Perkara bisnis Kopi Kok Tong, berujung vonis tanpa pidana

  • Whatsapp

MITRAPOL.com, Medan – Irawan alias Asiong (57), yang dikenal sebagai  pengusaha kopi Kok Tong, divonis onslag oleh majelis hakim PN Medan, karena tidak terbukti ada unsur pidana seperti yang tertuang dalam tuntutan dan dakwaan jaksa.

Menurut hakim ketua Erintuah Damanik dalam amar putusannya yang dibacakan dalam persidangan teleconfence, Rabu (13/5/2020), tidak ada perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa dalam kerjasama bisnis kopi dengan saksi korban.

“Kami tidak sependapat dengan jaksa penuntut, sebab perkara ini murni perdata,” ujar Erintuah dalam amar putusannya.

Putusan majelis hakim berbeda dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Elvina Elisabeth yang menuntut terdakwa 1,5 tahun penjara, karena terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 378 KUHPidana, yakni terbukti melakukan penipuan terhadap Hariayanto Law (saksi korban).

Hakim ketua Erintuah Damanik  menjelaskan, bisnis kopi antara terdakwa dan saksi korban tidak ada perbuatan pidananya. Artinya, perbuatan ada, tapi bukan pidana (onslag).

“Perkara ini ada gugatan perdatanya, yang telah mencapai putusan,” jelas Erintuah saat dikonfirmasi awak media, usai sidang.

Dalam perkara perdata itu, papar Erintuah, terdakwa telah dihukum secara perdata, sehingga tidak mungkin dihukum secara pidana.

“Perkara perdatanya bukan saya hakimnya. Cuma saya dengar terdakwa telah dihukum secara perdata.  Tidak mungkin lagi dihukum secara pidana. Itu artinya, perkara ini murni perdata,” jelas Erintuah.

Perlu diketahui isi dakwaan, awalnya 25 November 2016, saksi korban Harianto Law bersama Francnata Goh, Irwandi, dan terdakwa bertemu di salah satu warung di Komplek Multatuli. Nah, muncul kesepakatan  kerjasama membuka Warung Kopi Kok Tong di Jalan Sutomo, Binjai Utara.

Keuntungan dari hasil warung Kok Tong  akan dibagi 50 persen kepada saksi korban, sedangkan modal awal, sesuai kesepakatan, akan dikembalikan utuh oleh terdakwa.

Lebih lanjut, 28 November 2016 saksi korban memberikan modal awal Rp700 juta kepada terdakwa untuk sewa tempat. Kemudian, terdakwa kembali meminta uang sebesar Rp400 juta untuk beli meja, kursi dan peralatan lainnya.

Saksi korban memberikan uang tersebut pada tanggal 19 Desember 2016 dengan cara transfer dari Bank Danamon ke Bank BCA atas nama Irawan.

Saksi korban merasa yakin, sebab terdakwa merupakan pengusaha kopi Kok Tong di Medan dan terdakwa juga pemegang lisensi untuk kopi Kok Tong yang berpusat di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Ternyata, terdakwa tidak jadi membuka kedai Kopi Kok Tong di Jalan Sutomo Binjai Utara, tapi membuka kedai kopi Kok Tong  di Komplek Great Wall, Jalan Ahmad Yani Binjai Utara.

Lalu saksi korban meminta kepada terdakwa agar membagi hasil usaha, . namun terdakwa tak berkenan dan menjelaskan, usaha kedai kopi itu  tidak menggunakan uang  saksi korban.

Ujungnya, saksi korban meminta modal yang telah diberikan kepada terdakwa sebesar Rp1,1 miliar, nanun terdakwa tidak berkenan, sehingga perkaranya dilaporkan ke polisi yang kemudian bergulir di pengadilan.

(ZH)

Loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *