prinsip program sembako yakni 6T (Tepat Sasaran, Tepat Jumlah, Tepat Waktu, Tepat Harga, Tepat Kualitas, dan Tepat Administrasi).

 

 

Tim

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *